2 minggu lalu · 61 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 21923_38291.jpg

Kenapa Pemuda Desa Gagal Jadi Petani?

Judul pertanyaan besar di atas lumrah diutarakan kepada publik. Selain karena memang bobot pertanyaan setingkat dengan pertanyaan-pertanyaan umum, seperti “kapan lulus kuliah?”, “kapan menikah?”, dan “sekarang kerja apa?”. Jawabannya dituntut keseriusan bukti antara ucapan dan tindakan memenuhi syarat penghidupan.

Sebagaimana seorang mahasiswa abadi yang ditinggal menikah kekasihnya, pertanyaan-pertanyaan itu merupakan momok menakutkan bagi mahasiswa menghadapi tantangan dan hambatan masa depan. Seolah-olah lari dari kenyataan menghabiskan waktu dengan kebebasan yang dimiliki, ia justru terperangkap dalam pusaran modernitas yang membawa kebersaingan dan keterasingan di dunia pekerjaan.

Identitas kota yang melekat kuat di kampus tempatnya mengenyam pendidikan sepanjang sekolah, sejak lama memang mampu mengubah cara pandangnya tentang desa seiring denyut kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik warga kota. Mahasiswa abadi yang sehari-harinya belajar memahami tingkah laku dan cara pandang orang-orang kota tak habis pikir memaknai kehidupan yang cepat berubah.

Sementara orang tua mahasiswa abadi yang berada di pelosok desa terpencil berharap besar terhadap putra sulung dapat mengangkat derajat kehidupan keluarganya. Berbekal ijazah dari perguruan tinggi unggulan, pekerjaan kantor, sebisa mungkin harus diraih anak demi kesuksesan hidup. Tak terbayang jika sawah dan ladang di kampung mesti tergarap demi kehidupan anak-cucu di kemudian hari.

Cerita di atas biasa kita temukan pada setiap sudut yang menyelenggarakan pendidikan tinggi di kota-kota. Bahkan jika makin banyak kasus serupa yang menimpa mahasiswa abadi itu publik dapati, maka pertanyaan kegagalan pemuda desa jadi petani makin baik untuk segera kita jawab dengan relevan dan aktual.

Baca Juga: Imajinasi Petani

Alhasil, tak perlu kita kebingungan mencari data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai penurunan jumlah petani muda di Indonesia. Atau nilai Tukar Pertanian (NTP) menjadi biang kerok pemuda tak minat bekerja di sawah. Cukup mengoreksi pembacaan kebutuhan pemuda menjadi petani atas kondisi lingkungan adalah logika terbalik yang ditawarkan dalam setiap perdebatan perihal kehidupan petani dewasa ini.

Konteks Pemuda Desa

Nurhady Sirimorok (2017) menyadari, bagi orang muda desa, untuk menjalani masa depan menjadi petani adalah bias kota sebagai kehidupan ideal. Hal ini tampak di berbagai produk dan pranata budaya, termasuk lembaga pendidikan yang diselenggarakan. Sehingga potensi yang tersimpan dalam diri kaum muda dalam keterlibatan tidak penting bagi masa sekarang.

Apalagi jika melihat terus mengalirnya orang-orang muda desa ke kota dalam setiap fase perkembangan hidup. Kota masih lebih menawarkan prospek ketimbang desa. Isyarat kematian petani yang diprediksi Eric Hobsbawn (sejarawan terkenal) ternyata merupakan kondisi yang harus dihadapi pada era milenial ini.

Penyiapan petani muda untuk bekerja ke sawah dan ladang di desa-desa pun menjadi relevan dikerjakan. Dalam kerangka inilah Nurhady Sirimorok ingin membawa orang muda kota kembali ke desa. Meski kerja jangka panjang untuk mengajak orang muda kembali ke desa harus mensyaratkan transformasi di desa itu sendiri.

Tantangan selanjutnya dari persoalan kegagalan pemuda desa jadi petani yang paling mengkhawatirkan adalah pemberdayaan. 

Harus diakui bahwa pemuda desa selalu mengalami ketimpangan kekuasaan, yang akhirnya menyebabkan mereka tidak dapat mengakses peluang. Ini ternyata berbanding lurus dengan pranata dan sistem masyarakat desa yang tidak menciptakan lingkungan lebih peduli dan suportif (demokratis) bagi kaum muda.

Karena itu, jika pemuda ingin sukses jadi petani di desa, hal yang perlu segera dilakukan adalah menciptakan peluang bagi kaum muda untuk mengoreksi ketimpangan kekuasaan. Prasyarat kaum muda sebagai pihak yang dapat memberi solusi, pelaku aktif, dan subjek dalam mengusahakan perubahan dan kemajuan di desa.

Pandangan mengenai pemuda belum “makan garam” pengalaman harus “dibina” perilakunya, dan senantiasa diceramahi atau tidak layak didengarkan pendapatnya seiring berjalan waktu akan dapat berubah jika potensi besar kaum muda untuk terlibat secara bermakna dalam proses transformasi sosial itu dibuka selebar-lebarnya dalam struktur sosial masyarakat desa.


Alkisah, pemuda desa yang kuliah di kota dengan menyandang status mahasiswa abadi itu tak perlu cemas memikirkan kehidupan masa depan. Apabila tanah sepetak di belakang rumah yang ditanami karet dan sawit itu dapat diganti dengan tanaman pangan berupa jagung atau umbi-umbian oleh dirinya atas kesepakatan orang tua.

Karena keinginan untuk mengubah jenis tanaman saja ia tidak diberikan pilihan oleh keluarga. Sekaligus lingkungan sekitar juga mendukung kepentingan penanaman tumbuhan komoditas berskala ekspor itu merupakan dominasi pasar bebas. Maka apa yang disebut “suara pemuda desa” dari kota ini menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima begitu saja.

Mekanisme ekonomi-politik seperti ini merupakan pemandangan yang umum kita temui di banyak desa. Kita dapat menyaksikan fenomena ini dari pemuda desa yang mengenyam pendidikan tinggi di kota. Beberapa kesaksian pemuda mengeluhkan susahnya kembali ke desa karena tidak ada lowongan pekerjaan.

Kesaksian lain yang hampir sedikit frustrasi untuk menjawab pertanyaan besar dalam tulisan ini. Di sebagian besar desa kita, suara kaum muda (apalagi mereka yang terpengaruh kebudayaan masyarakat kota) jarang didengar. Bahkan suara masyarakat secara keseluruhan sekalipun jarang didengar kecuali lewat pranata yang berwatak hierarkis (patron klien) dalam budaya politik desa kita.

Artikel Terkait