Pukul lima lewat seperempat, hari menua dengan keceriaan dua anak kecil saling kejar di taman melati. Anak laki-laki tampaknya lebih tua tiga tahunan dari anak perempuan. Si anak perempuan kira-kira berumur sekitar tujuh tahunan.

Aku iri, betapa wajah-wajah murni mereka belum terkontaminasi jagad ini. Harum melati menjadi saksi kedamaian sejenak karena tingkah manis mereka.

Damn! Tiba-tiba terjadi sesuatu teramat mengagetkanku. Tembok hatiku terdobrak paksa oleh sosok asing di seberang pandangan.

Dia berada di antara makhluk kecil itu. Kedua tangannya masing-masing digenggam erat oleh mereka. Persis, seperti ayah yang sedang menghabiskan akhir pekan dengan kedua anaknya.

"Ah, tapi dia terlalu muda untuk menjadi ayah anak-anak itu," batinku menolak. Kupikir, mungkin dia adik dari orang tua mereka. Yups, barangkali dia oom-nya.

Kuperhatikan semua detail kegiatan yang mereka lakukan. Pemandangan ini menyita dan menarik fokus perhatianku. Tanpa terasa, ada yang hangat dan ikut mengembang ketika ketiganya tertawa riang melihat kucing hendak menangkap burung gereja tapi burung itu terburu terbang: Senyumanku (dan mungkin juga hatiku).

Ternyata, tembok di hatiku belum terbangun cukup kokoh. Melihat hal seperti ini saja langsung hampir roboh. Eits, tunggu dulu. Sepertinya hal ini tak boleh diremehkan dan dianggap sepele.

Ketika banyak orang sedang sibuk dengan gawai dan permainan cacingnya, misalnya, dia lebih memilih ke taman dan bermain dengan anak-anak. Atau, bisa saja sebenarnya dia juga pemuja permainan menggelikan itu dan kebetulan saja singgah di taman ini. Hehe.

Sekilas tentang permainan cacing yang sedang viral, entah kenapa aku merasa geli dengan permainan tersebut. Warna-warni si cacing yang sempat kulirik di gawai temanku, langsung memualkan perutku. Hiii.

Untuk membunuh waktu, biasanya aku lebih memilih jenis permainan berkebun dan masak-masakan. Benar-benar memanjakan mata dengan warna-warni buah, sayuran, dan masakannya. Sayangnya, aku tak terlalu sabar menunggu tenggang waktu menuju masa panen tiba dan masakan matang.

Kelemahanku adalah tak sabar menunggu. Ketika bermain permainan di gawai, tujuannya adalah menghibur diri. Jadi, ketika aku malah merasa kesal (bukan terhibur), kuputuskan mengakhiri. Saat ini, aku lebih memilih menggiatkan diri dalam hal menambah wawasan (baca buku, menonton Youtube, berbagi cerita, dan lain-lain).

Baiklah, kembali lagi mengingat sosok asing pencuri hati. Jika pun dia memang hanya kebetulan singgah, ternyata tak mengurangi daya pesonanya di mataku. Objeknya adalah dia bermain dengan anak kecil. Entah mengapa dan bagaimana, terpesona bisa sereceh ini. Huh, dasar aku!

Ada sebagian orang yang mudah terpesona dengan hal-hal remeh-temeh. Hal remeh-temeh? Bagi orang lain, bisa saja ini termasuk dalam kategori remeh-temeh dan tak penting sama sekali.

Tapi, bagiku ini sesuatu yang sulit ditemui. Empati dan "hati" tidak semua orang bisa memfungsikan dengan semestinya. Tentu saja semua orang punya hati, tapi apakah sudah difungsikan dengan bijak? Oh, maafkan jika asumsiku terlalu sarkas (dan jujur).

"Ke mana dia?" Ah, aku panik kehilangan sosoknya. Karena ulah perdebatan di dalam kepalaku, aku sering "menghilang" sejenak dari kenyataan dan kehilangan apa yang kutatap.

Rasa kehilangan lumayan getir. Pun berefek pada kelinglungan. Sebenarnya juga tak harus terlalu disesali sampai sedemikian aneh, karena melihatnya pun juga tiba-tiba. Aku malah merasa menyesal telah mengizinkan perdebatan tiba-tiba menyergapku tadi.

Pemandangan yang kunikmati sirna sudah. Entah ke mana mereka beranjak. Bagian ini terlalu mengesalkan, seperti ditinggal pas lagi sayang-sayangnya (ups).

*

Ada yang tahu kenapa berduaan dengan secangkir kopi membuat lebih nyaman daripada berduaan dengan manusia? Kupikir, karena secangkir kopi benar-benar murni tanpa kepalsuan. Pahit ya pahit, jujur apa adanya. Dan, sekarang aku mulai menyukai kopi pahit tanpa gula. Supaya lebih terasa kemurniannya.

Wahai semesta, izinkanlah aku sejenak saja menikmati secangkir kopi ini dengan tanpa "tapi". Aku benci ribuan "tapi" yang bisa tiba-tiba menyerbu kepalaku.

Aku benci kala sore itu, serbuan aneh membuatku kehilangan dia, seperti sepenggal kisah yang kurang lengkap; seperti sebuah surat yang tanpa penutup; dan seperti sekeping hati yang masih sendiri. Hiyaaa.

Bagaimanapun keadaannya, yang namanya kehilangan selalu meninggalkan jejak tersendiri. Aku berharap semesta akan menurunkan hujan dan menghapus jejak si sosok asing penjajah ingatan. Aku benci "terjajah".

Ini sore ke sekian kali aku masih merindukan sosok laki-laki di taman itu. Setelah aku mencoba mencarinya beberapa kali ke taman (lagi), tak membuahkan hasil. Aku memilih di rumah saja.

Melati oh melati. Aromanya membuatku nyaman dan terasa dia tak jauh-jauh dariku. Pagi tadi, aku juga menanam beberapa pohon melati di halaman rumahku setelah kemarin kubeli bibitnya di pinggir jalan dekat taman. Ini terpesona atau terobsesi ya?

Jalinan tanganmu pada kedua tangan mungil itu selalu memanggilku untuk mengingatnya kembali. Bukan melulu diajak kencan di tempat mahal yang selalu memukau, peduli terhadap orang lain lebih menoreh bekas di hati.

Secangkir kopi tanpa tambahan gula tinggallah gelasnya. Berbanding lurus dengan "habisnya" sisa hari ini.