Sindrom baby blues merupakan fenomena yang sulit dideteksi karena masyarakat masih menganggap gangguan psikologis merupakan hal yang wajar sebagai naluri ibu dan sikap protektif terhadap bayinya. Hampir sebagian besar ibu tidak mengetahui jika mereka mengalami sindrom baby blues.

Sindrom baby blues atau baby blues syndrom adalah perubahan suasana hati setelah persalinan yang bisa membuat ibu merasa terharu, cemas, hingga mudah tersinggung. Sindrom baby blues biasanya terjadi pada hari ketiga sampai kelima setelah persalinan, namun bisa berlangsung seminggu atau lebih.

Angka kejadian sindrom baby blues bervariasi tergantung pada situasinya. Di Indonesia sendiri masih belum banyak diketahui angka kejadian sindrom baby blues dikarenakan belum ada lembaga khusus yang mensurvei dan meneliti terhadap kasus tersebut.

Gejala sindrom baby blues yang dirasakan masing-masing ibu akan berbeda (Miller, 2002, Ussher, 2004). Namun biasanya sindrom baby blues ditandai dengan reaksi sering menangis, sering marah-marah, perasaan yang labil, cenderung selalu menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur, hingga gangguan nafsu makan.

Secara spesifik, terjadinya sindrom baby blues pada ibu ditandai dengan adanya perasaan sedih dan depresi disertai dengan menangis tanpa sebab. Ibu akan mudah kesal, mudah tersinggung, kurang sabaran, merasa sangat cemas, dan terlihat seperti tidak memiliki tenaga.

Selain itu juga akan timbul rasa bersalah dalam diri ibu dan merasa tidak berharga. Ibu menjadi tidak tertarik dengan bayinya atau bahkan menjadi terlalu memperhatikan dan khawatir terhadap bayinya.

Perubahan perasaan pada sindrom baby blues merupakan suatu respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Respon tersebut bersifat ringan, tidak permanen, dan dapat sembuh sendiri.

Banyaknya gejala yang dialami oleh ibu dengan sindrom baby blues dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor biologi dan faktor emosional. Faktor biologi berasal dari kondisi kesehatan ibu dan faktor emosional berasal dari perubahan suasana hati ibu.

Faktor biologi yang dapat mempengaruhi munculnya sindrom baby blues adalah kondisi hormon yang tidak stabil. Adanya komplikasi sewaktu persalinan juga dapat mempengaruhi munculnya sindrom baby blues.

Faktor emosional dipengaruhi oleh beberapa hal seperti dukungan sosial, keadaan dan kualitas bayi, dan adanya riwayat depresi. Terkadang kebudayaan setempat yang mengikat juga dapat mempengaruhi suasanya hati ibu.

Memang tidak semua Ibu beresiko mengalami sindrom baby blues. Namun alangkah baiknya jika para calon ibu baru mengetahui serta memahami berbagai hal mengenai sindrom baby blues agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya sindrom baby blues tentunya adalah mempersiapkan diri untuk menerima kehidupan yang baru dengan lahirnya seorang anak. Menerima apapun kondisi sang anak jika lahir nanti.

Ibu juga harus diberikan pendidikan kesehatan mengenai sindrom baby blues melalui bidan setelah melahirkan atau bisa dengan mencari informasi sendiri melalui internet. Dengan Ibu mengetahui tentang sindrom baby blues, ibu akan lebih waspada untuk menghindarinya.

Dukungan dari keluarga juga sangat penting. Dukungan keluarga yang dimaksud adalah komunikasi dan hubungan emosional yang baik dan hangat dengan orang tua dan suami, baik itu dalam hal meringankan tugas ibu, memberikan dukungan moral, maupun memenuhi kebutuhan ibu.

Ibu diharuskan memikirkan hal-hal positif berkaitan dengan proses melahirkan dan setelah anaknya lahir nanti. Jangan biarkan suatu hal atau bahkan orang lain mempengaruhi kondisi emosional dan pikiran ibu.

Sindrom baby blues bukanlah gangguan psikologis yang serius. Meskipun demikian, ibu dengan sindrom baby blues dapat memiliki kecenderungan untuk mengalami postnatal depression atau depresi postpartum (Beck etal, 1992, Henshaw et al 2004 dalam Baston & Hall, 2010).

Sindrom baby blues yang berat meningkatkan risiko depresi postpartum dalam 6 bulan pertama persalinan. Depresi postpartum bisa menjadi lebih parah bila tidak ditangani secepat mungkin.

Walaupun dapat sembuh dengan sendirinya, namun sindrom baby blues tidak boleh dianggap remeh. Sebagai peringatan, ibu harus tetap waspada agar terhindar dari kemungkinan terjadinya sindrom baby blues.

Jika ibu sudah mengalami gejala-gelaja terjadinya sindrom baby blues, maka keluarga diharapkan mampu memberikan dukungan penuh serta pendampingan kepada ibu agar tidak semakin parah.

Santrock (2005) menyatakan bahwa keluarga adalah sumber dukungan sosial yang paling penting dalam mengatasi masalah. Dukungan dan pendampingan tersebut diutamakan harus berasal dari suami ibu.

Dukungan yang dapat suami berikan yaitu dengan membantu ibu mengasuh bayi, membantu mengurus pekerjaan rumah, dan memberikan perhatian lebih kepada ibu dan bayi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun psikis ibu dalam melawan sindrom baby blues.

Opsi lain jika ibu tidak kunjung stabil emosinya atau bahkan lebih parah adalah dengan membawa ibu ke tempat pelayanan kesehatan. Dengan itu ibu akan mendapatkan bimbingan dan pengobatan yang sesuai dari tenaga kesehatan yang berwenang.