Penjara Guantanamo adalah nama fasilitas penjara pada pangkalan angkatan laut Amerika Serikat yang letaknya berada di teluk Guantanamo, Kuba. Pada tahun 2002, penjara Guantanamo mulai diresmikan untuk menahan para tahanan yang dipersepsikan oleh Amerika Serikat sebagai tetoris dan para pengikut Al-Qaeda. Amerika Serikat mendapatkan ijin dari pemerintah Kuba untuk “menyewa” teluk Guantanamo pada tahun 1903.

Seiring pangkalan angkatan laut beroperasi, kedua negara terus memperbaharui perjanjian tersebut. Walaupun pada masa pemerintahan Fidel Castro, perjanjian itu sempat tidak mendapatkan pengakuan. Namun, Amerika Serikat berargumen bahwa perjanjian “sewa menyewa” itu resmi dan berlandaskan hukum internasional. Akhirnya, Amerika Serikat terus mempunyai legitimasi untuk menggunakan teluk Guantanamo hingga penjara Guantanamo terbentuk dan beroperasi sampai sekarang.

Penjara Guantanamo merupakan penjara paling kejam di dunia. Para narapidana Guantanamo sering mengalami kekerasan fisik yang tidak manusiawi. Bukan hanya kekerasan fisik, kekerasan seksual melalui pemaksaan hubungan badan pun sering terjadi kepada narapidana di penjara Guantanamo. 

Hal ini terungkap dari cerita Mohamedou Ould Slahi, seorang mantan nara pidana Guantanamo, dalam bukunya dia menceritakan kengerian dari kekerasan fisik yang dilakukan oleh para penjaga kepada para narapidana.

Dia juga sempat mendapatkan paksaan untuk berhubungan badan dengan tiga wanita petugas interogator. Teknik berhubungan badan bertujuan untuk menurunkan tingkat kepercayaan diri narapidana agar memberikan informasi kepada para interogator. 

Selain itu, narapidana penjara Guantanamo tidak mendapatkan keadilan dalam putusan hukum. Bahkan, mayoritas narapidana Guantanamo langsung ditangkap tanpa melalui proses putusan dalam persidangan apakah mereka bersalah atau tidak.

Menurut pengamatan Human Right Watch (HRW) pada Juni 2008, tahanan yang masih berada di penjara Guantanamo telah berada dalam penahanan Amerika Serikat selama kurang lebih 6 tahun tanpa pernah didakwakan atas sebuah kejahatan. Para pengamat dari Human Right Watch (HRW) menyatakan bahwa ketidakjelasan status hukum bagi para tahanan merupakan pelanggaran hak asasi manusia.

Penutupan penjara Guantanamo sempat dilakukan pada masa pemerintahan Obama. ini disebabkan keberadaannya sangat mengkhawatirkan akan mencoreng "citra" Amerika Serikat di dunia internasional. Di sisi lain, keberadaan penjara Guantanamo juga selalu menimbulkan kecaman dari dalam maupun luar Amerika Serikat.

Kecaman terhadap keberadaan penjara Guantanamo muncul dari masyarakat sipil di Washington pada januari 2008. Terdapat sekitar 200 orang turut dalam aksi demonstrasi yang digerakkan oleh organisasi hak asasi manusia. Pada saat penjara Guantanamo memasuki tahun ke-6, telah terkumpul 100.000 tanda tangan warga Amerika Serikat dan lebih dari 1000 tanda tangan anggota parlemen dari seluruh dunia untuk menuntut penutupan penjara Guantanamo.

Usaha presiden Obama untuk menutup penjara Guantanamo belum sepenuhnya dilaksanakan. Hal ini dikarenakan prosesnya masih terganjal pada putusan kongres Amerika Serikat. Suara di kongres Amerika Serikat terpecah antara kalangan yang setuju dan tidak setuju dengan penutupan penjara Guantanamo.

Walaupun kebijakan penutupan penjara Guantanamo masih belum diputuskan oleh kongres Amerika Serikat. Akan tetapi, aktifitas pernjara Guantanamo mulai dihentikan dan beberapa narapidana dikembalikan ke penjara negara asalnya. Sehingga jumlah narapidana penjara Guantanamo semakin berkurang bahkan berkurang di bawah 100 orang pada Januari 2016.

Namun, kebijakan Amerika Serikat pada masa pemerintahan presiden Obama berbeda dengan masa pemerintahan presiden Trump. Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat ke-45 menggantikan presiden Obama. 

