penulis/jurnalis
3 tahun lalu · 362 view · 2 menit baca · Seni 6754398099_da4523c5fc_z.jpg

Kenangan

Kenangan sungguh bukanlah benda padat yang bisa kau rengkuh kembali. Tapi ibarat  embun yang luruh saat kau sentuh. Kau melihatnya jelas, sejelas-jelasnya menghadang pandanganmu.   Hingga semua yang di depan tampak memburam, samar. Membuatmu gamang.

Kau ingin merengkuhnya kembali. Tak ingin melepaskannya lagi. Tapi jangankan merengkuh, saat kau menyentuhnya sedikit saja, embun itu luruh, hilang sejadi-jadinya. Bahkan ia pupus hanya dengan desahan napasmu yang hangat saja.

Apalagi hatimu masihlah musim hujan yang tak alpa rinai. Seperti tetes kesedihan yang terus membasahi bumi semalaman. Lalu ketika pagi menjelang, ia meninggalkan embun yang dingin. Membuatmu menggigil.

Suatu ketika kau merasa kenangan itu bukanlah lagi embun. Tapi dinding penuh paku yang menghimpitmu tanpa ampun. Tak peduli kau telah basah berdarah-darah. Dalam jeritan kesakitan kau bertanya-tanya bagaimana cara menghentikannya menghimpitmu? Apakah seperti pada mesin yang memiliki tombol untuk memberhentikan? Apakah seperti putaran bumi kepada matahari, yang tak bisa dihentikan manusia? Kau masih tak bisa menemukan jawabannya.

Kehidupan memang bukan diciptakan seperti mesin yang penuh kendali otomatis. Bukankah kita juga memang bukanlah milik kita sendiri? Tak akan ada kendali otomatis atas apapun.

Kenangan membuat kau menyadari: Hidupmu bukanlah di negeri dongeng yang penuh hal-hal magis. Tak akan ada mantra abrakadabra yang bisa menyulap apa yang tak kau suka menjadi tiada. Kau akan menyadari kenangan itu tetap akan ada di sana, walaupun kau telah meneriakkan seribu satu mantra. Sejuta caci maki. Bahkan raungan tangis tiada akhir.

Sungguh kenangan itu bukan pula benda padat yang bisa kau simpan ke dalam kotak. Lalu kuncinya kau buang ke lautan, berharap takkan pernah bisa ditemukan. Ia tak bisa kau simpan untuk tak lagi muncul.

Semakin kau berupaya ia hilang, ia malah mewujud partikel udara yang menyelusup ke semua penjuru ruang tempatmu berada. Tanpa ada celah untuk bersembunyi. Kecuali kau memang tak lagi ada di bumi. Kemanakah kau ingin berlari menghindari, jika meniadakannya sama dengan meniadakan diri sendiri?

Kenangan. K-e-n-a-n-g-an. Jika kenangan berasal dari kata -kenang-yang berarti ingat, mengapa ia masih tetap ada walaupun kau sudah berusaha untuk tak meng-ingat, tak ingin meng-ingat?

Untuk beberapa masa, kau masih akan bertanya-tanya, masih akan mengibaratkan kenangan sebagai satu dua hal. Melukiskannya dalam kata-kata. Walaupun nanti kau berhenti memilih diksi untuk menggambarkannya, ia tak akan ikut berhenti.

Sungguh, ini bukan masalah kompromi, ini urusan hidup. Apa yang telah terjadi akan tetap menjadi bagian dari dirimu tanpa henti. Mengekorimu seperti takdir yang kau telah kau buat sendiri. Sungguh sebenar-benar takdir yang kau buat sendiri.

Namun kau tahu pasti, apapun yang telah terjadi bukan akan berakhir tanpa arti. Seperti kenangan yang akan menjadi rentetan pengalaman. Masa lalu ibarat kepompong yang akan membuatmu menjadi seindah-indah kupu-kupu. Ibarat sekumpulan kekuatan yang membuatmu menjadi sebijak-bijak diri, seberani-berani jiwa untuk tetap menapaki hidup dengan gagah berani.

 Itulah akhirnya satu-satunya kenyataan yang akhirnya membuatmu mau bernegosiasiasi.