Ketika aku kecil, misteri terbesar bagiku bukanlah bagaimana bayi dibuat, tapi kenapa. Aku memahami tata cara teknisnya. Dari sumber pengetahuan, dari buku, dari cerita kakaku, dari cerita sahabatku yang sudah menikah dan punya anak, dan kadang dari imajinasiku. 

Aku jadi benar-benar memahaminya. Anak dibuat dengan cara demikian. Soal ini, aku tak terlalu berkomentar. Aku justru dipesulit dengan pertanyaan kenapa. Tepatnya, kenapa bayi dibuat.

Dalam ingatan pertamaku, aku berusia tiga tahun dan aku didapati sedang berusaha membunuh saudara perempuanku. Aku tahu persis. Waktu itu. Ketika aku menekan bantal pada mukanya, ujung hidung saudaraku pun dihimpit sarung bantal. Untung ayah cepat-cepat menarik aku dan memindahkanku ke kamar sebelah. Dari balik palang dinding, niatku menjadi-jadi. Apa daya, aku masih belum memiliki kuasa.

Ketika aku beranjak dewasa, aku menyadari betapa kehidupanku sungguh bergantung pada saudaraku. Aku berani mengatakan kalau aku tampak seperti orang hidup karena dia. Ketika menemaninya tidur, aku hampir tak sempat berpikir soal apa yang terjadi ketika aku berusia tiga tahun silam. Aku memang demikian. Mungkin, kejadian itulah yang membuatku berbalik: aku menjadi penjaga saudaraku.

Jodi Picoult pengarang novel My Sister’s Keeper (2004), membuka tulisannya dengan judul “Anna.” Novel ini menjadi salah satu novel bestseller internasional. Yang ada di tangan saya sekarang adalah cetakan kesembilan yang terbit tahun 2014. Majalah People bahkan berkomentar soal novel ini: “Novel yang dirangkai indah ini, akan merenggut perhatian Anda sebagai pembaca dengan topik yang mengejutkan.”

Novel ini, memang mengulas, betapa semua jejak hidup kita memiliki pesan yang mendalam untuk direfleksikan. Jika dirangkai, semua peristiwa yang tadinya berupa potongan-potongan kisah justru menjadi sebuah plot narasi yang apik dibaca dan lama dikenang ingatan. 

Tidak mudah merangkai potongan kisah yang terfragmentasi. Akan tetapi, dengan stamina menulis dan ingatan yang basah di musim hujan Desember ini, saya pikir inilah waktu terbaik untuk mencicipinya.

Novel ini, saya rebut dari sahabat saya Pit Duka Karwayu. Saudara saya ini memang mengagumi tulisan sastra, apalagi bertajuk novel. Ketika pemilik asli novel ini, Rm. Yohanes Mangge, CMF memberikan opsi untuk memilih, mata saya langsung terpikat pada buku setebal 20cm dimana covernya bertuliskan My Sister’s Keeper (Penyelamat Kakakku). Aku merebutnya seketika. “Ini untukku,” kataku saat itu.

Pada catatan awal tanpa ilustrasi bab khusus, Jodi Picoult membuka tulisannya dengan sebuah judul sederhana. Aku bergumam: “Sepertinya, ini nama seseorang. Ini mungkin tokoh utama dalam novel ini: Anna.” 

Ya memang benar. Anna dilahirkan, tidak lain untuk menyelamatkan kakaknya Kate. Dalam masa-masa awal, Anna tak tahu pasti kenapa kedua orangtuanya begitu menyayangi sang kakak. Rasa iri hati bercampur ingin tahu mewanti-wanti kehidupan Anna.

Anna bercerita. Beberapa jam setelah lahir, aku sudah menyumbangkan sel darah tali pusatku untuk Kate. Setelah itu, aku harus menjalankan perawatan intensif. Puluhan jarum keluar-masuk tubuh mungilku. Sempat beberapa kali transfusi darah dan melakukan operasi hanya demi menyelamatkan kakakku Kate. 

Memang, untuk tujuan menyelamatkan Kate-lah Anna dilahirkan ke dunia ini. Dan, pada saat masa kritis menimpa Kate, ibunya meminta Anna menyubangkan ginjalnya untuk Kate.

Menginjak usia remaja, Anna mulai berani mempertanyakan tujuan hidupnya. Sampai kapan ia harus terus menyuplai kebutuhan kakaknya? Hingga pada suatu kesempatan, Anna berani mengambil keputusan untuk menggugat kedua orangtuanya agar ia sendiri memperoleh hak atas tubuhnya sendiri. 

Keputusan ini memang berat. Pertanyaaan-pertanyaan Anna tidak mudah untuk dijawab. Keputusannya untuk menggugat kedua orangtuanya, justru berakibat buruk pada nasib kakaknya Kate yang sungguh ia sayangi.

