Mikhael Alexandrovich Bakunin atau lebih dikenal dengan Bakunin secara luas dianggap sebagai sosialis paling berpengaruh pada abad ke-19. Pemikiran-pemikirannya yang begitu berani dan revolusioner membuat ia dijuluki sebagai Bapak Anarkisme yang pengaruhnya terutama meluas di dataran Eropa.

Bakunin tak hanya menggugat lembaga negara, atau pemerintahan yang dianggap paling bertanggungjawab dalam memperbudak manusia, sebaliknya Bakunin pun menggugat keberadaan Tuhan yang dianggap sebagai sosok otoriter lainnya, yang menciptakan manusia tak lain sebagai budak penyembahan sekaligus budak atas dogma-dogma agama.

Dalam salah satu bukunya yang kesohor God and the State, Bakunin bahkan dengan terang-terangan memuji perangai setan sebagai pemberontak gagah yang telah membimbing manusia keluar menuju jalan kebebasan sesungguhnya, di mana manusia tak lagi menjadi budak Tuhan, melainkan budak bagi naluri dan kehendaknya sendiri.

Sebagian besar orang yang mungkin tak pernah benar-benar bersinggungan dengan pemikiran Bakunin akan rentan menganggapnya sebagai penentang agama bahkan musuh Tuhan, meski kenyataannya Bakunin saya pikir tak pernah hendak 'melenyapkan' eksistensi Tuhan sepenuhnya dalam khazanah kebutuhan rohani manusia.

Bagaimanapun manusia yang menganggap diri lemah memerlukan 'kekuatan' yang lebih besar di luar dirinya untuk menjawab segala misteri yang bahkan oleh ilmu pengetahuan paling masyhur saat ini masih gagal menjawab pertanyaan paling dasar  mengenai dunia dan manusia. "Bagaimana dunia ada dan bagaimana dunia akan berakhir?" atau "apa yang terjadi setelah manusia mati?"

Jawaban atas dua pertanyaan besar itu pada akhirnya hanya mampu dijawab lewat hipotesis-hipotesis belaka yang hingga hari ini masih diperdebatkan dalam ranah ilmiah.

Kelemahan dan ketidakmampuan ilmu pengetahuan lantas memberi ruang cukup besar bagi agama untuk berkembang secara luas, menjawab rasa ingin tahu sekaligus kebingungan-kebingungan manusia.

Tuhan pada titik tertentu--yang keberadaannya masih tak bisa dibuktikan ataupun disangkal hingga hari ini memberikan setitik petunjuk atas pemikiran-pemikiran abstrak manusia.

Kebutuhan akan Tuhan yang telah begitu mendarah daging dalam jiwa manusia mendorong manusia untuk mulai membangun kepercayaan dengan berlandaskan takhayul yang sulit dipercaya. Namun, anehnya ia dipercaya lebih dibandingkan ilmu pengetahuan sendiri.

Sampai di sini saya pikir Bakunin pun mengamini hal serupa. Ia sekali-kali tak pernah benar-benar menggaungkan kematian bagi eksistensi Tuhan, sebaliknya ia menyerukan rasa tidak puas akan kelompok-kelompok agama yang seringkali menggunakan dogma agama untuk menunjukkan dominasi atas diri manusia sekaligus menjadikan manusia sebagai budak atas kehendak Tuhan; yang bahkan tak diketahui seorang manusia pun.

Tuhan dan agama seringnya menjadi alasan bagi manusia untuk melanggengkan pembunuhan, perang dan pendudukan atas manusia lain. Dan disebabkan ini semua dianggap sebagai kehendak sejati Tuhan, semua orang menutup mata dan menganggap pembunuhan adalah satu kebenaran mutlak.

 Sikap otoriter yang tergambar dalam agama dan sosok Tuhan turut mengular pada sistem pemerintahan jebolan manusia. Bukan lagi hal aneh mendapati politik yang menunggangi agama maupun agama menunggangi politik. Semua tak lain dilakukan demi menanamkan pengaruh sekaligus cuci otak untuk kekuasaan dan memperluas pengaruh.

Agama pada akhirnya menjelma tak lebih sebagai pedang bermata dua yang bebas digunakan pihak-pihak yang berpengaruh dan mengaku dekat dengan Tuhan, meski kenyataannya klaim-klaim tersebut datang tak lebih dari naluri kebinatangan dalam diri manusia yang hanya ingin memuaskan ego atas kekuasaan maupun kendali atas diri orang lain tak peduli sekalipun hal tersebut berarti meminum darah sesama manusia.

 Sekalipun Bakunin seringkali tampak menentang pengaruh agama dalam kehidupan sosial manusia, Bakunin tak sepenuhnya merasakan kebencian yang absolut. Ia juga tak sungkan memuji ajaran Kristen maupun eksistensi Yesus.

Sampai di sini saya meyakini bahwa Bakunin bukanlah pemikir tanpa moralitas. Sebaliknya ia menjunjung standar moralitasnya lebih tinggi di atas agama itu sendiri. Sesuatu yang sudah hampir dilupakan oleh nyaris sebagian besar orang-orang beragama.

Kebanyakan orang beragama hari ini terutama di Indonesia, seringkali menjadikan agama maupun atribut keagamaan sebagai tolak ukur nilai moralitas seseorang. Sekalipun hal tersebut seringnya berujung pada hal-hal yang lantas mengecewakan.

Ketidakmampuan masyarakat membedakan antara moralitas dan agama yang dianut seseorang lantas menjadi tanda tanya besar untuk manusia hari ini, apakah mereka jelas mengerti perbedaan moralitas dan agama?

Mencampurkan antara moralitas seseorang dengan agama merupakan satu bentuk kedangkalan berpikir, sebab agama tak bisa menjadi tolak ukur moral seseorang begitupun sebaliknya.

Seseorang bisa saja menjadi individu bermoral meski di saat yang sama ia bukanlah orang beriman. Begitupun sebaliknya. Seseorang bisa saja orang beriman namun ia memiliki moralitas yang buruk dan menjadikan agama tidak lebih sebagai topeng yang mengelabui.

Kecenderungan untuk menilai seseorang berdasarkan atribut agama yang melekat padanya tak lebih hanya pola pikir bias yang dikembangkan masyarakat. Dan tak peduli seberapa menyimpang hal tersebut, ia masih terus diyakini hingga hari ini.