Terus saya katakan! Ini bukan persoalan agama, tuhan dan manusia. Tetapi ini adalah persoalan negara, konstruksi hukum dan penegakan hukum yang sifatnya berlaku terhadap keadilan dan kesetaraan manusia.

Benar dan salahnya nanti,— kita hanya bisa mengembalikan marwah dan persoalan ini ke sidang pengadilan. Namun, sebagai asas tunggal dan kebenaran mutlak. Anda sepenuhnya yakin dan percaya bahwa persoalan ini harus di selesaikan dengan hukum. Dengan tanpa harus intervensi dari pihak manapun.

Sebagai penulis, tidak ada hak untuk menyela, mengurus dan menyelesaikan kasus ini. Tetapi sebagai hak pribadi, memiliki tanggung jawab dan kewenangan penuh untuk memantau kebijakan publik.

Sesuai UU no 9 tahun 1998, tentang kebebasan menyampaikan ide, gagasan dan pendapat. Itu di lindungi oleh negara dan UU. 

Sebab bagi negara, asas, hak, kedudukan, dan kebenaran di muka hukum. Itu harus di berlakukan setara, sama dengan manusia-manusia lain. Baik Mentri, Kapolri, Jendral, maupun masyarakat sipil. Tidak ada yang berbeda, semuanya sama. Sekalipun presiden! Jika berbuat salah dan melanggar hukum, dan ketentuan pasal yang berlaku. Maka harus disikat. Sesuai UU  Pasal 27 ayat 1.

Tetapi, kenapa Habib Bahar bin Smith ditahan? Dijadikan tersangka, seolah-olah kelompok-kelompok Islam adalah radikal, ektremis, dan memusuhui negara.

Dari sejak berdirinya suatu negara, ideologi dan konstitusional kita, apakah tidak ada intervensi dan campur tangan ulama? Seperti MUI, Muhammadiyah, NU, FPI dan ormas-ormas Islam lainya.

Apakah kontribusi besar TNI, Kapolri, dan Pemerintahan jauh lebih besar daripada kontribusi masyarakat sipil. Artinya, jika masa depan dan masa lalu bangsa, negara ini masih jauh dari keterpurukan dan perilaku kemanusiaan. Maka tidak ada yang salah dengan kritikan Habib Bahar bin Smith.

Karena narasi yang dia bangun itu berdasarkan atas kegelisahan dan kegelimpungan atas pemikiran dan kecacatan Jendral Dudung. Menurutnya “Tuhan itu bukan orang Arab”.

—Bagi Habib bin Smith, bahwa persoalan tuhan tidak bisa di samakan dengan manusia, apalagi sekelas makhluk, budaya, ras, dan suku. Semuanya berdasarkan hukum, asas, dan ketentuan sifatnya masing-masing.

***

Makanya bagi penulis, sangat ideal dan masuk akal sekali, jika di telisik,—premis yang di bangun oleh Habib Bahar bin Smith. Itu sangat mengusut dan menjatuhkan marwah Islam.

Apalagi berdirinya suatu negara, konstitusi dan bangsa ini berdasarkan asas tunggal, dan filosofis Gronslag. Yaitu Ketuhanan yang maha esa. _Berdiri di atas kepercayaan dan keyakinan masing-masing, dengan tanpa harus mengubah dan mengutuk keras kepercyaan dan keyakinan orang lain. Itu "adalah Indonesia".

Kali ini, saya tidak ingin menjatuhkan kedudukan dan kekuatan khusus TNI, Pemerintah dan Kapolri dalam suatu menjalankan misi. Tetapi mereka harus ingat! Bahwa satu kesalahan kecil yang di buat dan di sampaikan oleh Jendral Dudung. Itu dapat mengakibatkan suatu ancaman bagi suatu kelompok, ras, suku, agama, dan negara. 

Harusnya Jendral Dudung sebagai pangkat Jendral, mengajak dan mendiskusikan soal ini di kelompok-kelompok Islam. Undang tokoh-tokoh MUI, Muhammadiyah, NU, dan ormas-ormas Islam lainya, yang di anggap kuat dan penting dalam menyikapi masalah ini.

Bukan lagi melaporkan dan menjadikan dia tersangka. Seolah-olah dia adalah tokoh pemberontak, dan pembangkang di negara sendiri, Indonesia. Benar dan tidaknya nanti, adakan musyawarah. Selesaikan dengan dialog dan adakan dengan diskusi. Tanyakan apa narasi, ide dan penyampaian yang dia maksud. Dan apa yang di anggap provokatif, kebencian dan penyampaian berita bohong?

Secara utuh, —dia hanya membela kebenaran dan mengusut kezoliman. Menurutnya, apa yang di anggapnya benar. Maka dia sampaikan, dan apa yang dianggap salah. Maka dia luruskan. Meskipun darah menjadi taruhan dan mengalir dari sekujur tubuhnya. Demi kebenaran, maka dia akan tegakan. Sekalipun tubuhnya yang terbelah.

Oleh karena itu, saya akui keberanianya. Relatif dan kooperatif orangnya. Tidak akan takut dengan siapapun. Sekalipun nyawa yang menjadi taruhanya. Bagi dia Indonesia adalah harga mati.

Kalau kemudian Habib Bahar bin Smith di anggap oleh TNI lagi sebagai pihak yang intervensi, penyebaran berita bohong, dan memprovokasi tugas dan tanggung jawab TNI.

Di masa?

Secara jelas, dia mengkritisi perkataan Jendral Dudung bahwa “Tuhan itu Bukan Orang Arab”, lantas pertanyaan Habib Bahar bin Smith, —"Tuhan itu Orang Mana?

Dari sinilah percecokan kelompok-kelompok FPI, dan Habib Bahar bin Smith, serta ormas-ormas Islam lainya di anggap bersebrangan dengan TNI, Polri dan Pemerintahan.

Padahal tugas utama dan fungsinya lembaga Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia di fungsikan oleh negara untuk mengamankan wilayah, teritorial, dan keamanan masyarakat. Bukan lagi menangkap ulama.

Terbalik sekarang! Seharusnya Jendral Dudung membedah dulu apa yang menjadi frasa dan pernyataan Habib Bahar bin Smith?  Sebelum di jadikan tersangka.

Sebab, jika seyogianya membuat dia tersinggung. Ketika menyatakan bahwa Tugas Utama TNI adalah menangkap Kelompok Keras Bersenjata, (KKB). Maka undang beliau, dan ajak dialog beliau. Biar kita tahu, sistem dan strategis politik apa yang mereka bangun ketika menjalankan misi dan agenda.

Tetapi, —kenyataannya tidak! Justru mereka di anggap lawan politik, menentang ideologi, membasmi konstitusi. Dan bahkan pula sekelas habib Bahar bin Smith dan kelompok-kelompok Habib Rizik Sihab itu di jadikan kontradiktif terhadap kekuasaan dan kemajuan negara.

Karena pandangan-pandangan mereka bertentantangan dengan kelompok -kelompok-kelompok Islam lainya. Habib Lutfi tidak sependapat dengan beliau, habib qurais bersebrangan dengan beliau, NU bertolak belakang dengan beliau, dan yang lebih parah lagi adalah Ade Armando dan Deni Siregar.

Padahal kalau kita cermati! Misi dan agenda utama yang mereka jalankan adalah memulihkan ruh agama, dan menghidupkan kembali demokrasi. Agar supaya misi dan agenda besar konstitusi kita kedepan bisa jauh lebih baik daripada hari kemarin.

Kenapa Justru Habib Bahar bin Smith di tangkap pula? Indonesia tidak adil.