Banyak orang yang takut mempelajari filsafat dengan takut akan kesalahan berpikir khususnya dalam soal agama. Pada titik itu belajar filsafat adalah bagaimana untuk berpikir dengan benar dan untuk menemukan kebenaran, tidak berpikir untuk hidup dan berpikir untuk kaya. 

Jadi tidak apa-apa takut itu manusiawi. Ketakutan Itu rasa kamu tidak nyaman. Kamu membayangkan nanti akan ada hasil yang jelek di depan. Kebalikannya  harapan kamu membayangkan ada yang baik di depan. Makanya harus ada yang baik terus kamu ngegas. 

Kalau ini kebalikannya karena ada yang mengerikan membahayakan di depan maka kamu harus ngerem. Nah remnya tadi rasanya takut dan sama seperti harapan ketakutan itu adalah orang yang manusiawi. Kalau tidak ada ketakutan berarti orang tersebut tidak manusiawi.

Awal-awal bulan yang lalu belajar filsafat saya  merasa betapa Tuhan sedang menguji saya dengan rasa ketakutan. Awalnya aku berharap ketakutan itu hilang seketika. Tetapi setelah saya belajar, yang harus saya lakukan adalah mendorong rasa ketakutan kehilangan keseimbangan dengan harapan dan berteman dengan alami.

Gagasan itu muncul seketika saya, mengulang kembali materi yang pernah saya pelajari, ada pun materi yang dikaji kembali iyalah apakah Tuhan itu ada, kalau ada dimana berada? Dari mana kamu tahu bahwa Tuhan itu ada? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam filsafat yang selalu menggelitik dipikirkan kami. 

Jadi menurut saya pikir-pikir kembali bahwasanya filsafat ini adalah ilmu menuju kebingungan. Karena mempertanyakan yang tak masuk akal bagi saya. Tapi ada bagusnya juga, kita belajar filsafat ini bukan hanya takut bagaimana cara kita mencari suatu kebenaran yang tidak orang ketahui.

Kawan-kawan ketakutan itu ternyata sesuatu yang harus dimiliki oleh manusia. Jika dalam hidup hanya terdapat harapan, di sana terdapat paradoks-paradoks. jika tidak hati-hati dan tidak tau masalah ia bisa menjadi sumber kekecewaan, putus asa dan kehancuran. lalu apa yang menjadi 'masalah' nya ? Masalah-nya adalah ialah  'ketakutan'.

Hidup itu kapan ngegas kapan ngerem. kamu harus tau kapan ngegas kapan   kamu harus berhenti ngeremnya dan kalau kamu ngerem kapan kamu harus ngegasnya  itu lah sebuah kehidupan.

Kita perlu tahu kapan kita tenang, kapan saatnya untuk kita  berbicara, kapan waktunya  kita untuk berjalan, kapan waktunya kita untuk istirahat, kapan waktunya  kita untuk di depan, kapan waktunya  kita untuk tinggal di belakang.

Teman- teman ketakutan harus dibarengi dengan suatu  harapan. Menganalogikan ketakutan dan harapan itu seperti sayap burung. Dua-duanya harus ada, juga fungsional. Dua hal itu harus seimbang. Itulah dalam filsafat disebut dengan Cinta terhadap kebijaksanaan, disebutkan juga dalam terminologi filsafat sebagai Raja’ (harapan) dan 'Khauf'(takut) pada Tuhan.

Ketakutan adalah bagian dari hidup seseorang dan bentuk dari sebuah ekspresi, dia alami (manusiawi) sangat wajar apabila manusia mempunyai rasa takut. Takut akan hal yang akan terjadi di masa depan, takut kesalahan yang lama terulang kembali, takut nama baik keluarga nya terancam, dan masih banyak lagi jenis- jenis rasa takut yang dimiliki oleh manusia.

Ketakutan dan cara berpikir yang salah

Sumber ketakutan merupakan kesalahan dalam berpikir. Kita menganggap bahwa sesuatu itu penting, maka kita bergantung pada kehidupan kita, apakah itu uang, reputasi,  jabatan, dan pekerjaan kita. Jadi, sumber ketakutan adalah pikiran, apabila tidak utuh, rapuh, sering kali berubah, bahkan hilang.

Kemudian berpikir sehat, terdapat pada badan yang sehat Jika kita berpikir kita salah, maka ketakutan rasional juga salah Kita harus mengatur apa yang kita pikirkan dan menanggapi segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita dengan cara yang sehat.

Kita belajar dalam hal ini dari kisah sebuah dongeng anak-anak. Kisah siput kecil yang biasanya diceritakan pada anak-anak.

Suatu ketika ada rombongan siput kecil yang melakukan lomba di jalan yang berbatu. Semua siput yang nonton memberikan berbagai komentarnya karena melihat siput yang kecil dan jalan  berbatu yang cukup jauh. Menurut siput yang melihat, rasanya tidak mungkin ada siput yang berhasil menang  di jalan yang berbatuan.

Ternyata, hanya ada satu sipit yang tidak peduli dengan teriakan para penonton, dia terus berusaha berjalan. Setelah ia sampai di finish dan menjadi juara, siput yang nonton menghampiri siput itu dan mulai bertanya bagaimana ia bisa berhasil. Akan tetapi siput itu tidak menjawab dan hanya menoleh sana sini, diketahui bahwa siput itu adalah siput yang tuli.

Dari cerita siput di atas, kita bisa mengambil  hikmah suatu pelajaran tentang pengaruh sebuah pikiran. Maka harus pintar untuk memilah hal-hal yang harus masuk ke dalam pikiran, dan yang hanya harus melewati, tidak banyak berpikir.

Mengatasi rasa takut

Satu hal yang dapat kita lakukan sehubungan dengan bertindak dengan rasa takut adalah: 1) menyadari apa yang benar-benar kita takuti. Setelah itu, 2) ingatlah bahwa rasa takut itu 'alami', tetapi tidak baik membiarkannya terlalu lama. 3) persiapkan diri Anda dan belajarlah takut; 4) hadapilah, berjuanglah melawan rasa takut dengan solusi yang kita pelajari dari rasa takut kita sendiri. 5) lakukan secara alami.

Tipu daya atau manipulasi dapat menambah problem baru. Sesuatu yang tidak alami biasanya menambah masalah. Kalahkan ketakutan secara alami dengan perhitungan rasional.

" Kenapa kamu tidak lulus-lulus  kuliah kok takut, karena ngertimu masa depanmu tergantung Perkuliahan ijazah dan gelarmu. Diluaskan lagi wawasanmu mungkin kamu tidak setakut itu. Apa iya masa depan tergantung pada ijazah dan gelar. Jadi objeknya ketakutan pengetahuan yang setengah-setengah  atau imajinasi. Orang takut itu biasanya yang dia lakukan ada dua lari atau tarung."