Ada-ada saja tingkah menggelitik nan menjengkelkan para kaum hawa di negeri tercinta ini. Belum lama saat dunia maya dihebohkan dengan aksi cewe-cewe Indonesia yang melakukan spam komen di akun Instagram Prince Mateen, seorang pangeran dari Brunei Darussalam, yang menjadi idola baru para wanita yang kerap mengalami fenomena “rahim anget”. 

Tidak cukup mengusik kehidupan pria tamvan, para netizen yang sering mendapat sebutan netizen betina ini kembali berulah dengan jurus komentar menukiknya pada akun Instagram Han So Hee, pemeran pelakor pada drama korea The World of The Married. Maaf-maaf aja ni ya netizen, siapa sih yang gak emosi sama Da Kyung si pelakor? Saya juga emosiii! Tapi ya saya netizen beda kasta, bisa membedakan mana peran di depan kamera dan dunia nyata!

Gak cukup sampai di situ guys, masih ada tingkah menggemaskan yang sampai bikin kucing oren geleng-geleng! Tau kasus Reemar Martin? Sampai sekarang saya masih tidak habis pikir kenapa gadis Filipina yang tidak mengerti bahasa Indonesia dan tidak tahu-menahu tentang orang-orang yang julid padanya itu justru menargetkan dirinya menjadi sasaran netizen.

Duhh, sepertinya netizen tanah air memang punya kegemaran mencari permusuhan lintas negara. Meme “kami suka perpecahan” yang saya pikir hanya sekadar lucu-lucuan ternyata perlahan mulai diterapkan masyarakat kita. Sungguh pengimplementasian yang tepat sasaran.

Kasus yang masih fresh from the oven kali ini lagi-lagi dipicu PEREMPUAN. Sebagai salah seorang anggota kaum hawa saya harus mematahkan statement: Perempuan Tidak Pernah Salah. Yes, untuk kali ini, pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, saya harus mengakui perempuan adalah sumber masalah.

Bagaimana tidak? Muncul #NoIndonesianGirls di aplikasi Hoop, salah satu online dating platform besutan Snapchat, yang ramai-ramai ditulis users bule di bio mereka yang mengaku trauma dengan tingkah users perempuan Indonesia yang sering mengunggah screenshot hasil percakapan mereka dan menyebar foto-foto si bule ke media sosial seperti Snapchat, Tik Tok, Instagram tanpa meminta izin. Hal ini dianggap melanggar privasi dan sangat menjengkelkan.

Bahkan lebih parahnya lagi, banyak dari pelaku yang mengaku seolah-olah punya hubungan serius dengan si bule meskipun baru beberapa kali chattingan.

Screenshot percakapan yang juga kerap kali pelaku-pelaku ini sebarkan adalah reaksi para bule saat mereka melakukan prank text dengan lirik lagu. Saya sendiri sudah sering menemukan ini di Tik Tok, maklum semenjak self-quarantine jati diri saya goyah dan jiwa penasaran saya akan Tik Tok terlampau besar.

Awalnya melihat reaksi bule saat di prank text memang terkesan uwu, maklum ini aplikasi biro jodoh jadi pasti berlomba terlihat cute dan sweet, ye gak netizen? Namun, lama-lama kesan uwu berubah menjadi uhh, cringe saat saya menemui 2, 3, 4 bahkan bejibun aksi yang sama.

Saya mulai gelisah tapi mencoba tetap berpikir jernih dan mulai membuat asumsi bahwa mungkin ini sebuah hal biasa semacam tradisi berkenalan di Hoop yang tidak saya ketahui. Dan boommmmb, kegelisahan saya terjawab. Saat hashtag ini viral saya hanya bisa berkata, sudah kuduga……

Kejadian berulang ini tentu bukan perbuatan satu orang melainkan dilakukan oleh beberapa orang berbeda dan memangsa banyak bule hingga terciptalah stereotip bahwa wanita Indonesia itu tidak tahu cara menghargai privasi. Miris sekali, strereotip ini berhasil menggeneralisasikan perempuan Indonesia meski nyatanya masih banyak netizen beda kasta yang bijak bermedia sosial, seperti saya misalnya (bukan pamer, saya hanya mencoba meyakinkan diri supaya tidak terjerumus ke dalam komplotan netizen sebelah).

Dari kasus ini saya makin menyadari bahwa masih banyak users media sosial yang belum mampu berpikir secara matang bagaimana menggunakan media sosial sebagai fasilitas komunikasi yang baik dan ramah bagi semua pengguna.

Jujur, hati saya patah saat hashtag ini mengudara. Meskipun saya juga memiliki secercah harapan memiliki pujaan hati seorang bule, tetapi saya justru lebih prihatin dengan tindakan bule-bule ini dengan menyuarakan #NoIndonesianGirls. 

Di sini jelas sekali mereka memukul rata semua perempuan Indonesia dan tentu mereka menutup banyak peluang menemukan jodoh (remember, this is an online dating app). Melalui tindakan ini juga terlihat bahwa mereka adalah bule-bule immature yang menilai perempuan berdasarkan nationality bukan personality.

Well, alasan dramatis seperti “saya lelah jadi korban perempuan Indonesia” mungkin cukup berdasar, namun tak bisa dimungkiri peluang mereka menemukan perempuan Indonesia yang pacar-able meliputi bijak bermedia sosial, santun bersikap, rajin menabung, tidak mengusik ketenangan hidup Prince Mateen dan kekasihnya, punya kecerdasan untuk melihat Han So Hee dari sudut pandang yang berbeda saat di balik layar, tidak membuli Reemar Martin hanya karena pasangannya kurang perhatian, dan tentunya rajin menabung akan sirna.

Coba yakin tuh mas bule ga merasa rugi!!!!!