Alzheimer mungkin masih terdengar awam bagi kita, namun penyakit ini kian terus bertambah kasusnya dan perlu diperhatikan sebab selain penurunan kualitas hidup lansia, juga memberikan beban ekonomi serta penurunan produktivitas yang sangat besar dalam skala yang besar. 

Alzheimer sendiri dapat dimengerti dalam kosakata sehari-hari sebagai kepikunan (demensia). Penyakit degeneratif sistem saraf pusat ini merupakan kasus yang mayoritas dialami oleh mereka yang berusia lanjut, yaitu di atas 60 tahun.

Penyakit Alheimer sendiri ditemukan pertama kali oleh seorang ahli di bidang neurologi, yaitu Alois Alzheimer yang berkebangsaan Jerman pada tahun 1907.[1] Sejak diidentifikasi penyakit Alzheimer, tercatat sejumlah lebih dari 46.8 juta orang penderita Alzheimer di seluruh dunia dan untuk di Indonesia sendiri diperkirakan terdapat sekitar 556.000 penderita Alzheimer dengan prevalensi 2.7% dengan perkiraan laju peningkatan kasus sebesar 325% pada tahun 2040.[2] 

Alzheimer perlu mendapat perhatian, mengingat seiring bertambahnya usia harapan hidup, maka jumlah penduduk lansia akan makin besar dan makin besar pula angka prevalensi dari kasus Alzheimer di masa depan.

Selain hal tersebut dalam publikasi World Alzheimer Report 2015, Alzheimer telah berdampak pada terjadinya kerugian sebesar USD 818M, yang mana akan terus meningkat hingga pada tahun 2030 diperkirakan akan menyebabkan beban ekonomi sebesar USD 2T.[3] 

Mengingat peningkatan pesat dari jumlah kasus Alzheimer serta besarnya kerugian ekonomi yang ditimbulkan, maka kesadaran masyarakat akan penyakit ini perlu digiatkan. Masyarakat perlu mengenali faktor risiko dan faktor protektif dari Alzheimer sehingga mampu melakukan serangkaian tindakan pencegahan dini dari Alzheimer. 

Gejala klinis yang ditunjukkan oleh penderita demensia berupa penurunan kognitif progresif. Hal ini dapat dilihat dari adanya penurunan ingatan yang berujung pada gangguan dalam kehidupan sehari-hari. 

Selain fungsi memori, terdapat juga gangguan dalam perencanaan maupun pemecahan masalah. Dalam aspek visiospasial, terdapat masalah dalam memahami gambaran dan hubungan visual. Selain yang berkaitan dengan kognisi, terdapat perubahan mood (suasana hati), kecenderungan menarik diri, serta kesulitan dalam berbicara/berkomunikasi. 

Gangguan-gangguan ini dapat memberikan kesulitan dalam pelaksanaan rutinitas harian. Gejala pendukung lainnya adalah kebingungan, interpretasi buruk, dan kerap berhalusinasi. 

Penyebab Alzheimer secara patologi disebabkan oleh pembentukan senile plaque (SP) yang dibentuk amiloid beta (Aβ) dan kusut neurofibrally (NFTs) di hipokampus. Plak amyloid (SP) memiliki sifat yang sangat tidak larut dan dibentuk oleh fibril peptida yang resisten terhadap proteolisis hasil pembelahan β-amiloid (Aβ). 

Pembentukan Aβ akan memicu gejala klinis yang dimulai dengan pembentukan oligomer amiloid yang sifat neurotoksisitasnya akan memulai kaskade amiloid.   Kerusakan progresif saraf ini yang kemudian akan menyebabkan kekurangan dan ketidak seimbangan antara berbagai neurotransmitter dan berujung pada defisiensi kognitif seperti yang dialami pasien Alzheimer.

Penanganan penyakit Alzheimer saat ini memerlukan berbagai faktor seperti: keterbukaan komunikasi pelayan kesehatan; pendekatan perilaku melalui rutinitas, konsistensi, dan penyederhanaan lingkungan, terapi perilaku kognitif; terapi cahaya; terapi musik; perencanaan tepat waktu akan kebutuhan medis; dorongan pengembangan koneksi para pengasuh; serta intervensi farmakologis. 

Pengobatan yang tersedia saat ini merupakan golongan inhibitor kolinesterase yang diberikan pada setiap setiap tahap demensia Alzheimer dan memantine untuk penderita pada tahap sedang sampai berat yang hanya mempertahankan kualitas hidup pasien bila diberikan pada waktu yang tepat. Namun belum ada yang mampu mengubah keparahan penyakit dengan kata lain tidak mampu menurunkan tingkat keparahan yang telah terjadi.[1]

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko penyebab Alzheimer dapat berupa: riwayat penyakit cerebrovaskular, tekanan darah, diabetes tipe 2, berat badan yang tidak seimbang, sindrome metabolik, riwayat merokok, depresi, stress fisiologis, serta trauma otak. Sedangkan faktor yang dapat memberikan efek protektif yang mencegah penyakit Alzheimer adalah pola diet atau konsumsi makanan sehari-hari, aktivitas fisik, serta adanya aktivitas intelektual. 

Hobi yang berkaitan dengan kognisi juga mampu memberikan faktor protektif seperti rajin membaca buku serta bermain musik. Konsumsi makanan sehat yang disarankan adalah yang mengandung asam lemak tak jenuh jamak serta mengandung antioksidan yang tinggi. Antioksidan seperti vitamin E dan C yang mana dapat mampu menangkal efek keparahan dari Amiloid Beta yaitu stress oksidatfi dan kerusakan sel saraf lanjutan. 

Rutinitas olahraga memberikan dampak postif terhadap pernyakit Alzheimer salah satunya adalah peningkatan aliran darah ke otak, pengikatan oksigen, penggunaan glukosa, serta aktivasi hormon pertumbuhan. Lebih lanjut hobi yang terkait dengan kognisi seperti membaca buku dan bermain musik dapat mampu meningkatkan memori dan penalaran.

Mengingat besarnya risiko besar akan penyakit Alzheimer beserta dengan dampak negatif yang juga besar maka masyarakat perlu sadar akan penyakit ini serta mampu menghindari segala tindakan/hal yang berkaitan dengan faktor risiko dan melakukan hal yang menjadi faktor protektif sebagai pencegahan dari Alzheimer di masa lanjut usia. 

Referensi:

1. Yiannopoulou KG, Papageorgiou SG. Current and future treatments in alzheimer disease: an update. J Cent Nerv Syst Dis. 2020 Feb 29;12:1179573520907397.

2. Reitz C, Brayne C, Mayeux R. Epidemiology of Alzheimer disease. Nat Rev Neurol. 2011 Mar;7(3):137-52.

3. Prince, Martin, Comas-Herrera, Adelina, Knapp, Martin, Guerchet, Maëlenn and Karagiannidou, Maria. World Alzheimer report 2016: improving healthcare for people living with dementia: coverage, quality and costs now and in the future. London(UK): Alzheimer’s Disease International; 2016.