Siapa yang tidak suka es batu? hampir semua orang gemar mengonsumsi es batu baik dicampurkan pada minuman atau bahkan langsung dikunyah. Sensasi dingin menyegarkan membuat es batu menjadi primadona untuk dikonsumsi saat cuaca panas atau terik matahari.

Menurut Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 34 Tahun 2019 tentang Kategori Pangan, es batu didefinisikan sebagai massa padat hasil pembekuan air minum, tanpa bahan pangan lain, dikemas, serta aman untuk dikonsumsi.

Pembuatan es batu di skala rumah tangga biasanya dilakukan dengan cara merebus air bersih hingga matang. Lalu air rebus yang sudah dingin dimasukkan ke dalam plastik atau cetakan es dan dibekukan ke dalam freezer hingga menjadi es batu.

Tak jarang kita juga membeli es batu ke pedagang es saat stok es batu di rumah kosong.  Es batu yang umum dikenal masyarakat antara lain es dalam kemasan plastik bening satu kiloan, es yang berbentuk kubus, kristal maupun serut.

Selain jenis-jenis es batu tersebut, masyarakat masih banyak yang mengonsumsi es balok yang sebetulnya diperuntukkan untuk pengawetan ikan atau daging.  Es balok, apalagi yang dibuat dari bahan baku air sungai tercemar tidak aman untuk dikonsumsi.

Penggunaan es batu dalam konsumsi sehari-hari perlu diperhatikan keamanannya. Salah memilih es batu, bukan kesegaran yang dinikmati malah rasa sakit yang didapat.  

Potensi Bahaya pada Es Batu

Penggunaan air mentah sebagai bahan baku es batu masih marak dilakukan oleh produsen yang tidak bertanggung jawab. Alasan ekonomi untuk meningkatkan keuntungan  sering menjadi alasan mengapa hal itu masih dilakukan. Padahal, air mentah mengandung banyak bakteri yang dapat menimbulkan penyakit.

Sebagian besar orang masih beranggapan bahwa pembekuan dapat mematikan bakteri yang terdapat pada air mentah.  Padahal secara ilmiah, terdapat bakteri yang dapat bertahan hidup pada suhu beku. Pembekuan dapat menginaktivasi bakteri, namun pada saat meleleh bakteri akan aktif dan tumbuh kembali.

Dilansir dari Jurnal Mutu Pangan Vol. 8 (2) tahun 2021, peneliti Institut Pertanian Bogor menemukan adanya bakteri patogen pada sampel yang diuji. Setidaknya ada 3 (tiga) jenis bakteri pada sampel minuman es yang diteliti, yaitu Escherichia coli, Vibrio cholera, dan Salmonella typhimurium. 

Ketiga jenis bakteri tersebut mencemari es batu pada beberapa tahapan pengolahan. Berawal dari penggunaan air mentah sebagai bahan baku hingga pengolahan es batu yang tidak memenuhi standar keamanan pangan.

Suhu dan lama perebusan yang tidak optimal, penggunaan kemasan atau wadah cetakan yang tidak bersih hingga pengolah es batu yang tidak higienis memberikan andil tercemarnya es batu oleh bakteri.

Keberadaan bakteri pada es batu dapat membahayakan kesehatan.  Escherichia coli patogen dapat menyebabkan sakit perut, diare, disentri ringan, diare berdarah dan gagal ginjal akut (hemolytic uremic syndrome). 

Vibrio cholera menimbulkan gejala diare berair, kadang disertai muntah. Sedangkan Salmonella typhimurium dapat menimbulkan gejala demam, sakit kepala, sakit perut, diare atau sembelit, kurang nafsu makan dan penurunan berat badan. 

Tips Keamanan Pangan Es Batu

Supaya konsumsi es batu tidak membawa petaka, terdapat beberapa cara pencegahannya. Berikut tips keamanan pangan dalam menyiapkan es batu yang dapat kita praktekkan agar aman dari bakteri.

Pertama, pastikan bahan baku air yang digunakan berasal dari air minum atau air bersih yang direbus hingga matang. Kedua, pada saat pembekuan pastikan freezer yang digunakan dalam kondisi suhu yang terkontrol dan dalam keadaan bersih. 

Suhu freezer yang tidak stabil menyebabkan es batu tidak beku sempurna dan mencair. Selama es mencair, suhu akan meningkat. Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan berbagai mikroba termasuk bakteri yang membahayakan bagi kesehatan. 

Begitu pula jika membiarkan freezer kotor akan menyebabkan kontaminasi bakteri terhadap es batu. Jadi biasakan mengontrol suhu dan membersihkan freezer secara periodik.

Ketiga, simpan es batu pada freezer dalam wadah/kemasan bersih yang tertutup. Pisahkan es batu dari pangan beku mentah lainnya. Penyimpanan es pada wadah yang terbuka dan bercampur dengan pangan mentah seperti daging, ikan atau pangan lainnya rentan menyebabkan kontaminasi silang.

Jika es batu tidak memungkinkan untuk disimpan dalam freezer yang berbeda, masukkan dalam kemasan plastik atau wadah cetakan yang tertutup agar tidak kontak dengan pangan lainnya. 

Selain sesuai standar keamanan pangan, menyimpan es batu dalam wadah tertutup dapat menghindari bau yang dapat terserap dari pangan lainnya.

Tips keempat berkaitan dengan kebiasaan sebagian orang yang membilas es batu dengan air mentah. Tujuannya untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada es batu. Namun, hal itu malah akan menambah jumlah bakteri pada es batu mengingat air mentah mengandung banyak bakteri.  

Tips kelima, selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum mengambil es batu. Bakteri yang melekat pada permukaan kulit manusia terutama bagian pangan dapat mencemari es batu. 

Jika mengambil es batu dilakukan dengan alat seperti penjepit atau sarung tangan, pastikan dalam kondisi bersih.

Sebagai penutup, jika membeli es batu kemasan pastikan pilih yang memiliki Nomor Izin Edar dari BPOM. Selalu biasakan Cek Kemasan, Label, Izin Edar dan Kedaluwarsa (KLIK) sebelum membeli produk pangan.

Jadilah konsumen cerdas. Sadar keamanan pangan, hidup menjadi nyaman.