Kemungkinan besar, pertama kali kita berhadap-hadapan dengan filsafat adalah saat sudah menjadi pembelajar di perguruan tinggi. Tetapi, hampir bisa dipastikan bahwa kita telah bersentuhan dengan filsafat walau sekedar mendengar dari ucapan orang lain secara sepintas, atau malah kita sendiri pernah menggunakan kata-kata “mutiara” dari filosof-filosof terkemuka untuk menghiasai dinding-dinding akun media sosial kita. Walaupun terkadang apa maksud quotes yang kita kutip sulit dipastikan.

Apa yang pertama kali terlintas di fikiran kita saat mulai ingin belajar, atau mendapat kuliah tentang filsafat?

Peluangnya besar, bahwa kita memiliki jawaban yang sama. Namun, mengatakan bahwa jawaban “semua orang” akan sama agaknya tidak baik, karena terlalu over general. Kita  bisa gunakan istilah “anggapan umum” akan sama. Sampai di sini, kita akan menganggap tulisan ini bertele-tele. Tapi sebenarnya, istilah peluang, semua orang, over general dan anggapan umum dalam paragraf ini adalah bejana kecil yang berisi air falsafah (istilah-istilah), agar kita mulai membasuh wajah kita dengan pancaran filsafat.

Anggapan umum saat pertama kali memasuki ruang filsafat adalah bahwa yang menjadi pembahasan dalam kajian filsafat merupakan hal yang tinggi, sulit, abstrak dan tidak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Filosof sering digambarkan sebagai orang yang mempunyai IQ dan intuisi cemerlang yang melampaui rata-rata manusia. Bahkan filsafat dan filosof juga mengalami peyorasi makna. Dua istilah filsafat dan filosof memeberikan konotasi tidak memperdulikan masalah sehari-hari, tetapi sibuk merenung dan memikirkan persoalan hakikat sesuatu yang sulit dicerna.

Padahal masalah-masalah pokok filsafat adalah persolan yang pernah difikirkan setiap orang. Bukankah setiap kita pernah mempertanyakan, memikirkan dan merenungkan kenapa harus begini, dan tidak boleh begitu. Sedangkan itu harus begitu, tidak seharusnya begini. Untuk apa saya kuliah? Kenapa kerabat kita yang baik meninggal? Kenapa ada orang yang sampai hati berbuat seperti itu?. Semua itu telah menjadi obyek filosofis. Jadi, secara umum, kita sudah ‘berfilsafat’ (Nur A. Fadhil Lubis, 2015: 1).

Dalam filsafat, setiap jawaban atas pertanyaan yang diajukan akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan baru. Sehingga, kemungkinan banyaknya jawaban dalam satu obyek pertanyaan tertentu membuat filsafat cenderung membosankan dan membingungkan.

Jadi, jika filsafat hanya membuat bingung dan malah membosankan karena tidak mampu menyodorkan jawaban yang siap pakai, maka untuk apa kita susah payah belajar filsafat?. Tentu saja, menjawab itu kembali pada diri kita masing-masing.

Andai kita adalah orang yang gemar menerima begitu saja apa yang disampaikan orang lain, tidak memperdulikan permasalahan yang kita alami sendiri, maka filsafat memang tidak dibutuhkan. Beda halnya jika kita adalah manusia normal yang selalu ingin tahu, ingin mengenal kebenaran dan memiliki alat untuk bersikap bijaksana, maka filsafat adalah rumah yang akan melindungi kita dari debu fanatisme dan sikap konsumtif-ekstrim terhadap ucapan orang lain. Karena pertanyaan sederhanya, bagaimana kita menyimpulkan sesuatu itu benar dan salah, tanpa kita punya garansi obyektivitas dari penyampai kebenaran dan akurasi metodologis dari kebenaran itu terlepas datang dari mana saja? Sederhanya, benar itu ukuran, bagaimana kita menyimpulkan sesuatu itu benar jika alat ukur atau teori kebenaran itu tidak kita miliki?

