Pemerhati Sosial
1 tahun lalu · 2118 view · 4 menit baca · Politik 20170227_175954.png
Spanduk di Masjid Jami As-Sa'adiyah Lubang Buaya Jakarta Timur yang bertuliskan larangan untuk menyalatkan jenazah pembela dan pendukung penista agama / Foto : Dok. Pribadi

Kenapa Orang Islam Jadi Begini?

Astagfirullah! Ada yang aneh akhir-akhir ini menjelang putaran kedua pilkada DKI Jakarta dengan viralnya pesan berantai melalui media daring, selebaran dan spanduk yang sengaja dipasang secara massif di masjid-masjid di Jakarta yang bertuliskan kalimat: "Pengurus dan jamaah masjid ini tidak menyalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama." Ini tampaknya jelas sebagai upaya untuk menjegal cagub pejawat, Ahok.

Beginilah jadinya kalau selama ini biasanya masjid merupakan tempat ibadah dan sarana mempererat silaturahim antar jamaah, mendadak berubah menjadi tempat "ngompol" (ngomongin politik) dan ajang memprovokasi dan memengaruhi masyarakat untuk mendukung salah satu paslon di pilkada DKI Jakarta.

Fenomena ini sepertinya sengaja dilakukan orang-orang yang mendukung paslon Anies - Sandi untuk mengintimidasi, mengancam dan memengaruhi warga ibukota Jakarta dengan lagi-lagi tak bosan-bosannya mempolitisasi agama dan kampanye hitam untuk kembali menjegal paslon Ahok - Djarot menjelang pilkada DKI Jakarta putaran kedua, dua bulan ke depan ini.

Fenomena ini tampaknya dalam sejarah pemilu atau pilkada di Indonesia belum pernah terjadi. Baru kali ini. Benar sepanjang sejarah pelaksanaan pemilu di Indonesia tema-tema agama hampir selalu dibawa-bawa dalam kampanye untuk menyerang, menjatuhkan dan menjelek-jelekkan lawan politik, mengintimidasi dan memengaruhi pemilih demi mendulang suara (baca: kampanye hitam).

Artinya, politisasi agama kerap terjadi dalam setiap pemilu atau pilkada. Tapi tema seperti yang terjadi akhir-akhir ini yang diangkat ke ranah publik adalah perilaku politik yang sudah keterlaluan, tidak elok dan sangat memalukan. Norak!

Memperihatinkan dan sangat disayangkan demi keuntungan calonnya yang didukung, maka tindakan apa pun, sekalipun menghalalkan segala cara harus ditempuh. Memfitnah dan menyebar ujaran kebohongan dan kesesatan terus dilancarkan untuk menjatuhkan lawan dan menurunkan elektabilitasnya dalam pilkada. Naif!

Sikap mudah mengklaim sesama muslim dan menghakiminya sebagai kafir, munafik, syiah, komunis dan lain-lain, termasuk menafsirkan teks ayat-ayat suci Alquran secara serampangan dan gegabah tanpa merujuk kitab-kitab tafsir yang ada, hal itu semua sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Mengerikan!

Kenapa di antara kita, orang Islam, akhir-akhir ini jadi begini?

Ada apa sebenarnya dengan kita, yang beragama Islam ini? Apakah kita kurang atau bahkan tidak pernah membaca khazanah pemikiran Islam masa lalu yang memesona dan mengagumkan yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh filsuf Islam?

Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Thufail, Ibnu Sina, Al-Ghazal, Ibnu Rusyd, dan lain-lainnya adalah para pemikir Islam yang kerap melahirkan perbedaan dalam ranah filsafat dan keragaman pemikiran Islam. Atau tokoh-tokoh mazhab yang empat (al-mazahib al-'arba'ah) yang selalu tidak merasa paling benar sendiri dan sangat rendah hati dalam melahirkan pendapat dalam fikih (hukum Islam).

Berkaitan dengan tema ini, menarik apa yang ditulis Prof. Nadirsyah Hosen, yang akrab disapa Gus Nadir, bahwa Buya Hamka diminta menyalatkan jenazah Bung Karno. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menyalatkan jenazah orang Munafik (QS al-Taubah:84).

Buya Hamka menjawab kalem, “Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lha saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan.” Maka Buya Hamka pun menyalatkan jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia.

Itulah sikap ulama yang shalih. Beliau sadar bahwa memberi label terhadap orang lain merupakan hak prerogatif Allah.

Menurut Gus Nadir, ciri-ciri Munafik yang disebutkan dalam al-Qur’an seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Larangan buat Rasul menyalatkan jenazah orang Munafik itu karena doa Rasul maqbul jadi tidak selayaknya Rasul turut mendoakan kaum Munafik.

Akan tetapi para sahabat yang lain tetap menyalatkan orang yang diduga Munafik karena para sahabat tidak tahu dengan pasti mereka itu benar-benar Munafik atau tidak. Rasul hanya menceritakan bocoran dari langit sesiapa yang Munafik itu kepada sahabat yang bernama Huzaifah.

Huzaifah tidak pernah mau membocorkannya meski didesak Umar bin Khattab. Walhasil Umar tidak ikut menyalatkan jenazah bila dia lihat diam-diam Huzaifah tidak ikut menyalatkannya, tetapi Umar sebagai khalifah tidak pernah melarang sahabat lain untuk ikut menyalatkan jenazah tersebut.

Belajarlah kita dari sikap Umar, Huzaifah dan Buya Hamka. Gus Nadir menegaskan bahwa masalah kepemimpinan umat itu buat Ahlus Sunnah wal Jama’ah (ASWAJA) bukan perkara aqidah. Lihat saja rukun iman dan rukun Islam kita tidak menyinggung soal kepemimpinan.

Ini perkara siyasah, bukan aqidah. Jadi, ASWAJA tidak akan mudah mengafirkan atau memunafikkan orang lain hanya gara-gara persoalan politik.

Kalau ada yang sampai tega mengafirkan sesama Muslim hanya karena persoalan politik dapat dipastikan dia bukan bagian dari ASWAJA.

Kitab Aqidah Thahawiyah yang menjadi pegangan ulama salaf mengingatkan kita semua: “Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka masuk surga atau neraka.

Kami tidak pula menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak lahiriah mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah ta’ala”.

Begitulah berhati-hatinya para ulama salaf menilai status keimanan orang lain.

Apa yang tampak secara lahiriah bahwa mereka itu salat, menikah secara Islam, berpuasa Ramadan, maka cukup mereka dihukumi secara lahiriah sebagai Muslim, di mana berlaku hak dan kewajiban sebagai sesama Muslim, seperti bertakziyah, menyalatkan dan menguburkan mereka.

Masalah hati mereka, apakah ibadah mereka benar-benar karena Allah ta’ala itu hanya Allah yang tahu. Itulah sebabnya, kata Gus Nadir, Buya Hamka tidak ragu memimpin salat jenazah Bung Karno. Baca di sini.

Kalau suasana yang sudah tidak kondusif dari komunitas Islam seperti ini terus berlangsung, maka betul-betul sangat mengkhawatirkan dan bisa-bisa mengancam keharmonisan dan kerukunan, tidak saja bagi intern umat beragama (Islam), tetapi juga antar umat beragama di Indonesia dan hubungannya dengan pemerintah. Mudahan-mudahan tidak!

"Mari kita jaga ukhuwah keislaman, ukhuwah kebangsaan, dan ukhuwah kemanusiaan kita!", ajak Gus Nadir.