LKS atau singkatan dari lembar kerja siswa sering dijadikan biang kerok alasan ketidakkreatifan guru dalam memberikan latihan soal bahkan dijadikan alasan sumber malasnya guru menjelaskan materi pelajaran. LKS juga sering dijadikan alasan guru untuk memberi tugas tatkala guru tersebut memiliki tugas untuk keluar misal.

Ya memang kenyataannya mengandalkan LKS ini membuat guru itu bisa leyeh-leyeh, ndak usah kasih tugas lagi atau membuat soal lagi cukup mengerjakan LKS saja. Padahal tak jarang ditemui soal-soal di LKS itu cuma diulang-ulang dan tidak memenuhi kriteria soal yang baik. Alhasil banyak ditemukan guru kurang kreatif dalam memberi soal.

Permasalahan penggunaan LKS ini memang sudah menjadi polemik sejak dulu. Sampai saat ini penggunaan LKS masih belum dilarang namun baru sampai tingkat dianjurkan agar tidak digunakan. Anjuran ini pun bisa disiasati oleh penerbit ataupun guru dengan mengganti judul buku yang isinya latihan itu semua dengan ‘Modul Siswa’, ‘Latihan Soal’, ‘Kumpulan Soal Latihan’ dan judul lainnya yang sebenarnya isinya sama saja yaitu kumpulan soal yang seabrek.

Terlepas berbagai polemik dan juga kritik penggunaan LKS, saya akan paparkan di sini kenapa sebenarnya LKS masih layak digunakan. Oh jadi masih perlu ya? Oh ya jelas LKS ini masih penting digunakan.

LKS sebagai pengasah keterampilan

Pada dasarnya ada dua pendekatan besar dalam pendidikan. Yang pertama adalah pendekatan kognitifisme dan yang kedua adalah behaviorisme. Pada pendekatan kognitivisme, diyakini bahwa setiap manusia memiliki kemampuan berpikir cerdas dengan menggunakan instingnya.

Mudahnya teori ini beranggapan bahwa setiap manusia memiliki pengetahuan dalam otaknya yang kita kenal dengan basic insting. Misal manusia itu paham jika tangan dipakai untuk makan dan kaki untuk berjalan. Hal seperti ini tidak perlu dipelajari.

Pendekatan behaviorisme adalah pendekatan yang lebih banyak digunakan di dunia pendidikan. Teori yang berasal dari pemikiran B.F Skinner ini meyakini bahwa tingkah laku yang ditunjukkan manusia merupakan stimulus dengan respons.

Intinya teori ini berkeyakinan bahwa jika manusia ingin memiliki keterampilan atau kemampuan menguasai pengetahuan harus diawali dengan stimulus berupa perintah atau latihan-latihan. Misal ingin menguasai kemampuan menyetir mobil ya harus sering latihan atau sering menyetir mobil. Ingin menguasai bahasa Inggris, harus sering mempraktekkannya.

Penguasaan ilmu pengetahuan bisa dikuasai dengan semakin banyak mengerjakan latihan-latihan yaitu berupa soal-soal. Semakin sering dan banyak menjawab soal-soal latihan maka semakin kita menguasai ilmu pengetahuan itu.

Karena alasan itu pula, LKS masih sangat layak digunakan. Bagaimana tidak? Dengan banyaknya latihan soal yang harus dijawab siswa, yo jelas pastinya membuat siswa semakin menguasai pelajaran. Ya to? Lho tapi kan sudah ada buku paket yang dipinjamkan. Dan di buku paket juga sudah ada latihan soal.

Tunggu dulu, buku paket kan cuma dipinjamkan ndak dimiliki. Lha yo jelas beda antara dipinjami sama dimiliki.

LKS harganya ekonomis

Jelas kalau ini. Dengan harga yang sangat terjangkau siswa sudah diperkaya dengan banyak latihan dan soal-soal yang pastinya mengasah pengetahuan mereka. Harga ekonomis ini membuat LKS adalah sumber belajar yang paling terjangkau untuk dimiliki.

Lho memang buku paket tidak dibeli? Sebagian besar sekolah hanya meminjamkan buku paket. Nah jika ada siswa yang memiliki buku paket bisa dipastikan ia membeli sendiri tanpa komando sekolah.

LKS adalah simbol keadilan sosial

Di depan LKS semua sama. Mau anak orang kaya atau tidak, LKS yang berisikan lembar-lembar halaman dengan seabrek soal dengan kertas buram merupakan identitas resmi yang harus dimiliki anak sekolah.

Kepemilikan LKS, meskipun saat ini tidak wajib, menyimbolkan keikutsertaan siswa untuk aktif dan menguasai materi. Dari keterjangkauan harga dan wujudnya yang begitu ‘merakyat’ membuat LKS harus dimiliki. Yha bagaimana tidak? Harga yang sangat terjangkau membuat sulit untuk mencari alasan menghindar untuk tidak membelinya.

Terlebih lagi jika tidak mempunyai LKS pasti akan sangat merepotkan teman-teman sekelas karena budaya meminjam pasti akan tumbuh dan budaya sulit sekali  untuk mengembalikan akan banyak merepotkan. Maka membeli dan memiliki LKS untuk semua siswa menjadi pilihan yang adil.

LKS untuk standar penilaian kerajinan siswa

LKS sendiri digunakan sebagai pengayaan soal untuk siswa. Soal-soal latihan dalam LKS digunakan sebagai tugas. Sehingga pengerjaan soal-soal yang ada di LKS dapat digunakan sebagai tolak ukur seberapa rajin siswa dan seberapa siswa memahami materi.

Banyaknya jumlah soal latihan  yang ada di LKS menuntut siswa untuk rajin mengerjakan. LKS yang dipenuhi tulisan siswa dapat digunakan sebagai tolak ukur kerajinan siswa. Ini bisa diukur sebagai standar minimal kerajinan siswa.

Maka yha jika mau dianggap siswa rajin, jawablah soal-soal di LKS. Tidak usah takut jika jawabannya salah, yang penting ditulis saja dulu.

Lho masalahnya kemudian adalah guru tu enak-enak menyuruh untuk mengerjakan LKS tapi dijelaskan saja enggak. Nah kalau ini kan berarti guru yang bermasalah bukan LKSnya.

Protes bisa ditujukan pada guru tapi bukan LKSnya ya...