“Ah masih mending itu mah”, “Udahlah gak usah terlalu dipikirin!”, “Santai aja kali jangan dibawa hati”, “Dasar remaja gampang sensitif”, “Gitu doang baper sih!”.

Contoh kalimat diatas dan masih banyak kalimat serupa lain sering kita temukan dalam percakapan sehari-hari baik dengan teman dalam pergaulan, dengan pasangan atau bahkan dengan kakak /adik kita sendiri.

Selama ini kita sering mengatakan kata “baper” dan hal-hal yang dihubungkan dengan kata tersebut. Emangnya kalian tau gak apa sebenarnya arti “baper”?. Dalam KBBI sendiri artinya adalah (ter)bawa perasaan; berlebihan atau terlalu sensitif dalam menanggapi suatu hal. Mulanya kata tersebut adalah bahasa gaul yang diciptakan anak muda dari gabungan dua kata yaitu “bawa & perasaan”. Sama halnya dengan kata “mager & gabut” yang tersusun dari dua kata dan sering digunakan dalam percakapan keseharian.

Tak sesimpel dari gabungan dua kata, baper sendiri dalam istilah psikologi dikenal dengan sebutan Highly Sensitive Person (HSP). Istilah ini dicetuskan oleh psikolog Elaine N Aron. HSP juga dapat disebut sebagai sensory-processing sensitivity, yang merujuk pada peningkatan sensitivitas dari sistem saraf pusat dan proses kognitif mendalam terhadap stimulus fisik, sosial, dan emosional. Hal ini hanya terjadi pada 15-20% populasi manusia (satupersen.net, 2020).

Baper juga bisa dikatakan serupa dengan empati tapi tak sepenuhnya sama. Orang dengan HSP ini memiliki kepekaan atau kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya sekalipun pada hal-hal kecil. Jika orang dengan empati yang tinggi akan memfokuskan atensinya pada orang lain agar bisa merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain tapi, lain hal dengan orang HSP disini atensi akan berpusat pada dirinya sendiri sehingga mereka cenderung merespon sesuatu secara berlebihan lalu bisa dijuluki dengan “baper”.

Bicara soal HSP atau baper, kaum muda adalah yang paling banyak mendapat julukan sebagai si baper. Sebenarnya apa aja sih yang menyebabkan seseorang mudah baper?. Masa remaja adalah masa peralihan dari kana-kanak menuju dewasa dan pencarian jati diri yang sesungguhnya. Banyak perubahan yang akan dihadapi dalam masa ini dan hal itu akan cenderung membuat remaja mudah stress.

Dikutip dari (womantalk.com, 2019) Menurut psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., “ciri khas generasi milenial adalah mereka sangat menghargai diri sendiri dengan sangat tinggi. Apa pun yang bagus buat diri sendiri, dikejar dan dikerjakan. Kalau tidak, ditinggalkan”. Remaja kini memiliki pola asuh yang cenderung dimanja, orang tuanya berusaha mampu memenuhi segala kebutuhan & apa yang diinginkannya. Jadi mereka merasa harus bisa menjadi versi terbaik dari dirinya dan tentunya ingin mendapatkan segala sesuatunya dengan baik.

Dilansir dari (satupersen.net, 2020) Tingkat sensitivitas yang tinggi dipengaruhi oleh faktor genetik antara lain:

1. Serotonin

Pada orang-orang yang memiliki sensitivitas tinggi, terdapat variasi pada serotonin transporter. Nah karena HSP cenderung punya tingkat serotonin yang rendah, maka mereka sering kesulitan dalam mengontrol emosi negatifnya.

2. Dopamine

Orang HSP memiliki sensitivitas terhadap reward yang berbeda dengan mereka yang bukan HSP. Jika umumnya orang akan lebih suka diberi reward eksternal, lain dengan HSP yang malah menyukai reward internal untuk memuaskan dirinya sendiri.

3. Norepinephrine

Biasanya juga disebut sebagai hormon stres. Orang HSP memiliki kadar hormon ini yang lebih tinggi daripada mereka yang bukan HSP. Oleh karenanya HSP dapat memberikan respon emosional dari lingkungan yang lebih jelas lalu menjadikannya lebih peka & berempati daripada mereka yang bukan HSP.


Selain faktor di atas, ada juga faktor eksternal yang memengaruhi antara lain:

1. Tidak mengenali tujuan diri

Orang akan cenderung ingin menyajikan yang terbaik dimuka umum & berusaha mengikuti tren yang ada di lingkungannya tanpa punya tujuan hidup dari awal serta tanpa mau memikirkan risiko yang akan dihadapi dalam hidupnya. Lalu jika mendapat hal yang bertentangan dengan apa yang dia mau akan menjadikannya lebih sensitif sehingga mudah terbawa perasaan.

2. Terlalu mencintai sesuatu

Orang sering menggantungkan kebahagiaannya pada orang lain ataupun pada benda mati. Sehingga jika ekspektasi itu tidak terpenuhi orang akan menjadi lebih perasa & baper.


Dalam sebuah jurnal penelitian (Nuha et al., 2020) menyebutkan bahwa sebanyak 43,5% responden merasa bahwa subjek penyebab baper adalah pasangannya, sedangkan subjek penyebab baper terendah adalah dari orang tua yaitu 13% saja. Selaras dengan faktor eksternal nomor 1, pada jurnal ini disebutkan para generasi muda mengalami kesenjangan antara real self dan ideal self. Lalu mereka cenderung berusaha mengubah dirinya sedemikian rupa agar mampu diterima dengan baik & mendapat first imperession yang barik dari banyak orang lebih khususnya dalam lingkup pergaulannya.

 

Daftar Referensi

Nuha, R. A., Basilisa, G., Ferent, F., & Situmorang, D. D. B. (2020). Perilaku bawa perasaan (BaPer) dikaji menurut teori Person-Centered. https://doi.org/10.31234/osf.io/r4p7c

satupesen.net. 2020, 8 Desember. Highly Sensitive Person: Kepribadian atau Gangguan?. Diakses pada 17 September 2021 dari https://satupersen.net/blog/highly-sensitive-person-kepribadian-atau-gangguan

womantalk.com. 2019, 23 Juli. Menurut Psikolog, Ini Alasan Kenapa Generasi Milenial Sering Bersikap Baperan. Diakses pada 17 September 2021 dari https://womantalk.com/news-update/articles/menurut-psikolog-ini-alasan-kenapa-generasi-milenial-sering-bersikap-baperan-ykXpz