3 tahun lalu · 7683 view · 2 min baca menit baca · Keluarga joey.jpg

Kenapa Aku Bukan Joey Alexander?

Anak saya yang tertua, Sarah, beberapa kali mengeluh. “Apa sih bakatku? Apa sih keistimewaanku?” Ia melihat teman-temannya semua punya kelebihan. “Si A pintar matematika. Si B pintar bahasa Inggris. Si C pintar musik. Aku? Semua rata-rata aja, nggak ada yang menonjol,” keluhnya. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya suatu bakat istimewa, atau Anda merasa rata-rata saja?

Kalau kita lihat Joey Alexander, mau tidak mau kita mungkin akan bertanya, “Adilkah Tuhan?” Kalau saya yang diberi bakat demikian istimewa oleh Tuhan, tentu bukan Joey yang menjadi orang Indonesia pertama yang dinobatkan sebagai Grammy Award nominee, tapi saya. Lalu kenapa Tuhan memilih Joey, bukan saya?

Bakat adalah suatu misteri buat kita semua. Tidak ada yang bisa merekayasa bakat. Tidak orang tua kita, tentu saja tidak kita sendiri. Bakat adalah sesuatu yang diberi. Jadi, kalau kita tidak punya bakat, apa boleh buat, kita memang bukan “yang terpilih”.

Jadi, kalau kita bertanya, kenapa Tuhan memberi si A bakat istimewa, sementara si B tidak punya bakat istimewa, maka jawaban paling sederhananya adalah, itu hak Tuhan. Titik.

Persoalannya adalah, pertama, kita sering terlalu fokus pada keistimewaan orang lain. Kita lihat orang-orang istimewa, sementara kita tidak. Kenapa orang-orang itu istimewa? Karena mereka berhasil menemukan bakat dalam diri mereka.

Jalan untuk menemukan bakat itu tidak sama pada setiap orang. Ada yang segera menemukan, ada yang tidak. Joey menemukan bakatnya sejak dini, antara lain karena kedua orang tuanya menyediakan sebuah keyboard sederhana di rumah.

Bayangkan kalau Joey hidup di kampung tempat saya lahir, yang sangat terpencil, di mana alat musik tidak tersedia. Maka ia tidak akan menemukan bakatnya. Atau, tidak akan ada yang peduli pada bakatnya. Kita semua tidak akan mengenal Joey, bukan?

Jadi, poin terpentingnya adalah bagaimana kita menemukan bakat kita. Masalahnya adalah, sebagian besar dari kita tidak mencari bakat kita. Saya sendiri tidak pernah sadar bahwa saya bisa menulis, sampai saya berumur 40 tahun.

Apakah saya perlu menyesali keterlambatan ini? Tidak. Saya bergembira, dan kemampuan ini terus saya asah. Saya menikmati kesadaran bahwa saya bisa menulis, dan saya menikmati kegiatan mengasah bakat ini.

Hal lain adalah, kita sering melihat segala sesuatu sebagai sebuah cuplikan saja. Kita melihat Joey sebagai anak yang berbakat, dan itulah satu-satunya modal yang membuat ia bisa tampil di Grammy Award. Salah! Salah besar!

Berapapun hebatnya bakat seseorang, ia hanya akan menjadi sosok mati di dalam diri kalau tidak dikeluarkan dan dikembangkan. Orang dengan bakat luar biasa sekalipun perlu mengasah bakatnya agar berkembang. Kita tidak pernah mencari tahu berapa jam sehari Joey berlatih main piano. Saya yakin ia berlatih sangat keras dan tekun.

Tidak hanya itu. Orang tua Joey juga berkorban. Mereka sampai harus meninggalkan bisnis travel yang mereka kelola, demi membawa Joey berinteraksi dengan musisi jazz, untuk mengembangkan bakatnya. Itu bukan keputusan mudah. Hanya orang-orang yang punya visi, tekad, dan keyakinan yang bisa melakukan itu. Sanggupkah kita mengorbankan hal-hal lain untuk mengembangkan bakat kita?

Kepada Sarah anak saya, saya ajak dia untuk menikmati pencarian dan pengembangan bakatnya. Berhentilah meratapi diri sebagai orang yang tidak berbakat, mulailah mencari. Ada begitu banyak orang-orang yang berbakat, tapi mati membawa bakatnya itu tanpa pernah bisa mengembangkannya, menjadikannya sebagai modal untuk sukses. Lebih parah lagi, ada banyak orang yang punya bakat istimewa, tapi justru membuat masalah dengan bakatnya itu.

Artikel Terkait