Ghosting adalah momen yang terjadi ketika seorang teman atau seseorang yang pernah dekat denganmu menghilang dari kontak tanpa penjelasan. Menurut (Sprecher, Zimmerman, & Fehr, 2014), suatu fenomena cara untuk mengakhiri hubungan dengan seseorang secara tiba-tiba dengan menghentikan semua komunikasi dalam relasi pertemanan  dan hubungan antar pasangan. 

Dilansir The New York Times istilah ghosting telah masuk dalam leksikon jajak pendapat pada Oktober 2014. Dalam jajak pendapat yang dilakukan YouGov / Huffington Post terhadap 1.000 orang dewasa menunjukkan bahwa 11% orang Amerika telah melakukan ghosted atau istilah untuk orang yang melakukan ghosting terhadap seseorang.

Survei dari Majalah Elle terhadap 185 orang menemukan bahwa sekitar 16,7% pria dan 24,2% wanita pernah menghilang seperti hantu (ghosts) di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Saat ini, ghosting, atau tiba-tiba menghilang dari kehidupan seseorang tanpa perlu menelepon, E-mail, atau SMS telah menjadi fenomena umum di dunia kencan modern dan juga di lingkungan sosial bahkan profesional lainnya. 

Beberapa orang memilih untuk melakukan ghosting karena sudah tidak tertarik lagi dalam menjalani hubungan serta tidak memiliki keseriusan untuk menjalin hubungan yang lebih dalam lagi. Oleh karena itu, pergi tanpa memberi kabar dalam sebuah hubungan atau yang di kenal dengan istilah ghosting adalah suatu jalan pintu keluar termudah.

Lantas mengapa seseorang memilih untuk ghosting?

 Seseorang akan melakukan ghosting dikarenakan beberapa faktor, mulai dari kehabisan  topik memulai percakapan, rasa takut menghadapi konflik dengan orang lain, meredam emosi agar tidak melampiaskan kekesalan, sampai kurangnya rasa tanggung jawab. Sehingga pada dasarnya perilaku ghosting merupakan penolakan tanpa finalitas ‘menggantungkan suatu hubungan yang tidak jelas di mana titik akhirnya’. 

Di zaman serba digital seperti sekarang, ghosting sering terjadi dengan cara tidak menanggapi panggilan telepon, pesan teks, atau bahkan memblokir lewat media sosial. Perilaku ghosting di kalangan remaja sangat marak terjadi. Masa remaja meliputi periode eksplorasi romantis dan seksual, di mana keadaan individu menghadapi peningkatan peluang untuk mempertimbangkan hubungan dan identitas mereka (Morgan, 2012:17).

Menurut Jennice Vilhauer, seorang Psikolog di The Well Mind Institute di Beverly Hills, California sekaligus Asisten Profesor Klinis di University of California, Los Angeles, ghosting dapat berdampak serius pada kesehatan mental seseorang. Sehingga dampak ghosting tidak boleh dianggap sepele. Berikut terdapat beberapa dampak  ghosting pada kesehatan mental.

Dampak ghosting bagi kesehatan mental :

1. Kebingungan

Kondisi ini atau kebingungan, dapat membuat korban ghosting ‘silent treatment’ sulit untuk memahami situasi dan kondisi yang sedang dialami.

2. Merasa rendah diri

Kehancuran harga diri juga bisa menjadi salah satu dampak adanya ghosting. Hal ini  membuat korban merasa sulit mentolerir rasa sakit akibat ditinggalkan kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri.

3. Menyalahkan diri sendiri

Korban ghosting juga bisa memiliki perilaku yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Hal ini  terjadi karena mereka tidak mengetahui jelas kesalahan apa yang membuat mereka ‘dijauhi’.

4. Merasakan rasa sakit yang sama seperti sakit fisik

Dilansir dari data penelitian American Psychology of Association, menunjukkan bahwa perilaku ghosting atau penolakan sosial (sakit emosional) menyebabkan tingkat rasa sakit yang sama dengan yang disebabkan oleh cedera pada tubuh (sakit fisik).

Move on dari ghosting setiap orang berbeda-beda. Semua tergantung situasi kondisi yang dialami korban dan siapa pelaku utamanya baik itu kekasih maupun sahabat.  Berikut beberapa cara untuk membantu diri kita dalam menghadapi dan menerima perasaan usai menjadi korban ghosting.

Cara membantu diri menghadapi ghosting :

1. Tetapkan batasan terlebih dahulu

Kejujuran dan transparansi penting adanya untuk memastikan tidak ada garis yang terlampaui tanpa disadari. Pastikan untuk membicarakan batasan terlebih dahulu sebelum memulai suatu hubungan dengan orang lain.

2. Beri orang tersebut batas waktu

Belum mendengar kabar dari mereka selama beberapa waktu dan kita lelah menunggu? Beri mereka ultimatum. Dapat berupa, mengirim pesan singkat, meminta mereka untuk memberi kabar, jika tidak, kita akan menganggap bahwa hubungan telah berakhir. Hal ini terlihat kasar tetapi bisa membuat kita memulihkan perasaan kehilangan kendali.

3. Jangan menyalahkan diri sendiri

Jangan merendahkan diri sendiri dan membuat diri kita semakin terluka secara emosional tanpa memiliki bukti yang jelas mengapa seseorang meninggalkan suatu hubungan.

4. Jangan menghukum perasaan kita dengan melakukan hal buruk

Jangan menghilangkan rasa sakit dengan Napza dan lain sebagainya. Mungkin saat kita melakukannya, kita merasa lebih nyaman. Akan tetapi, ingatlah bahwa perasaan tersebut hanya bersifat sementara. 

5. Habiskan waktu bersama teman atau keluarga

Carilah persahabatan dengan orang-orang yang kita percayai dan dengan siapa kita berbagi perasaan cinta. Menjalani hubungan yang sehat dan positive tentu akan membuat kita merasa lebih baik dan bisa lebih cepat move on. 

6. Cari bantuan profesional

Jangan takut menghubungi terapis ‘konselor’ guna membantu mengartikulasikan, memberi strategi penanggulangan serta memastikan bahwa kita keluar dari perasaan kompleks yang sedang kita alami.

Fenomena ghosting proses pemutusan suatu hubungan biasanya meninggalkan pertanyaan atau ketidakpastian bagi korban, sementara pelaku menghilang untuk sesaat atau selamanya. Ghosting merupakan hal yang tidak mungkin dihindari.  Ghosting akan tetap terjadi di antara kita, tergantung kasus masing-masing individu. Tinggal bagaimana kita yang menentukan dan bagaimana harus menyikapinya.