Konflik disebabkan pendirian rumah ibadah masih membayangi kehidupan beragama kita. Meski di beberapa tempat malah rumah ibadah berjiran, entah itu Kristen dan Islam maupun agama-agama lainnya. 

Di Aceh misalnya, akan Anda temui masjid dan gereja saling bertetangga di beberapa kabupaten/kota. Padahal mayoritas penduduk di sekitar gereja adalah muslim.

Pemandangan itu sangat kontras dengan yang terjadi di Gunung Bulu, Yogyakarta. Kasus intoleransi yang sejak awal itu sangat aneh. Pendeta Tigor Yunus Sitorus (49) diharuskan membuat pernyataan bahwa tanah yang dibeli hanya untuk dibangun rumah.

Saya dan Anda barangkali sepakat bahwa ini pemaksaan. Kita beli tanah dengan uang sendiri, kenapa pula harus diatur penggunaannya? Begitulah kasus yang dialami pendeta Tigor Yunus. 

Pendirian gereja di tanah miliknya dihalangi warga dengan alasan pendeta Tigor telah menandatangi surat tersebut. Pendeta Tigor menyatakan ia di bawah tekanan saat meneken surat tersebut.

Meski pendeta Tigor tidak menyatakan di bawah tekanan, akal sehat cukup memberi informasi bahwa surat itu merupakan bentuk tekanan. Selain surat pernyataan itu, warga beralasan gereja akan mengganggu karena mayoritas penduduk beragama Islam.

Pendeta Tigor secara hukum negara telah mengurus izin pendirian. Yang artinya, tempat itu sah digunakan sesuai izin yang turun pada 15 Januari 2019. Penolakan atas gereja tersebut tidak bisa dibenarkan, baik secara hukum agama apalagi hukum negara.

Apalagi jika alasannya dapat memengaruhi keyakinan warga sekitar, bagi saya dan barangkali anda, alasan ini tidak dapat dijadikan dalil untuk melarang aktivitas pendeta Tigor dan jemaatnya.

Di kampung saya (Aceh), masjid Muhammadiyah dan sebuah gereja berjiran. Tidak ada ketakutan memengaruhi warga akan berpindah keyakinan. Bahkan ketika hari besar Kristen tiba, mereka (Muhammadiyah) menyediakan lahan parkir di pelataran masjid.

Toleransi seperti itu yang harusnya dibangun. Bukan malah intoleransi yang didasari ketakutan akan berpindah keyakinan. Sebuah ketakutan yang dilandasi lemahnya iman.

Mayoritas harusnya berani bukan malah takut. Mayoritas itu melindungi bukan mengusik. Gereja hanya sebuah bangunan atau sarana untuk melakukan ibadah. Gereja tidak dapat memengaruhi keyakinan seorang muslim yang benar dalam berislam.

Sejauh ini, saya belum menemukan korelasi antara gereja dan berpindahnya keyakinan seseorang. Kalaupun berpindah keyakinan, tidak ada kerugian dialami warga apalagi Islam.

Jika akidahnya benar, walaupun hanya sendirian di dunia ini menganut Islam, tidak akan membuatnya pindah keyakinan. Tentu saja ada peran akal disertai ilmu pula. Tidak perlu takut dengan gereja dan aktivitas di dalamnya.

Harusnya umat Islam belajar dari agama lain yang minoritas. Mereka dapat menjalani kehidupan beragama di tengah agama mayoritas. Pernahkah umat Islam sesekali mengambil posisi sebagai minoritas di Indonesia?

Belajarlah menjadi minoritas sehingga tahu bersyukur maupun bersikap benar pada minoritas. Sehingga lahirlah empati yang menjauhkan diri dari sikap paling berkuasa. Itulah mengapa penting bagi umat Islam berjalan-jalan di negeri yang mayoritasnya bukan Islam.

Saya heran ketika kasus anjing masuk masjid viral, bahkan seminggu lebih dibahas media nasional. Saya heran pula ketika MUI dilibatkan dalam perkara begituan. Sementara kasus dugaan pemerasan oleh oknum MUI terkait stempel halal sepi dari pemberitaan.

Umat Islam yang bertakwa itu akan mampu memengaruhi bukan dipengaruhi. Sebagaimana ditunjukkan para penyebar agama Islam di Indonesia pada saat Islam belum mayoritas.

Jika penganut Islam berpindah keyakinan, jangan salahkan penganut agama lain. Harusnya introspeksi diri, sudah benarkah cara menanamkan nilai-nilai Islam selama ini? Apakah dibekali ilmu serta akal yang sehat sehingga tak lekang oleh waktu dan keadaan?

Ketakutan pada gereja yang akan memengaruhi keyakinan merupakan bukti bahwa iman kita warisan tanpa proses penguatan. Sebuah warisan yang harusnya dikembangkan sehingga menjadi warisan yang lebih bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Kasus yang terjadi di Yogyakarta itu bukan satu-satunya terjadi di Indonesia. Meski tak sama namun tak jauh beda, biasanya umat Islam ditakuti dengan istilah kristenisasi. Lalu keresahan terjadi, tak sedikit yang berakhir dengan kekerasan fisik.

Teori konspirasi kristenisasi bukan hal baru di negeri kita. Sesekali diselingi teori Syiah akan menguasai Indonesia, lalu Sunni akan dibanta, serta cerita-cerita fiksi lainnya.

Kisah lainnya, Islam Liberal dan HTI, serta hal-hal yang didasari dugaan tanpa riset yang cerdas. Akhirnya kita hidup dengan penuh curiga. Belum lagi kisah Wahabi yang membuat tekanan darah naik.

Akibat malas belajar dan membaca apalagi menganalisis, umat beragama terancam menjadi masalah bangsa. Harusnya mereka menjadi modal sekaligus solusi bagi bangsa. 

Gereja yang hanya sarana melaksanakan kegiatan ibadah, diyakini memiliki kekuatan magis. Kehadirannya di tengah komunitas muslim dapat mengganggu keyakinan. 

Harusnya kehadiran gereja dapat menambah kesalehan. Ada peluang berdakwah melalui dialektika dengan ramah. Ada teladan yang dapat dicontoh sehingga bukan dipengaruhi akan tetapi memengaruhi.  

Jangan takut dengan gereja, takutlah dengan diri sendiri yang tak berilmu meski taat beribadah. Kebodohan itu lebih menakutkan dari apa pun, termasuk dari gereja yang dianggap menakutkan.