Ketenangan yang abadi adalah kebersamaan yang berhasil melengkapi dan mengalahkan rasa sepi.

Di dalam kegelapan nan penuh kesunyian, aku telah menemukan ketenangan dan perdamaian. Bahkan, di dalam sana aku sempat berkomunikasi dengan Penguasa dari segala penguasa, membicarakan apa pun yang telah diciptakanNya. Sayangnya, perdamaian dan ketenangan tersebut harus berakhir ketika aku dikeluarkan dari ceruk kegelapan nan kesunyian.

Ya. Aku telah dilahirkan atas kehendak dan persetujuan Tuhan. Tanpa melakukan penyelundupan ataupun sesuatu yang ilegal, aku pun berhasil memasuki kehidupan yang baru, sebuah masa yang mungkin dapat memberikan pengalaman yang menegangkan sekaligus mendebarkan atau justru pengalaman yang menyakitkan bahkan mengerikan.

Tanpa sadar aku telah melewatkan banyak waktu, menyia-nyiakan tenaga, serta menghambur-hamburkan harta. Apakah seperti ini ketenangan yang pernah aku dan Penguasa bicarakan? 

Sepertinya bukan, bukan ini ketenangan yang asli. Apa yang aku miliki di sini tidak memberikan sebuah arti dalam hati, berbeda dengan di dalam kegelapan. Di sana aku menemukan sebuah arti yang membanggakan diri, walaupun bukan harta ataupun kuasa yang aku punya, tetapi ketenangan yang membawaku ke haribaan Penguasa itulah satu-satunya penawar dalam kegalauan dan keresahan jiwa.

Kenapa aku dilahirkan? Pertanyaan seperti itu kerap muncul dalam benak pikiran, bahkan  ketika aku masih dalam kandungan. Apakah aku harus menapaki sebuah jembatan fana jikalau memilih berenang adalah sebuah kenikmatan dalam mencapai sebuah tanah keabadian? 

Aku menangis, merengek, dan mengemis agar dapat kembali dalam kegelapan dan kesunyian. Tetapi, Tuhan tak berkenan. Aku dilahirkan karena aku adalah pilihan, sebuah tantangan dan proses pembuktian sebagai manusia yang berbudi dan berakal.

Aku adalah sesosok bayi yang sama ketika Hitler baru dilahirkan, aku juga bayi yang sama ketika seorang yang bernama Alexander merengek kepada ibunya. “Semua manusia adalah sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan”. 

Melalui ketakwaan atau bentuk kepatuhan kepada Pencipta, antar manusia dapat dinilai kualitas dirinya. Bukan kekuatan, bukan pula kekayaan apalagi modal “orang belakang” sehingga seseorang bebas merendahkan dan mencaci maki sesuka hati.

Begitu pula perspektivisme Nietzsche dalam memandang apa itu kebenaran. Ia tidak hanya terkenal karena “Sang Pembunuh Tuhan” saja, melainkan ia juga dikenal sebagai manusia supernya era modern. Melalui gagasannya Will to Power yang lahir usai Nietzsche melihat onggokan tubuh manusia berserakan mati menyampah pada saat Perang Prusia. 

Pengalaman perang di mana saat itu Nietzsche sedang menjalani wajib militer ataupun sebagai tentara inilah yang membuat pandangan mengenai kekuasaan, sekecil apa pun porsinya, selalu mendorong seseorang untuk menambahkan kapasitasnya. 

Dari sini, penyelewengan kekuasaan yang menggoda tanpa antisipasi terhadap akibat buruk yang mungkin ditanggung oleh orang lain tampak begitu nyata.

Melihat problem yang dialami manusia sekarang ini pun tak ubahnya sebuah peperangan. Dimana dunia kini dilanda sebuah pandemi yang mau tidak mau telah merubah kebiasaan kita. 

Terlihat di berbagai awak media kepanikan yang menjurus kepada kekacauan, kehilangan kesadaran, bahkan kehilangan rasa kemanusiaan. Seiring berjalannya waktu, korban-korban pandemi silih berganti. Baik muda maupun tua, gagah ataupun lemah, semuanya tersapu gelombang pandemi.

Demikianlah pandemi ini menjadi pelajaran bagi setiap manusia agar kembali belajar dan menundukan kepala, kita telah lama menengadahkan kepala hingga melupakan kewajiban utama yaitu ketundukan kepada Pencipta. Dalam menghadapi krisis manusia inilah jalan keluar yang ditawarkan ada begitu banyak jalan yang disediakan, salah satunya menurut Nietzsche ada pada penyangkalan diri. 

Penyangkalan diri, dalam konteks ini, merupakan upaya pembebasan dari belenggu ambisi. Sebab ambisi, baik untuk hidup, mati, atau yang paling ekstrim seperti bunuh diri sendiri misalnya, akan membimbing manusia pada kehendak berkuasa. Ia beranggapan bahwa penerimaan terhadap penderitaan justru membimbing manusia pada (keagungan) eksistensi kemanusiaannya.

Dari Nietzsche “sang pembunuh” lah kita belajar, bahwa membunuh segala ambisi yang telah membelenggu kehidupan adalah solusi dalam menghadapi krisis manusia saat ini. 

Tanggalkanlah baju kekuasaan yang fana, kini saatnya saling mengulurkan tangan serta berjibaku melakukan perlawanan terhadap pandemi yang merongrong habis waktu ngopi bersama teman-teman. Karena dengan solidaritas inilah manusia yang benar-benar membutuhkan sekiranya dapat bertahan walaupun tanpa memiliki tameng pertahanan.

Pada akhirnya alasan mengapa aku dilahirkan menjadi jelas, ternyata bukan diriku saja yang menjadi pilihan Tuhan. Melainkan terdapat ribuan bahkan jutaan manusia yang terpilih mendapatkan hak istimewa berupa perjalanan di dunia yang fana ini.

Entah apa yang menjadi akhir perjalanannya hanyalah manusia itu sendiri yang dapat menjawabnya, apakah berakhir sendirian seperti sebelum keluar dari ceruk kegelapan? Ataukah berakhir dengan penuh kebersamaan bahkan bergandengan tangan menuju tanah keabadian? 

Inilah saat yang tepat untuk memilih. Karena, sebagai manusia yang berbudi dan berakal mendapatkan hak memilih adalah hal yang luar biasa daripada berdiam tanpa memperoleh suatu kenangan.