Inilah rentetan cerita yang diulas satu per satu dalam novel Jodi Picoult. Babak demi babak, pembaca dibuat semakin penasaran. Kadang pembaca geram dengan sosok Anna. Kenapa Anna sampai bertindak ceroboh terhadap kakaknya Kate dan kedua orangtuanya? 

Pilihan Anna adalah sebuah tuntutan manusiawi. Ia bahkan mengutuk keberadaannya. Ia mengutuk dirinya sendiri: “Kenapa aku sampai dilahirkan kedua orangtuaku?”

Kita mungkin bisa flashback menenun ingatan soal kenapa orangtuaku menginginkanku hadir di dunia ini. Sebelum kita sampai pada refleksi soal Gods Will (rencana Tuhan), pertanyaan seputar eksistensiku pertama-tama perlu ditanyakan kepada kedua orangtuaku. 

Dalam buku rencana kedua orangtua, ada list yang sengaja dihitamkan lebih tebal agar list itu terpenuhi. Kedua orangtuaku menikah lalu berencana punya anak. Lalu, untuk apa anak dilahirkan?

Tokoh Anna mempertanyakan hal ini secara kritis. Soal bagaimana anak dibuat, hal ini tentunya biasa. Akan tetapi, pertanyaan soal kenapa anak dibuat, lantas kita arahkan ke kedua orangtua. Kita paham, saban hari mereka pernah berencana usai menikah. Mereka punya komitmen. 

Mereka punya mimpi dan harapan. Tapi, aku yang dibaptis dengan nama Anna atau siapapu, sejatinya untuk apa? Apakah untuk memperbaiki yang sudah ada? Ataukah karena kecelakaan? Atau mungkin karena mereka setengah sadar usai mencicipi anggur semalam?

Ketika aku kecil, misteri terbesar bagiku, bukanlah bagaimana bayi dibuat, tapi kenapa. Aku memahami tata cara teknisnya. Dari sumber pengetahuan, dari buku, dari cerita kakaku, dari cerita sahabatku yang sudah menikah dan punya anak, dan kadang dari imajinasiku. 

Aku jadi benar-benar memahaminya. Anak dibuat dengan cara demikian. Soal ini, aku tak terlalu berkomentar. Aku justru dipesulit dengan pertanyaan kenapa. Tepatnya, kenapa bayi dibuat. Tanyakan pada kedua orangtuamu!

Anak-anak seusiaku memang getol dan belum puas dengan jawaban soal bagaimana bayi dibuat. Mereka bolak-balik membuka kamus. Mereka sibuk mencari kata penis dan vagina dalam kamus – karena memang kata-kata ini dekat dengan hal teknis bayi dibuat. Dan, tentunya, kata-kata ini tidak terlalu memadai untuk menjelaskan bagaimana bayi bisa dibuat. 

Dari orangtua, tidak semua pertanyaan ini dijawab secara pasti dan serius. Karena gagal menjelaskan, anak-anak lalu menemukan sendiri. Mereka menemukan bahwa bayi dibuat karena cinta antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Setelah itu, silahkan dibuktikan sendiri.

Sampai di situ, kiranya jelas. Padahal tidak. Itu tidak cukup. Semakin diskemakan dalam simbol-simbol tertentu, semakin lebar rasa penasaran anak-anak seusiaku. Dan, ketika semuanya diketahui, betapa mereka menaruh jarak dari sana. Ada beban yang harus dipikul. Ada ini-itu. Pokoknya ribet. Semuanya tak segampang bayi itu dibuat. Lebih daripada itu sebetulnya: soal kenapa bayi dibuat? Kenapa?

Kuberitahu ya, jika ada alien mendarat di bumi ini hari ini dan melihat dengan baik kenapa bayi dilahirkan, mereka akan menyimpulkan bahwa kebanyakan orang memiliki anak karena kecelakaan, karena mereka minum alkohol dan anggur terlalu banyak pada malam-malam tertentu, atau karena alat kontrasepsi tidak terlalu berfungsi dengan baik. Alasan-alasan lain, bisa saja mengantri untuk dijelaskan. Alasan-alasan ini tentunya ‘tak terlalu baik untuk dibanggakan.

Anak pertama-tama lahir karena rencana. Jika kedua makhluk berjenis kelamin berbeda itu tak memiliki rencana, mereka mungkin bisa memendam hasrat untuk memiliki anak. Dari rencana itu, mereka membingkainya dalam tali cinta. 

Bayi pun dibuat dalam kerangka cinta antara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Bayi lahir, karena cinta keduanya tak mungkin dipertahankan atas nama cinta semata. Anaklah atau bayi-lah bukti nyata dari seribu macam sembelit cinta antarkeduanya. Saya pikir cukup.