Kebanyakan orang suka bercanda dengan merendahkan fisik orang lain. Tidak hanya dilingkungan sekitar kita, bahkan banyak komedian di televisi yang menampilkan candaan mereka dengan menghina komedian lainnya. Disitu banyak penonton tertawa mendengarkan kalimat candaan yang mereka lontarkan. 

Tetapi beda halnya dengan dilingkungan sekitar kita, mereka menganggap itu juga sebuah candaan. Tetapi kita tidak tahu isi hati seseorang bukan? Bisa jadi korbannya adalah orang yang sensitif dan mudah tersinggung, walaupun ia ikut tertawa tapi tidak ada yang tahu bagaimana kondisi psikis sebenarnya bisa membuat gangguan mental dan insecure. 

Bicara soal insecure, insecure adalah perasaan tidak mampu, tidak cukup baik, kecemasan yang membuat seseorang merasa tidak aman dan tidak percaya diri. Merendahkan dan menghina fisik orang lain ataupun diri sendiri adalah termasuk tindakan body shaming.

Apakah diantara kita ada yang pernah menjadi korban body shaming? Candaan yang merujuk pada aksi mengkritik dan mengomentari bentuk fisik seseorang seperti “kamu sekarang kok gendutan ya?", atau “kok kamu dari dulu tetap pendek?”, “makanya olahraga dong, pantas saja tidak tinggi-tinggi badannya”.

Ungkapan kalimat tersebut kemudian disusul dengan gelak tawa orang-orang. Biasanya pelaku body shaming justru merasa hal tersebut dilakukan atas dasar bercanda dan tidak sengaja. 

Kita harus tahu kurus belum tentu penyakitan, gemuk belum tentu sehat, hitam atau putihnya kulit belum tentu sama dengan hati, bahkan tinggi atau pendeknya badanpun bukanlah patokan sempurnanya seseorang. Maka dari itu berhentilah bercanda dengan membawa fisik seseorang, karena setiap ciptaan Allah SWT adalah yang terbaik.

Disamping itu melakukan tindakan body shaming bisa dikenakan pidana, hal itu tertuang dalam Pasal 27 ayat 3 Juncto Pasal 45 ayat 3 UU ITE tentang pencemaran nama baik atau penghinaan (delik aduan) serta Pasal 315 KUHP tentang penghinaan fisik. Maka jangan remehkan body shaming. Oleh karena itu kita harus dapat membedakan candaan dengan hinaan yang menyangkut penampilan fisik agar tidak terjerat dalam menyangkut pasal tersebut.

Pada zaman dahulu Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat juga melakukan candaan agar lebih akrab dan menyenangkan. Salah satu obat mujarab di kala sedih dan penat melanda adalah tertawa, membayangkan atau melihat sesuatu yang jenaka. Saat tertawa beban dan segala kesedihan seketika hilang sehingga pikiran kembali fresh. Tetapi sayangnya banyak yang menyalahartikan candaan dengan hinaan terhadap orang lain.

Tak sedikit yang merasa tersinggung bahkan sakit hati dengan candaan yang terlewat batas. Lalu bagaimana bercanda yang baik menurut Agama Islam? Ini dia batasan-batasannya yang diperbolehkan dalam Islam antara lain, yaitu yang pertama tidak boleh menggunakan kebohongan, Nabi Muhammad SAW ketika melakukan candaan, selalu mengatakan kebenaran. Jadi, jangan suka berbohong hanya untuk membuat orang lain tertawa atau ditertawakan.

Batasan yang kedua yaitu tidak boleh menghina orang lain. Candaan yang dilakukan tidak boleh merendahkan, melecehkan, serta menghina orang lain. Namun beda halnya jika orang tersebut merasa biasa saja bahkan ikut tertawa bersama kita, maka tidak mengapa.

Kemudian batasan yang ketiga yaitu tidak untuk menakuti dan mengagetkan orang lain. Kita mungkin sering mendengar bahkan melihat ataupun sudah pernah melakukan istilah yang namanya prank bukan? Bicara mengenai prank, prank itu banyak halnya yg dilakukan seperti halnya menakuti, membohongi, mengagetkan, dan masih banyak lagi yang tujuannya itu merugikan orang lain. Contohnya sekarang banyak youtuber yang membuat konten tentang konsep prank. Jadi banyak yang meniru adegan tersebut yang bisa merugikan banyak orang. 

Selanjutnya batasan yang keempat yaitu bercanda pada tempat yang tepat. Maksudnya melihat situasi dan kondisi dimana tempat ketika kita bercanda. Jangan asal bercanda, apalagi ketika teman kita sedang dilanda kesusahan, justru kita tertawa meskipun itu tidak bermaksud untuk menertawakannya, tetapi hal tersebut dapat menyakitkan hati.

Lalu batasan yang kelima yaitu tidak berlebihan. Lakukanlah candaan yang sekedarnya, tidak boleh berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ingat, islam tidak melarang orang untuk bersenda gurau dan bercanda ria. Tapi, ada baiknya jika candaan tersebut dilakukan dalam porsi yang tepat dan tidak berlebihan.

Adapun menurut psikolog klinis dari Personal Growth, Laurentius Sandi Witarso, M.Psi. Ada beberapa cara membedakan untuk melihat candaan fisik bersifat melecehkan atau tidak. Pertama adalah kepuasan. Jika seseorang berkomentar tentang fisik seseorang dan mereka saling tertawa dan puas akan hal itu maka dapat tergolong kedalam candaan. Kemudian jika ada salah satu orang yang merasa tidak puas dan dirugikan, maka hal tersebut dapat tergolong dalam pelecehan.

Selanjutnya adalah tentang empati. Orang yang bercanda pada umumnya akan memahami kondisi seseorang sehingga tidak terlalu memberikan komentar yang berlebihan. Namun jika komentar itu ditujukan untuk melepas uneg-uneg dan tidak memahami kondisi orang lain maka dapat tergolong kedalam pelecehan.

Namun jika kalian yang menjadi korban body shaming ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatasinya antara lain, yaitu mengganti topik pembicaraan, menyatakan bahwa kita memiliki cara sendiri untuk mengatasi problem bentuk tubuh yang kita miliki atau masalah yang kita miliki, katakan perasaan kita secara jujur bila candaan yang mereka lontarkan meyakiti hati. 

Lawan body shaming yang mereka lakukan dengan rasa percaya diri pada diri kita masing-masing. Jangan dengarkan perkataan-perkataan yang menyakitkan hati.  Ingat bahwa tidak kita sadari kekurangan yang  kita miliki hanyalah sebagian kecil dari kelebihan yang kita miliki. Jadi sebisa mungkin janganlah kita merasa insecure, tetapi syukuri semua apa yang Allah SWT sudah gariskan kepada kita semua.