Sekat Antara Filsafat dan Hukum Islam

Jalur pembelah antara filsafat dan hukum Islam bukanlah bangunan baru. Mempertemukan keduanya tak pernah sepi oleh kritikan. Walaupun terkadang kritikan itu terdengar gagap, tetap saja diperkeras dengan memakai amplifier teks-teks suci agama.

Filsafat akan terlihat di mata sebagaian kalangan agamawan tradisional sebagai bid’ah yang tak ada dasar ke agamaannya. Penilaian itu akibat dari kenyataan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang diadopsi dari luar komunitas umat Islam. Yang dicurigai merusak orisinilitas ajaran agama, merusak akidah dan menyebabkan kesesatan.

Setidaknya ada beberapa pandangan dalam mempelajari filsafat, yaitu:

Pertama, menolak sepenuhnya (konservatif)

Pandangan pertama ini memandang orang-orang yang belajar filsafat sebagai ahl al-ahwa wa al-bida’ (orang-orang yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan pelaku bid’ah), pendeknya golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Bukan tanpa alasan, susunan argumen yang dipakai oleh pandangan yang menolak sepenuhnya filsafat adalah karena istilah filsafat bukanlah berasal dari bahasa Arab. Tidak satupun dalam kamus syariat Islam ditemukan istilah filsafat.

Dan kenyataannya filsafat datang dari bangsa Yunani, bangsa yang dianggap sebagai penyembah dewa. Sehingga filsafat adalah pemikiran asing yang bersumber dari luar Islam dan kaum muslimin, harus ditolak sepenuhnya.

Kedua, menerima sepenuhnya (liberal)

Padangan kedua ini termasuk menjadi bagian tak terpisahkan dari alasan pandangan pertama untuk menolak filsafat.

Filsafat digunakan pada kelompok kedua ini untuk menembus apa yang dianggap sudah menjadi batas-batas kemampuan akal yang dimiliki manusia. Filsafat bergerak ke ruang jangkau yang terlalu jauh, seperti persoalan metafisis yang tak segera dapat dicari ajarannya dalam teks ke agamaan, termasuk persoalan rasionalisasi Tuhan dan menguji akhirat secara empirik dan sebagainya.

Walaupun terkadang produk kontemplasi yang mereka susun dicantumkan teks-teks agama sebagai konsideran, tetap saja terlihat nyeleneh dan terkesan tanpa makna dan terlalu memaksa.

Sungguh jelas, bahwa yang menjadi sekat pembatas antara filsafat dengan kajian ke Islaman adalah anggapan karena filsafat akan bertabrakan dengan ajaran agama Islam. Filsafat akan merusak akidah dan menyelewengkan umat dari ajaran Islam yang murni. Kita hanya berusaha memahami pandangan itu –bukan memilih– sebagai alasan penolakan terhadap filsafat, dan mesti meninggalkan alasan yang menolak filsafat hanya karena bukan dipelopori bangsa Arab.

Lantas, apakah kita menerima filsafat atau menolaknya?

Belajar Filsafat Adalah Kebutuhan

Menerima atau menolak adalah sikap yang mesti dikembalikan pada pribadi masing-masing, karena memaksa adalah prilaku yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan, bahkan tercela sesuai yang tersirat dalam ketentuan agama Islam.

Kita pasti menginsyafi bahwa perjalanan kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari rangkaian dialektika. Tesis dimulai, anti tesis menyambut, dan sintesis sudah menunggu. Apa yang kita anggap sebagai kebenaran di masa lalu, hari ini sudah berbeda. Dan apa yang menjadi kebenaran hari ini, menjadi keniscayaan harus diperbaharui di masa datang.

Untuk itu, selain dua penilaian terhadap filsafat di atas, yakni menolak dan menerima sepenuhnya, ada juga penilaian terhadap filsafat yang sangat moderat dan selektif. Alangkah baiknya kita tidak serta merta menelan mentah-mentah ajaran dalam filsafat atau menutup mata menolak habis-habisan.

