Sore itu hujan deras mengguyur lembah sebuah pegunungan. Menghancurkan harapan Devi, seorang gadis kota yang baru saja dinikahi. Arman dan Devi sengaja memilih bulan madu ke vila yang sunyi. Rencana agenda sudah mereka susun sedemikian rapi. 

Namun sejak di tengah perjalanan hingga sampai di vila, hujan mengguyur. Egoisme hujan bukan saja karena tak mau berhenti, namun arogannya tetesan air itu seakan ingin menguasai langit dengan angin dan petirnya.

Sesampainya di vila. Devi pun jadi nampak sedih. Inginnya untuk bisa berkeliling lembah mungkin harus ditunda. Semoga hujan tidak selama masa sewa vilanya. Namun Arman tak kehilangan ide untuk menghibur istrinya itu. Syahdu, jelaslah gelapnya awan dan dinginnya udara tentu suasana yang pas bagi Arman memeluk istrinya dari belakang.

“Devi, sini untuk apa kamu terus pandangi air yang runtuh?”

Arman melakukan apersepsi. Dalam ilmu pedagogik, apersepsi adalah jalan pembuka bagi seorang guru untuk memasuki materi inti. Ya, Arman adalah seorang guru Fisika. Kali ini ilmunya akan digunakan bukan untuk mengajarkan siswanya. Dia memeluk lembut istrinya tak ingin melewatkan momen.

“Mas, kalau gini caranya kita nggak jadi jalan-jalan donkz”

Devi masih belum tune in dengan kode dari suaminya. Ya, wajar. Baru kemarin mereka menikah. Kebetulan tamu undangannya sangat banyak jadi mereka pun dibuatnya lelah. Sabar, itulah sunah rosulnya. Semua akan indah pada waktunya.

“Devi, sayangku” Sapa Arman sambil berbisik di telinga Devi. Masih dalam posisi pelukan dari belakang.

“Hujan ini janganlah kau pandangi dengan rasa kecewamu. Tahukah kamu. Di balik derasnya hujan ini, nantinya kamu bisa melihat pelangi yang cantik seperti wajahmu”

Devi pun tersenyum. Gombal pasti lah. Karena cuma suaminya yang bilang dia cantik. Karena kebetulan Devi terbiasa dengan penampilan sehari-hari yang terkesan tomboy jadi nggak ada anggun-anggunnya sama sekali.

“Apa pasti, mas, kalau ada hujan itu ada pelangi? Itu cuma teori aja di buku pelajaran sekolah. Seperti yang kamu ajarkan ke siswamu”

“Oh, nah itulah. Makanya kusampaikan padamu untuk jangan terus hanya pandangi air yang turun dari langit itu. Namun lihatlah sisi lainnya. Tanpa kamu harus menunggu hujan berhenti, kamu pun bisa melihat pelangi kok”

Devi harus percaya dengan suaminya. Bagaimana pun dia adalah lulusan terbaik di kampusnya. Sekedar fenomena pelangi pun pastinya itu bukan gombalan semata. Dan tiba-tiba Arman merubah posisinya. Diputar tubuh istrinya sehingga mereka berhadapan. Tatapan mata mereka menebarkan jantung seirama namun semakin kencang.

“Devi, pernah penasaran nggak? Kenapa pelangi yang pernah kamu lihat itu cuma setengah lingkaran?”

Devi baru sadar. Iya juga ya. Bentuk pelangi dari dulu ya gitu-gitu aja. Apakah ini ada hubungannya dengan kisah Jaka Tarub. Pelangi yang konon dijadikan plosotan bagi para bidadari untuk turun dari kahyangan untuk mandi di sungai. Bisa jadi iya, karena kedua kaki pelangi itu acap kali berada di sungai. Itu yang diingat Devi, tapi tak pernah dia sekritis itu penasaran dengan bentuk pelangi.

“iya,ya, mas. Aku kok nggak pernah tanya itu ke guruku ya? Emang kenapa kok gitu ya?”

“iya, donkz. Karena kalau yang bulat satu lingkaran itu bukan pelangi tapi cintaku padamu”

Jawab Arman yang jelas nggombal maksa dan tidak ilmiah. Tapi apalah pentingnya ilmiah dalam menjelaskan cinta. Orang biokimia bilang cinta itu adalah urusan hormon di otak yang memberikan rasa tenang dan tetek bengeknya. Tapi sepertinya Arman serius kali ini. Sebelum Devi menyangkalnya, Arman menutup mulut Devi dengan jarinya seakan memberi kode.

