Anak akan sering mengalami tantrum pada masa pertumbuhan dan perkembangannya. 

Tantrum merupakan kondisi di mana anak melampiaskan emosinya secara berlebihan. Dapat berupa menangis kencang, mengamuk, berguling-guling di lantai hingga membanting barang. Tantrum terjadi karena ketidakmampuan anak dalam mengungkapkan perasaannya seperti rasa kesal, kecewa, dan tidak nyaman. 

Menurut Fetsch & Jacobson dalam penelitiannya pada tahun 2013 tantrum terjadi karena kelebihan emosi dan kesedihan ataupun kemarahan berlebihan. Perilaku ini biasa terjadi pada usia balita yakni masa emas pada perkembangan anak. Namun, ada juga anak yang berusia di atas 5 tahun masih mengalami tantrum.

Ada dua jenis tantrum yaitu manipulative tantrum dan frustration tantrum. Manipulative tantrum atau tantrum manipulatif adalah tantrum yang muncul saat keinginan anak tidak terpenuhi, dan akan berhenti jika keinginannya sudah dituruti. Misalnya anak ingin membeli mainan tapi orang tua tidak membelikannya, anak akan mengalami tantrum dan akan berhenti jika sudah dibelikan mainan. 

Sedangkan, frustration tantrum atau tantrum frustrasi terjadi ketika anak tidak mampu mengekspresikan dengan baik apa yang ia rasakan atau inginkan. Contohnya saat ia merasa lapar dan sakit, atau merasa kesal karena gagal melakukan sesuatu. 

Menurut Kirana (2013) dalam penelitiannya, penyebab tantrum sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya, yaitu faktor fisiologis (seperti lelah, lapar, sakit), faktor psikologis (seperti anak merasa stress, gagal, atau tidak aman), faktor orangtua (seperti pekerjaan, pola asuh, komunikasi) dan faktor lingkungan. Diantara faktor-faktor tersebut faktor yang paling berpengaruh adalah faktor dari orang tua.

Faktor orang tua seperti pekerjaan, pola asuh, dan komunikasi ini saling berkaitan. Orang tua yang bekerja akan memengaruhi pola asuh, komunikasi, dan perkembangan anak. Karena tuntutan pekerjaan mengakibatkan tidak terciptanya pola asuh yang baik serta komunikasi orang tua dan anak pun menjadi terhambat.

Hal ini juga mengakibatkan pemberian stimulus pada anak menjadi tidak optimal. Adapun pola asuh orang tua yang memberikan anaknya gadget. Gadget dapat menjadi salah satu faktor anak tantrum. Selain itu, gadget juga akan  memengaruhi tumbuh kembang anak.

Diharapkan orang tua dapat mengatasi tantrum pada anak setelah mengetahui jenis-jenis dan penyebabnya. Karena jika tantrum tidak diatasi maka akan membahayakan fisiknya. 

Anak akan lebih agresif saat terjadi tantrum seperti memukul, menendang, dan menjatuhkan diri ke lantai. Selain itu, juga akan membahayakan psikis anak. Ke depannya anak akan mudah marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya.

Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantrum. Pertama, menenangkan diri. Sebelum menenangkan anak yang mengalami tantrum, diri sendiri harus tenang terlebih dahulu dan tidak terbawa oleh emosi. Wajar bagi orang tua merasa malu dan panik saat anaknya mengalami tantrum tetapi orang tua harus tetap tenang. 

Menenangkan diri dapat dilakukan dengan menarik nafas panjang beberapa kali. Setelah itu, baru menenangkan anak namun kita harus mengetahui telebih dahulu jenis tantrum yang dialaminya. Apakah anak merasa lapar, lelah, kecewa, menginginkan sesuatu tetapi tidak dapat mengungkapkannya atau yang lainnya.

Kedua, berikan kasih sayang dan penjelasan kepada anak. Saat anak mengalami tantrum kita harus lebih memahami anak dan  memberi penjelasan dengan nada yang lembut. Jangan menuruti semua kemauan anak seperti ingin dibelikan mainan padahal dia sudah memilikinya. Anak akan berpikir bahwa semua keinginannya dapat  ia dapatkan dengan cara tantrum. 

Jika anak mengalami tantrum di keramaian karena menginginkan sesuatu, bawa anak ke tempat yang lebih tenang dan menenangkannya. Saat emosi anak sudah mereda berikan pelukan kasih sayang dan penjelasan dengan bahasa yang ringan dan bersahabat serta dengan nada yang lembut.

Ketiga, hindari kekerasan. Kekerasan fisik maupun psikis sangat dilarang. Dalam hal ini, kekerasan akan menyebabkan tantrum pada anak akan lebih parah. 

Anak akan belajar bahwa kekerasan itu adalah sesuatu yang diperbolehkan. Ke depannya anak dapat meniru tindakan kekerasan fisik yang pernah ia dapatkan atau alami. Selain itu, jika anak mengalami kekerasan psikis akan membuat anak menjadi tidak percaya diri, ia merasa takut pada orang tua dan dapat mengalami trauma.

Tantrum merupakan hal normal yang terjadi pada anak balita. Dimana pada usia itu anak masih dalam masa perkembangan. Ia masih belajar dan berkenalan dalam meluapkan emosinya. 

Stress, khawatir, dan bingung pasti akan dirasakan oleh orang tua. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memahami jenis tantrum yang terjadi pada anak, apakah itu tantrum manipulatif atau tantrum frustrasi. Dengan mengetahui jenis dan penyebabnya maka tantrum pada anak nanti dapat diatasi. 

Hal ini  juga agar orang tua lebih bisa memahami apa yang dirasakan oleh anaknya. Namun, sebagai orang tua daripada mengatasi lebih baik kita mencegahnya. Seperti mencegahnya dengan menerapkan pola asuh dan komunikasi yang baik pada anak.

Sumber :

Jiu, C. K., Hartono, H., Amelia, L., Surtikanti, S., Gusmiah, T., Wuriani, W., ... & Putra, G. J. 2021. Perilaku Tantrum pada Anak Usia Dini di Sekolah. Jurnal Pelita PAUD, 5(2), 262-267.

Fetsch, R. J., & Jacobson, B. 2013. Children ’ s Anger and Tantrums, (10), 13– 15.

Kirana, R. S. 2013. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Temper Tantrum Pada Anak Pra Sekolah. Developmental and Clinical Psychology, 2(2).

Rokhmiati, Eka, and Hari Ghanesia. 2019. Tantrum Pada Anak Usia Pra Sekolah. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama 8.1, 92- 98