Pengajar
1 bulan lalu · 40 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 72990_47993.jpg
ibudanaku.com

Kenangan Bermain dengan Kertas

Saya adalah produk kelahiran 90-an. Jika generasi milenial hari ini tidak bisa terlepas dengan yang namanya gadget, maka di generasi kami barang itu adalah kertas. Banyak dari aktivitas kami, mulai dari belajar, berbelanja (membantu orang tua), hingga bermain, yang tidak pernah bisa terhindar dari kertas.

Lebih spesifik, dalam soal bermain misalnya, walaupun saat itu sudah ada permainan berbasis teknologi seperti play station dan yang semacamnya, kami masih sangat menikmati permainan-permainan tradisional yang menuntut interaksi langsung (tatap muka), termasuk pengalaman bermain dengan kertas.

Di masa sekolah dasar, saya terbiasa membuat origami. Tiga objek yang paling sering dibuat adalah perahu, pesawat terbang, dan katak. 

Ketika itu meraih kesenangan begitu sederhana dan murah meriah. Cukup dengan berlomba perahu kertas yang dilempar di selokan rumah atau sungai sudah bisa menjadi kegiatan sehari-hari saya penuh dengan warna.

Bukan hanya perahu kertas yang dilombakan, tetapi juga katak kertas. Setelah membuat lintasan lurus sekian meter, kami memperlombakan katak buatan masing-masing dengan cara memencet atau menekan sisi belakang (pantatnya). Barangsiapa yang paling dahulu mencapai garis finis, maka dialah yang berhak menjadi pemenangnya. Terkadang, untuk mempercantik objek-objek ini, saya turut mewarnainya dengan krayon.

Dan tidak ada yang lebih asyik daripada bermain pesawat kertas. Dengan beberapa langkah melipat-lipat kertas, jadilah sebuah pesawat kertas yang siap diterbangkan. 

Ada yang unik dari kebiasaan kami saat bermain dengan objek ini, sesuatu yang sampai saat ini masih belum saya mengerti kerasionalitasannya, yaitu kami sering meniup bagian depan (kepala) pesawat sebelum diterbangkan. Rasanya tidak sempurna kalau prosesi “magis” ini belum dilakukan.


Selain bermain dengan origami, sesuatu yang sebenarnya lebih berhubungan dengan seni melipat kertas, kami juga memiliki segudang permainan lain di mana kertas menjadi salah satu media utamanya. Di antaranya adalah balap mobil. 

Uniknya, mobilnya itu hanya sekadar imajinasi kami yang laju geraknya divisualisasikan melalui hentakan pensil atau bolpoin yang kemudian menghasilkan garis. Para pemain harus memulai melaju dari ujung garis yang telah dibuat sebelumnya.

Kami juga memiliki permainan yang dinamakan SOS. Saya tidak tahu apakah SOS di sini memiliki makna yang sama atau berhubungan dengan tanda bahasa kode Morse Internasional (Save Our Souls).

Tetapi yang pasti, cara bermainnya ialah dengan membuat sekian kotak kosong pada kertas di mana dua orang pemainnya harus berlomba merangkai dan mengumpulkan kata SOS sebanyak mungkin, baik secara mendatar, menurun, maupun diagonal.

Kemudian ada ABC Lima Dasar, sebuah permainan yang dapat mengasah keluasan pengetahuan. Di beberapa tempat di Jawa Barat lebih familiar dengan sebutan gagarudaan. Dimulai dengan menunjukkan jari sekehendak hati bak hom pim pa, jari-jari kami kemudian dihitung sesuai dengan urutan abjad. 

Huruf yang terpilih harus menjadi kata depan setiap kategori yang dipermainkan, bisa berupa nama-nama buah, binatang, hewan, artis, atau apa pun, sesuai dengan kesepakatan. Setiap yang dapat menyebutkan kategori tersebut dengan tepat maka dia berhak memperoleh nilai yang kemudian ditulis di kertas.

Satu lagi permainan, dan ini yang paling spesial, berbasis kertas yang memiliki sejuta kenangan dengan saya, yaitu gambaran. 

Saat itu tiada hari tanpa bermain dan membeli gambaran. Tak terhitung sudah berapa gambaran yang saya miliki. Bahkan, orang tua saya bercerita bahwa saya akan segera terbangun dari tidur ketika mendengar suara kecrekan abang gambaran yang tengah melewati depan rumah kami.

Olahraga Kreatif


Bahkan untuk sekadar berolahraga, ketika memang tidak ada bola bliter atau plastik, kami tidak kehilangan akal untuk segera menggantikannya dengan bola kertas. 

Caranya sangat mudah, yaitu kami merobek beberapa lembar tengah buku tulis yang seharusnya digunakan untuk mencatat pelajaran yang disampaikan oleh guru. Semua demi kesenangan hakiki bermain bola bersama teman.

Kalau bermain sepak bola kertas biasanya hanya dilakukan oleh anak laki-laki, berbeda dengan bola gebok-kertas yang juga melibatkan anak-anak perempuan. Bola gebok kertas lebih kami senangi karena tidak akan terlalu menyakitkan meski si pemukul telah mengerahkan tenanganya sekuat mungkin, setidaknya efeknya tidak akan separah jika kami menggunakan bola tenis. 

Oh, sungguh saya merindukan masa bermesraan dengan kertas, meskipun bukan berarti saya merendahkan jenis-jenis permainan zaman sekarang, sebab harus diakui bahwa setiap generasi memiliki ciri khasnya masing-masing.

Artikel Terkait