Panitia Workshop
4 bulan lalu · 378 view · 3 menit baca · Info 27845_97918.jpg
Luthfi Assyaukanie di Sesi Kelas Menulis Qureta

Kenapa Kita Harus Menulis?

Pada sesi Kelas Menulis Qureta di Riau (18/12), Luthfi Assyaukanie memberi sejumlah alasan kenapa orang harus menulis. Alasan pertama adalah menulis untuk mengekspresikan diri.

“Sosok seperti Soe Hok Gie, misalnya, ia menulis sebagai wahana mengekspresikan diri. Lewat tulisan, ia tumpahkan keluh kesah, baik berbentuk artikel di media-media massa maupun dalam bentuk cacatan-catatan harian.”

Hampir semua orang di era sekarang juga demikian. Media sosial seperti Facebook memungkinkan kita mengekspresikan diri secara lebih mudah.

“Yang punya akun Facebook, tentu sering menulis dalam bentuk status. Dan ini sebenarnya merupakan langkah awal kepenulisan.”

Berbeda dengan orang-orang besar, sebutlah politisi. Menulis, bagi mereka, tentu tak lagi sekadar sarana mengekspresikan diri. Kebanyakan yang menulis untuk membangun citra atau reputasi yang baik ke khalayak publik.

“Kalau reputasi sudah naik, maka apa pun yang ditulis akan dibaca banyak orang. JK Rowling dan Andrea Hirata adalah contohnya. Bukan lagi melulu soal apa, tetapi siapa.”

Tetapi tak sedikit pula orang menulis untuk tujuan yang sedikit agak mulia. Golongan terakhir ini menulis untuk memberi pengaruh, mengubah mindset (pola pikir) banyak orang, hingga berhasil menciptakan tatanan dunia yang lebih baik.

“Lihatlah Stephen Hawking. Karya-karya tulisnya, terutama A Brief History of Time, benar-benar mampu mengubah mindset banyak orang. Seperti juga Rachel Carson. Bukunya, Silent Spring, bisa disebut kitab sucinya aktivis lingkungan, yang masuk salah satu dari 100 buku paling berpengaruh di dunia.”

Meski demikian, apa pun alasan atau tujuan orang menulis, Luthfi tetap menekankan kepada para peserta bahwa pengemasan tulisan tak boleh diabaikan. Sebagus apa pun ide-idemu, jika tak dikemas secara apik, maka semua akan sia-sia.

“Jangankan isi, paragraf pembuka (lead) atau judul, jika tampilannya sudah ngaco di awal, ditulis serampangan, bisa dipastikan editor akan membuangnya ke tong sampah.”

Ini pulalah yang menjadi salah satu alasan Qureta, bekerja sama dengan APP Sinarmas, menghadirkan Workshop & Kelas Menulis di Riau. Selain ingin mendorong anak-anak muda dan para penulis pemula untuk ikut memperkaya dunia literasi, agenda ini diharapkan menjadi sarana belajar efektif, terkhusus di wilayah tulis-menulis.

Mengemas Ide

Banyak penulis gagal karena tak memperhatikan pembaca. Mereka menulis sekadar menulis, tak mau memahami jika salah satu kriteria tulisan yang baik adalah banyak dibaca orang.

Lalu bagaimana menggaet pembaca? Syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi dalam sebuah tulisan agar orang tertarik membacanya?

Kriteria pertama yang Luthfi tawarkan adalah menarik. Tetapi ini sangat relatif. Tak semua yang kita anggap menarik itu juga menarik bagi orang lain. Maka kriteria lainnya yang harus pula diperhatikan dalam tulisan adalah kebaruan, keunikan, dan kedekatan isu dengan pembaca.

“Yang paling sering jadi kriteria apakah sesuatu itu layak ditulis atau tidak adalah kebaruan. Di media-media massa, cetak maupun online, sesuatu yang baru itu penting.”

Jika orang hendak menulis tentang teknologi, misalnya, maka sebisa mungkin untuk mencari aspek perkembangan terbarunya.

“Kalau kita mau mencuri perhatian banyak orang, carilah sesuatu yang baru di sana. Seperti soal pabrik kertas, ada gak yang baru dari industri itu?”

Keunikan juga jadi nilai lebih dari sebuah tulisan. Semakin tulisan unik, dari segi isi/ide juga tampilan, semakin akan diburu para pembaca.

“Pun demikian soal kedekatan pembaca dengan isu tulisan. Misalnya isu pengangguran. Sebenarnya ini tidak menarik. Tetapi banyak media sering menjadikannya sebagai bahan pemberitaan. Itu karena kebanyakan masyarakat kita, pembaca media, dekat dengan isu tersebut.”

Dan yang terpenting lainnya untuk para penulis pemula perhatikan adalah karakter masing-masing media. Luthfi mengingatkan bahwa jangan harap sebuah tulisan akan terbit di suatu media jika naskah yang dikirimkan tidak sesuai dengan kaidah penulisan media yang bersangkutan.

“Ini strategi menerbitkan tulisan. Ketentuan di masing-masing media berbeda-beda. Seperti di Qureta, jika kalian tidak mengikuti petunjuk yang ada, dipastikan tulisanmu akan dikembalikan. Maka ikutilah petunjuk, baca dan pahami baik-baik sebelum mengirimkannya ke editor.”