Kita mesti melihat dan mengamati apa yang menjadi nilai yang dianggap sebagai “bentuk filsafat itu sendiri”. Secara obyektif menukil dan melayangkan kritikan-kritikan terhadap filsafat itu sendiri sebelum masuk pada babak akhir mengambil keputusan.

Ide dasar filsafat sesungguhnya sudah lebih tua dari umur istilah filsafat itu sendiri. Sederhanya,  istilah filsafat merujuk pada dua kata yang bermakna “cinta kebijaksanaan”, dan dalam pencapaian kebijaksanaan itu dirumuskan dengan aturan berfikir yang radikal, universal, konseptual, koheren dan sistemik. Sejatinya, pengistilahan adalah memang kelebihan manusia dalam membuat simbol sesuatu. Andaipun ditukar istilah filsafat dengan kata lain, namun tetap menggunakan metode yang sama, maka tidak akan merubah apapun.

Kemudian, jangkauan dari ciri berfikir filsafat dirumuskan sebagai berikut:

Apa yang dapat kita ketahui? (metafisika)

Apa yang seharusnya dilakukan? (etika)

Sampai dimanakah harapan kita? (agama)

Apa hakikat manusia? (Anthoropolgi). (Immanuel Kant (1727-1804)

Sampai disini, bisakah kita memahami bahwa filsafat adalah alat berfikir?

Kita tidak boleh menafikan banyaknya susunan dalil penolakan terhadap filsafat. Akan tetapi jika mau mencoba memahami secara seksama, kita akan menemukan pengharaman itu adalah pada produk bukan produktivitas.

Penting kita ketahui, bahwa al-Suyuti menurunkan kutipan panjang dari kitab Faisal al-Tafriqah, dimana imam al-Ghazali menyatakan bahwa filsafat bukan haram secara mutlak. Bahkan menganalogikan filsafat ibarat dokter yang ingin mengobati orang sakit, mematahkan pemikiran sesat, atau menjaga keimanan agar tidak bisa digoncang oleh pemikiran keliru. Dengan catatan, yang mempelajari adalah orang yang kuat akalnya, mantap agamanya, dan teguh imannya. (Al-Suyuti, 1947: 186-187)

Perdebatan dalam “hasil pemikiran” filsafat adalah lazim adanya, sama halnya dengan disiplin ke ilmuan lainnya. Sehingga pengharaman filsafat secara general adalah kesimpulan yang keliru.

Jika kita mau sedikit saja memberikan waktu kita pada kajian filsafat maka kita akan menemukan betapa filsafat akan membawa kita memahami realitas kehidupan sekeliling kita. Menyadarkan kita apa sebenarnya problem kehidupan yang harus kita selesaikan sekarang.

Setidaknya, ada tiga manfaat yang bisa diperoleh  jika kita merestui filsafat masuk dalam wacana pengembangan berbagai sistem kehidupan kita, dalam formulasi aturan yang kita sebut dengan hukum, sebagai berikut:

Pertama, metode kritis filsafat akan memberikan pandangan yang tajam terhadap kesesuaian sistem-sistem yang mengitari kehidupan kita.

Kedua, metode komprehensif filsafat akan akan mendorong kita untuk memahami kompleksitas sekelumit persoalan yang menjadi tantangan bagi kita, yang ingin membangun masyarakat melalui upaya hukum yang islami.

Ketiga, metode sistemik filsafat akan membawa kita mampu melihat urutan dari berbagai persoalan dalam kehidupan sosial kita. Sehingga, kita mampu melihat persoalan mana yang lebih dulu dan urgen untuk diselesaikan.

Hukum adalah jawaban dari pertanyaan, bagaiamana mengatur tingkah laku manusia. Sehingga hukum memiliki fungsi kontrol sosial dan melakukan perubahan sosial ketika berhadapan dengan berbagai latar belakang kehidupan masyarakat.

Dewasa ini, kita melihat minat masyarakat terhadap kajian ke Islaman begitu mengagumkan. Hal ini juga didukung oleh banyaknya cendikiawan maupun ilmuwan muslim yang memiliki kemampuan yang sangat mumpuni. Tapi, dalam merekayasa kehidupan masyarakat, selain perlunya tokoh (manusia besar yang berpengaruh), kita juga mesti merumuskan persoalan dasar yang mesti segera diselesaikan.