“Selamanya pelangi akan setengah lingkaran. Karena setengahnya lagi ada di matamu”

Meleleh sudah hati Devi. Nggak perlu jalan-jalan lagi untuk merasakan bulan madu. Diam terpatung seperti ini pun sudah seperti di surga. Benar-benar sekujur tubuhnya diam pasrah. Namun, Arman justru melonggarkan pelukannya.

“Itu serius, setengah lingakarannya pelangi emang ada di matamu”

“Maksudnya, mas?”

“Coba lihat ke ujung sana. Dari tadi kuminta kamu jangan pandangi hujan bagian sini saja. Karena di sebelah sana aku lihat pelangi yang indah. Yuk, kutunjukkan. Kita datangi kaki pelangi di kedua sungai itu”

Benar juga. Devi mungkin kelewat su’udzon sama malaikat yang menurunkan hujan. Jadi dia hanya menatap sedih hujan padahal di saat yang sama ada pelangi yang muncul di sisi lain. 

Sambil mengikuti suaminya yang sudah lebih dulu mengambil payung, Devi berjalan tanpa lepas pandangan. Pelangi itu ditatapnya memang cuma setengah lingkaran. Tapi apa maksudnya setengahnya lagi ada di matanya.

Berjalan lah mereka berdua melewati hujan. Arman menggandeng Devi dengan langkah yang mantap menuju ke arah pelangi. Jangan ditanyakan apakah Arman akan salah jalan. Dia adalah juara navigasi ketika masih aktif di pramuka dulunya. 

Tentu mengejar pelangi bukanlah hal yang sulit. Devi yang awalnya terus memandangi pelangi jadi kehilangan jejak. Maklum, jalanan yang mereka tuju cukup terjal jadi harus hati-hati.

“Kita sudah sampai”

“Lho,mana, mas? Udah ilang ya pelanginya, yah, sayang ya”

“Pelanginya masih ada kok, yuk kita ke ujung kaki pelangi satunya”

Devi manut saja. Kali ini dia lebih fokus dalam mengikuti langkah suaminya. Berharap agar sampai di sana masih bisa melihat pelangi di ujung kaki yang lain. Perjalanan yang terjal telah dia lalui namun membawa kekecewaan.

“Hah, Mas Arman ini dari tadi banyak bohongnya. Sebel aku, mana jadinya basah gini”

Arman hanya tersenyum.

“Hehe, ayo kita balik ke vila”

Devi baru sadar. Basah kuyup gini memang yang diinginkan suaminya. Buktinya Arman tak mampu menjawab kecewanya. Hanya tersenyum dengan tatapan tajam. Dalam pikirnya, dasar laki-laki. Hyuh, pasrah lagi Devi, mungkin sedikit penasaran juga sih mau ngapain suaminya setibanya di vila. 

Langkahnya kini tak terburu karena bukan hanya tak lagi penasaran dengan pelangi tapi juga kecewa berat. Namun perjalanan pulang memang selalu terasa lebih cepat, sampailah juga mereka di vila.

“Devi, berhenti di sini dulu ya. Dan …”

“Apa sih, mas. Basah tahu. Dah, ah, aku tau apa maumu. Yuk masuk aja, males hujan-hujanan. Mbok ya bilang dari tadi”

“Haha, apa maksudmu? Coba lihat tengok lagi ke belakang. Itu pelangi yang tadi kita cari”

Devi kaget tak percaya, bukannya tadi disamperin nggak ada yang pelanginya. Dia terlanjur husnudzon dengan suaminya. Sudah nawaitu ngibadah lillahi ta’ala. Tangannya pun kembali digandeng erat. Ternyata suaminya memang romantis.

“Tadi sudah kubilang, pelangi itu akan selalu setengah lingkaran. Karena memang setengah lingkaran pelangi itu ada di matamu. Ketika kita kejar pelangi itu ya tidak akan kita temui. Karena pelangi adalah pembiasan cahaya matahari oleh tetesan hujan. Dan syarat terbentuknya pelangi adalah sudutnya 42 derajat di mata kita. Itu berarti hampir setengahnya sudut siku-siku. Yah, itulah setengah lingkaran pelangi di matamu. Dan yang bulat penuh adalah cintaku padamu.” 

Arman meletakkan tangan istrinya di posisi yang tepat untuk merasakan detak jantung, kemudian dikecup kening istrinya. Dan sudah selesai ceritanya ya nggak usah request berikutnya gimana ceritanya.