Why Is Straight The Default? - Love, Simon

Kutipan fenomenal tersebut dapat kita jumpai dalam sebuah film menarik berjudul ‘Love, Simon’. Film yang menceritakan tentang betapa rumitnya kisah coming out seorang pemuda Amerika Serikat ihwal seksualitasnya tersebut menunjukkan kepada kita bahwa menjadi homoseksual tak pernah mudah, dimanapun itu.

Kehidupan yang kadung familiar dengan heteronormalitas digambarkan sebagai dunia yang begitu sulit bagi para kelompok homoseksual, bahkan untuk sekadar bercerita. Konsekuensi logisnya, mereka makin termarjinalisasi dan cenderung menginternalisasi masalahnya.

Salah satu bentuk internalisasi masalah tersebut adalah pembuatan akun anonim di media sosial, seperti yang dilakukan Simon dalam film tersebut. Karena tak ada tempat untuk speak up, mereka memilih untuk memalsukan identitas di media sosial dengan harapan dapat bercerita dengan jujur tanpa diketahui identitas aslinya.

Kembali ke kutipan pembuka artikel ini, why is straigh the default? Kenapa tidak ada kelompok heteroseksual yang coming out terkait orientasi seksualnya?

“Bro, gue suka cewek. Lo masih mau temenan sama gue?”

“Dek, mbakmu ini suka sama cowok. Kamu jangan kaget ya.”

Kita tidak pernah mendengar maupun mempertanyakan pengakuan seorang perempuan ketika dia menyukai laki-laki atau sebaliknya karena orientasi seksualnya. Jika mendengar pun, hal tersebut terdengar aneh karena ada anggap heteroseksual tak harus coming out. Lantas, kenapa hanya kelompok homoseksual yang boleh coming out seolah hal itu adalah sebuah pengakuan dosa?

Dalam dunia dimana sistem patriarki sudah mendarah daging, homoseksualitas adalah sesuatu yang dipandang tidak wajar. Homoseksual dianggap tidak sesuai dengan konsep keluarga dalam sistem patriarki karena mereka tidak bisa bereproduksi ketika berhubungan seksual.

Sistem patriarki hanya mengenal laki-laki dan perempuan dimana laki-laki memiliki posisi lebih tinggi dibanding perempuan. Sistem yang dikonstruksi secara sosial tersebut pada akhirnya menegasikan eksistensi kelompok homoseksual yang membuat mereka teralienasi dari masyarakat.

Konstruksi heteronormalitas tersebut sudah ada sejak lama dan dilanggengkan melalui keluarga, masyarakat, bahkan institusi pendidikan formal seolah kehidupan hanya ada laki-laki dan perempuan. Kita tidak diperkenalkan dengan kelompok-kelompok in between. Kita urung diajarkan ihwal gender diversity.

Karena sejak awal ada missing link pengenalan terkait keberagaman gender, masyarakat cenderung kaget mengetahui bahwa ada kelompok gender lain selain laki-laki dan perempuan. Kekagetan tersebut yang membuat masyarakat menyebut kelompok yang tidak ada dalam konsep heteronormalitas sebagai sesuatu yang menyimpang.

Pun, Engels menyebut bahwa peradaban manusia ditentukan oleh proses produksi dan reproduksi. Kelompok homoseksual tak masuk kriteria pembangun peradaban ala Engels karena mereka tak bisa bereproduksi. Pada akhirnya, mereka juga susah untuk berproduksi karena mendapat kontrol sosial yang membabi buta.

Jika sudah demikian, opresi demi opresi akan terus menimpa kelompok homoseksual sebagai kaum minoritas. Kita bisa dengan amat gamplang melihat opresi terhadap kelompok homoseksual terjadi di berbagai negara seperti adanya hukum rajam sampai mati terhadap kelompok LGBT di Brunei Darussalam.

Di Indonesia, kondisinya tidak lebih baik. Masih banyak pihak, bahkan yang berada dalam tataran pemerintahan mengidap homofobia sampai menelurkan kebijakan yang menyudutkan kelompok homoseksual. Hidup saja susahnya minta ampun.

Parahnya, ada beberapa perguruan tinggi yang ikut-ikutan membuat kebijakan represif kepada kelompok LGBT seperti yang terjadi di Universitas Sumatera Utara (USU) beberapa waktu lalu. Padahal, seharusnya perguruan tinggi membebaskan diskusi apapun selagi masih dalam koridor akademik, bukan moral.

Menurut riset Arus Pelangi, organisasi yang memperjuangkan hak-hak kelompok LGBT di Indonesia, ada 142 kasus penangkapan, diskriminasi, ujaran kebencian, pengusiran, bahkan penyerangan terhadap LGBT pada 2016.

Menilik data tersebut, tidak heran jika masih banyak teman-teman dari kelompok LGBT yang bersikap denial dengan orientasi seksualnya dan bersikap layaknya kelompok heteroseksual pada umumnya ketika berinteraksi dalam masyarakat agar dapat diterima secara sosial. Ketika kita harus bersikap palsu di depan orang, itu sangat menyiksa.

Meski homoseksual tidak lagi digolongkan sebagai gangguan jiwa menutut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) II tahun 1983 dan PPDGJ III tahun 1993, hal tersebut bisa dikategorikan sebagai gangguan jiwa jika seorang homoseksual mengalami konflik psikis akibat penerimaan negatif terhadap orientasi seksualnya.

Tetapi, mau bagaimana lagi? Ketika sudah coming out, banyak represi dari sana-sini, bahkan sampai menimbulkan kekerasan yang berdampak fisik maupun psikis. Kamuflase menjadi ‘normal’ mungkin jadi satu-satunya cara efektif agar diterima oleh masyarakat dan tidak mendapatkan diskriminasi.

 Mungkin, kita tidak pernah merasakan bagaimana menjadi bagian dari kelompok homoseksual yang begitu sulit untuk berekspresi, apalagi coming out. Pun, mungkin kita juga sama sekali tidak memiliki anggota keluarga atau teman dekat homoseksual sepanjang hidup.

 Namun, kita perlu menyadari bahwa di dunia ini tidak hanya berisi laki-laki dan perempuan, dan kita tak perlu takut akan hal itu. Jika tidak suka, setidaknya kita perlu menunjukkan rasa empati dan menjadi manusia yang baik dengan tetap memperlakukan semua kelompok sebagai manusia.