Gambar 1. Bawang Putih Hitam (Sumber gambar : Pinterest oleh Food & Wine)

Tahukah kamu bawang putih hitam selain sebagai penurun tekanan darah juga bisa sebagai peningkat imun atau daya tahan tubuh. Apa bawang putih hitam itu? Bawang putih hitam adalah bawang putih yang diawetkan dalam suhu dan kelembapan tinggi sehingga terjadi perubahan menjadi senyawa kimia baru, rasa manis, dan bau yang tidak menyengat.

Adanya pandemi virus Covid-19 membuat masyarakat khawatir sehingga mulai melakukan berbagai hal agar tidak mudah terinfeksi virus tersebut. Salah satu hal yang dilakukan masyarakat Indonesia saat ini yaitu mengonsumsi tanaman herbal atau jamu yang dianggap dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Bawang putih hitam merupakan solusi baru yang dapat digunakan untuk masyarakat yang tidak menyukai bawang putih biasa karena bau khas dan rasa yang pahit.

Apakah kamu tahu cara pembuatan bawang putih hitam? Pembuatan  bawang putih hitam dapat dilakukan dengan cara dipilih berdasarkan ukuran dan kualitas, kemudian dibungkus dengan aluminium foil dan dimasukkan ke dalam penanak nasi. Kualitas bawang putih hitam yang baik didapatkan pada suhu 70°C-80°C selama 45 hari.

Studi mengenai dosis penggunaan bawang putih hitam masih terbatas. Dosis yang dapat direkomendasikan yaitu mengacu pada bawang putih biasa. Rekomendasi dosis bawang putih hitam adalah satu sampai dua siung dalam satu kali sehari.

Dosis lain bawang putih hitam jika langsung dikonsumsi adalah dua hingga lima gram serta 0,4 hingga 1,2 gram jika dikeringkan menjadi serbuk dalam satu kali sehari.

Mengapa dilakukan pengolahan bawang putih hitam? Karena bawang putih hitam memiliki profil keamanan yang lebih tinggi daripada olahan bawang putih lainnya. Selain itu, bawang putih hitam juga tidak menyebabkan masalah perdarahan jika diminum dengan obat pengencer darah lainnya seperti warfarin.

Gambar 2. Perbedaan Organoleptik Bawang Putih dan Bawang Putih Hitam (Sumber gambar : Pinterest oleh FoodHow)

Apa yang membedakan antara bawang putih hitam dengan bawang putih biasa? Perbedaannya adalah bawang putih hitam memiliki peningkatan kandungan senyawa yang stabil seperti s-alilsistein dan s-alilmerkaptosistein yang memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dibandingkan dengan bawang putih biasa.

Menurut Bae et al pada tahun 2014, kandungan bawang putih hitam penting untuk diketahui. Kandungannya diperoleh karena proses pemanasan seperti s-alilsistein, s-1-propenilsistein, s-alilmerkaptosistein, turunan tetrahidro-βkarbolin, dialil sulfida, dialil disulfida, dialil trisulfida, dialil tetrasulfida, polifenol, dan flavonoid.

Bawang putih hitam dalam menjaga daya tahan tubuh dengan cara adanya aktivitas antioksidan. Tingkat antioksidan yang rendah dikaitkan dengan gangguan respon kekebalan dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi.

Seiring bertambahnya usia atau ketika stres, tingkat radikal bebas yang tinggi akan terkumpul dan menyebabkan peradangan di seluruh tubuh. Maka, pembersihan radikal bebas dengan antioksidan dapat membantu meningkatkan kinerja sistem daya tahan tubuh.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Maldonado et al tahun 2011, menyatakan bahwa senyawa yang terkandung pada bawang putih hitam seperti s-alilsistein memiliki aktivitas pembersihan radikal bebas sekitar dua kali lebih cepat dari alisin.

Bawang putih hitam dalam menjaga daya tahan tubuh diperkuat dengan penghambatan sel penanda radang yang berperan dalam reaksi daya tahan tubuh atau yang disebut sebagai sitokin. Masyarakat yang mengidap Covid-19 cenderung memiliki jumlah interleukin-6 yang tinggi.

Interleukin-6 sendiri merupakan salah satu sitokin yang  berperan penting pada Covid-19. Sindrom badai sitokin merupakan akibat dari peningkatan respon daya tahan tubuh.

Sebenarnya,  sistem daya tahan tubuh berfungsi untuk membantu dalam menghadang infeksi seperti halnya virus Covid-19. Tetapi, terkadang memberikan respon yang tidak seharusnya dan malah menyebabkan peningkatan keparahan dari suatu penyakit.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kim et al pada tahun 2014 dibuktikan bahwa bawang putih hitam secara signifikan dapat menghambat interleukin-6. Ekstrak bawang putih hitam memiliki efek yang lebih rendah mengenai ketidaknyamanan, kesakitan, atau kematian dibandingkan dengan ekstrak bawang putih biasa. 

Bawang putih hitam ini dapat dijadikan sebagai kandidat obat herbal dari penggunanan obat konvensional penekan daya tahan tubuh seperti tocilizumab dan infliximab. Obat ini memiliki kekurangan yaitu harga yang cukup tinggi.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penting bagi kita untuk mengenali bawang putih hitam. Bawang putih hitam memiliki rasa manis serta tidak terdapat bau yang menyengat.

Sehingga, bawang putih hitam memiliki manfaat sebagai peningkat sistem daya tahan tubuh melalui penghambatan sel penanda radang yang berperan dalam reaksi daya tahan tubuh untuk melawan virus Covid-19. Bawang putih hitam memiliki aktivitas peningkat daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan bawang putih biasa.

Penting bagi kita untuk mengetahui berbagai macam tanaman herbal dalam meningkatkan kualitas hidup. Meskipun penggunaan tanaman herbal dapat meningkatkan daya tahan tubuh, konsumsi tanaman herbal juga tetap diperlukan konsultasi kepada dokter maupun apoteker.

Jangan lupa pula untuk menerapkan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

SUMBER :

Bae, S.E., Cho, S.Y., Won, Y.D., Lee, S.H. and Park, H.J., 2014. Changes in S-allyl cysteine contents and physicochemical properties of black garlic during heat treatment. LWT-Food Science and Technology, 55(1), pp.397-402.

Kim, M.J., Yoo, Y.C., Kim, H.J., Shin, S.K., Sohn, E.J., Min, A.Y., Sung, N.Y. and Kim, M.R., 2014. Aged black garlic exerts anti-inflammatory effects by decreasing no and proinflammatory cytokine production with less cytoxicity in LPS-stimulated raw 264.7 macrophages and LPS-induced septicemia mice. Journal of medicinal food, 17(10), pp.1057-1063.

Maldonado, P.D., Alvarez-Idaboy, J.R., Aguilar-González, A., Lira-Rocha, A., Jung-Cook, H., Medina-Campos, O.N., et al., 2011. Role of allyl group in the hydroxyl and peroxyl radical scavenging activity of S-allylcysteine. The Journal of Physical Chemistry B, 115(45), pp.13408-13417