Jangan sampai apa yang kita bahas setiap hari, apa yang sering kita perdebatkan, nyatanya tidak berimplikasi pada pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Misalkan, ketika kita ingin membangun masyarakat Islam dengan upaya hukum yang islami, maka filsafat hukum Islam adalah sesuatu disiplin ke Ilmuan yang kita butuhkan. Selain kita menguasai metode istinbath hukum, kita juga butuh menjangkau ide dasar yang menjadi tujuan hukum itu kita rumuskan. Di sinilah peranan filsafat mesti direstui dalam konstruksi hukum Islam.

Jika kita memahami bahwa filsafat dalam kaitanya dalam hukum Islam adalah untuk mempengaruhi materi hukum dan menafikan sumber dan dalil dari hukum tersebut, maka kita sudah terjebak pada pemahaman yang keliru. Karena orientasi filsafat adalah kebijaksanaan, sehingga kita dituntun untuk meletakkan sesuatu sesuai dengan keadaan dan tempatnya.

Katakanlah kita sedang berdebat dan membawa segudang dalil tentang persoalan perayaan maulid Nabi Muhammad Saw., yang nantinya akan menjadi formulasi hukum untuk mempengaruhi perilaku masyarakat muslim. Setelah hukum diputuskan, apakah itu akan menjadi jawaban sekelumit persoalan yang hadapi masyarakat muslim dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan, ketimpangan sosial, kegagapan dalam menghadapi globalisasi dan sebagainya?

Dalam kajian filsafat hukum Islam, kita akan disuguhkan konsep Maqhosid as-Syariah, yang meyakini bahwa syari’ah memilliki tujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi manusia di dunia dan di akhirat. Kosekuensinya dalam menetapkan formulasi hukum, kita harus memperhatikan tingkat kebutuhan dalam kehidupan manusia.

Prinsip itu disebut dengan kulliyat al-khamsah (lima prinsip umum), yaitu:

Pertama, Hifdz al-Din (melindungi agama)

Kedua, Hifdz al-Nafs (melindungi jiwa)

Ketiga, Hifdz al-Aql (melindungi akal)

Keempat, Hifdz al-Mal (melindungi harta)

Kelima, Hifdz al-Nasab (melindungi keturunan)

Yang selanjutnya diklasifikasikan kepada tiga tingakatan. Ada yang bersifat dharuri (primer), hajiyyat (skunder), dan tahsini (tersier).

Prinsip-prinsip ini menuntut kita melakukan kontemplasi akademik, agar dalam membangun masyarakat melalui upaya konstruksi hukum, harus memperhatikan tingkat kebutuhan manusia. Ini lah mengapa filsafat hukum Islam itu merupakan kebutuhan.

Manfaat lain jika kita mau meluangkan waktu untuk belajar filsafat hukum Islam, kita akan diseguhkan pemahaman tentang akurasi metodologis. Karena filsafat secara potensial mampu mengatur fikiran manusia dengan ketat, membawa alam fikir itu membangun metodologi, meneliti, mendisikusikan, bahkan menguji kesahihan dan akuntabilitas setiap pemikiran dan gagasan. Semua susunan fikiran itu, kelak bisa dipertanggung jawabkan secara intellektual ilmiah.

Selain akurasi metodologis, kita juga akan mendapat peluang untuk menguasai garansi obyektifitas, karena filsafat bisa menjadi kompas ke arah mata angin kebijaksanaan, membuka wawasan berfikir untuk bersikap lebih adil dan apresiatif dalam meneliti berbagai pengetahuan yang bertebaran di berbagai kelompok manusia.

Oleh karena itu, filsafat dan hukum Islam sudah seyogyanya memiliki tempat tersendiri dalam rubrik bacaan kita. Dengan filsafat hukum Islam, kita berharap agar upaya kita untuk membangun masyarakat yang islami berbasis hukum dapat segera tercapai.

Wallahu A’lam.