Di awal kepemimpinannya, presiden Trump memutuskan untuk membuka kembali penjara Guantanamo. Bahkan, presiden Trump akan menambah kembali jumlah narapina penjara Guantanamo tanpa memberikan kepastian hukum bagi narapidana sebelumnya yang sudah lama mendekam di penjara Guantanamo.

Keputusan presiden Trump tentu ini tentu saja menimbulkan polemik, mengingat banyak pihak-pihak yang berharap penutupan penjara Guantanamo itu dilakukan. Kecaman tersebut Khususnya berasal dari kalangan aktivis hak asasi manusia. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan besar mengapa presiden Trump tetap membuka kembali penjara Guantanamo?

Menurut studi hubungan internasional, perubahan kebijakan Amerika Serikat ini dapat dijelaskan menggunakan perspektif realisme. Perspektif realisme merupakan salah satu perspektif besar dalam studi hubungan internasional. 

Menurut Jackson dan Sorensen, perspektif realisme memandang pesimis terhadap sifat dasar manusia. Manusia dipandang sebagai serigala bagi manusia lainnya atau homo homini lupus. Pandangan perspektif realisme tentang sifat dasar manusia membuat negara berlomba-lomba untuk meningkatkan power nya demi menjaga keamanan nasional.

Security Dilemma

Baca Juga: Penjara Tua

Menurut perspektif realisme, suatu negara selalu merasa takut akan adanya ancaman dari luar. Hal ini mengarahkan kepada suatu kondisi negara sulit untuk menentukan pilihan kebijakan keamanannya. Oleh karena itu, dilema keamanan atau security dilemma  akan membuat negara terus berusaha untuk meningkatkan power nya. Hal ini dilakukan agar mampu menghadapi ancaman dari luar yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Dalam hal ini, walaupun Amerika Serikat dipersepsikan sebagai negara yang memiliki tingkat keamanan super ketat. Namun, Amerika Serikat pernah juga mengalami serangan luar biasa yang menghancurkan gedung World Trade Center pada tragedi 9/11. 

Serangan itu dilakukan Al-Qaeda dengan cara menabrak dua pesawat ke arah menara kembar World Trade Center di New York. Al-Qaeda merupakan jaringan terorisme internasional yang bertujuan untuk mengurangi pengaruh luar terhadap kepentingan islam.

Menurut perspektif realisme, kebijakan presiden Trump dalam rangka membuka kembali penjara Guantanamo merupakan bagian dari upaya untuk tetap menjaga keamanan nasional Amerika Serikat dari ancaman para terorisme internasional. Kecaman dari kalangan yang menolak kebijakan tersebut tidak akan berpengaruh pada keputusan presiden trump. Kondisi dilema keamanan yang notabene nya pernah terjadi di Amerika Serikat menimbulkan suatu kekhawatiran akan adanya serangan lagi dari kelompok terorisme internasional.

Penjara Guantanamo merupakan solusi keamanan nasional Amerika Serikat. Karena, penjara Guantanamo dipersepsikan sebagai penjara yang akan memberikan efek jera terhadap para pelaku teror. Presiden Trump memandang bahwa penutupan penjara Guantanamo merupakan kebijakan yang akan membahayakan keamanan nasional.

Self Help

Dalam perspektif realisme, hubungan satu negara dengan negara lain bersifat mandiri. Pandangan pesimis kaum realisme terhadap sifat dasar manusia menuntut satu negara untuk menentukan nasibnya sendiri. Self Help adalah keyakinan yang menuntut negara untuk mandiri dan berhati-hati dalam berinteraksi, “In international politics, the structure of the system does not permit friendship, trust, and honour”. 

Kecaman dari berbagai pihak yang menyayangkan penjara Guantanamo itu dibuka kembali tidak lantas merubah kebijakan presiden Trump. Bahkan, presiden Trump lebih memilih Amerika Serikat kehilangan “citra” sebagai negara penegak hak asasi manusia karena tidak meneruskan penutupan Guantanamo dari pada mengorbankan keamanan nasionalnya. 

Ancaman keamanan dapat terjadi kapan pun dalam situasi dunia internasional yang tidak menentu. Oleh karena itu, presiden Trump tidak ingin mengambil kebijakan yang akan melemahkan keamanan Amerika Serikat dari serangan para terorisme internasional.