Mahasiswa
2 bulan lalu · 78 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 51115_78581.jpg
IDN Times

Kenangan di Bulan Ramadan

Diambil dari Kisah Nyata

Perjalanan asmaraku dengan Aya memang cukuplah singkat. Aya adalah seorang wanita yang selalu aku rindukan setiap saat. Entah, bagaimana kabarnya ia sekarang. Aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku dengan Aya. Sebenarnya, aku ingin bertemu dengannya, tetapi aku tidak tahu Aya di mana saat ini

 Tepat Bulan Februari  kita resmi berpacaran. Umurku kala itu masih empat belas tahun dan Aya berumur tiga belas tahun. Kala itu, Aya masih berada di Gresik dan aku di Jember. Kita menjalani hubungan dengan jarak yang begitu jauh. Meski jauh, hati kita pun terasa dekat. Aku mulai merasa bahagia kala itu kenapa? Aku merasakan ada sesuatu yang lebih di dalam diri Aya tapi aku tak bisa menjelaskan apa itu.

Pada hari pertama jadian, tentu sama dengan orang pacaran lainnya yaitu kangen. Ya benar rasa kangen terus ada di telingaku ketika ia sedang berbicara dengannya. Betapa tidak, aku dan Aya hanya bisa bertemu dua kali dalam setahun. Kami berdua menyadari hal itu. Hari-hari pacaran kami selalu berada di ruang virtual. Kala itu Whatsapp masih belum ada yang ada adalah SMS.

Setiap saat aku selalu menghubungi Aya untuk melepaskan rinduku.  Ketika itu, aku selalu menanyakan “Apakah kamu baik-baik saja?” Aku pun teringat Aya selalu menjawab “Aku Rindu kamu”. Disitulah aku merasa sedih karena aku merasa bukanlah pacar yang baik. Apa daya jarak yang memisahkan kita.

Aku teringat ketika aku pertama kali bertemu dengannya setelah kami berpacaran. Ketika itu bulan puasa. Aku dan Aya sudah merencanakan untuk bertemu di sudut sekolah kami dulu. Ya kami bersekolah yang sama kala itu tapi Aya masih belum kenal siapa diriku. Waktu itu, Aku naik sepeda untuk bertemu Aya di sekolah. Perasanku gemetar dan bahagia.

Disaat kami bertemu, rasa rindu itu hilang seketika. Akhirnya kami berdua jalan-jalan keliling kota pudak. Jalan demi jalan kami lalui dengan rasa bahagia. Sepenjang jalan kami menghabiskan untuk berbincang demi melepas kerinduan. Satu hal yang menarik kala itu, ketika dia sedang berpuasa aku disuruhnya untuk pergi ke warung sekedar makan siang. “ kamu makan aja aku temenin.”

Perkataan yang cukup indah itu hingga saat ini masih membekas di dalam pikiranku. Aku tak mengapa Aya bisa ngomong seperti itu. Sekitar tiga jam kami lewati dan akhirnya aku membawanya untuk pulang ke rumah. Aku diberikan hadiah spesial dari Aya. Katanya “ ini buat kamu... buat ngingetin aku. Anggap yang ada di dalam adalah semoga kamu suka”

Hadiah itu merupakan kado spesial pertama dan akhir. Hadiah itu bisa membuatku merasa tenang dan bahagia. Dia sengaja membelikan hadiah itu agar aku pun selalu teringat padanya. Hingga saat ini, hadiah itu masih aku simpan sebagai keangan dari dia.

Semenjak pemberian hadiah itu, Aya mulai berubah. Ia jarang menelfon dan memberikan pesan kepadaku. Aku berusaha untuk menghubungi tapi Aya sulit untuk menjawabnya. Aku bingung, cemas, dan gundah. Aku merasa aku telah menjadi pacar yang paling buruk bagi Aya. Waktu demi waktu terus bejalan. Aku merasa bingung untuk menghubungi melalui apa.

Setiap hari aku terus mencari keberadaan Aya. Melalui telfon, SMS, hingga Facebook.  Tapi hasilnya nihil semua. Tidak ada satu kabar pun mengenai Aya. Kejadian itu berlangsung selama 3 bulan lamanya. Pada bulan ke empat kami berpacaran Aya mengabariku melalui Facebook. Ia menuliskan Status “berpacaran”.

Aya menuliskan status itu berpacaran denganku tetapi dengan orang lain yang tidak aku kenal. Aku mencoba menghubungi dia disaat itu. Ia menjelaskan bahwa dia telah berpacaran dengan orang lain yakni sahabatnya sendiri. Pada waktu itu, Aku sontak marah padanya. Aku kecewa dengan perlakuan Aya kala itu.

Aya yang selalu ada di dalam hatiku merasa di duakan oleh orang lain. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Semenjak kejadian itu aku tak pernah menghubungi Aya lagi. Setahun kemudian aku mencoba untuk menghubungi Aya. Ketika aku berhasil menghubungi dia, “Aku Mau Putus”. Dan tibahlah tepat 14 Februari 2014 kami resmi berpisah.

Aku dan Aya memang memutuskan hubungan. Ternyata, orang tua Aya suudah mengetahui kalau aku dan Aya berpacaran. Orang tuanya tidak menyetujui kami berpacraan karena satu alasan Agama. Aya adalah seorang wanita muslim dan aku adalah pria katolik. Kami berdua menyadari itu. Aku hanya bisa menerima dengan keadaan seperti itu.

Melalui tulisan ini aku ingin mempersembahkan narasi untukmu Aya.

Aya.... kini kamu dimana aku tak tahu. Aku sudah mencarimu tapi tidak ada. Aku sekarang sudah berbeda dengan aku yang dulu. Aya..  kini aku memutuskan untuk tidak menikah dengan siapa pun. Aku lebih mencintai dirimu dan Tuhan. Aku tak akan melupakan kasih asmara kita semasa kita berpacaran. Kini, Aku mencoba menjadi seorang teladan bagi banyak orang. Aku mencoba memberikan kasihku bukan hanya satu orang tetapi ribuan orang. Semoga kamu baik-baik saja. Amin.”

Artikel Terkait