Sub-judul di atas mengilustrasikan sekilas pandangan yang dimiliki teman-teman saya diluar dari jurusan ilmu kesejahteraan sosial a.k.a Kessos, ketika mereka mendengar istilah pekerja sosial. 

Yaa, saya memahami bahwa setiap jurusan kuliah pasti ada saja tuh stereotype-nya masing-masing. Saya pun mungkin sering ketika mendengar suatu hal baru dan belum saya fahami biasanya baik sadar maupun tak sadar mencoba menerka-nerka, mengeneralisir lalu mencari-cari kesimpulan sendiri. hehe 

Tentunya, pelabelan atau stereotype itu terjadi karena sedikitnya (dibaca: tidak adanya) pengetahuan kita tentang hal tersebut, bukan? Itu yang mungkin juga berlaku pada pelabelan 'Pekerja Sosial'. 

Karena itu, di sini saya ingin berbagi apa yang saya ketahui tentang pekerja sosial. motivasi ini berangkat pasca saya menonton TED Talk yang membahas tentang betapa strategis dan besarnya peran pekerja sosial di USA dalam memberikan pertolongan kepada banyak orang. sampai-sampai digambarkan sebagai Super Hero. 

Ini tentunya berbanding terbalik ya sama di negara kita, dimana pekerja sosial belumdikenal luas dan memiliki tempat dimasyarakat.

Nah, sebelum kita berkenalan dengan pekerja sosial, saya mau disclaimer dulu bahwa tulisan ini didasarkan dari pemahaman saya sebagai mahasiswa Ilmu kesejahteraan Sosial (dibaca: kessos).  Jadi, sifatnya sekedar sharing, dan kalau teman-teman tertarik lebih lanjut bisa cari tahu langsung melalui literatur dsb atau bisa juga menghubungi saya, heheh. 

Back to the topic, yuk kita mulai.

Siapa sih Pekerja Sosial itu?

Nah, jadi sebelumnya saya ingin informasikan bahwa walaupun Pekerja sosial memang belum dikenal luas, tetapi perannya yang potensial dan strategis menjadikannya sebagai profesi yang memiliki Undang-Undang tersendiri, yakni UU No.14 tahun 2019 Tentang Pekerja Sosial. 

Hadirnya payung hukum tersebut, memberi pesan pada kita bahwa peran pekerja sosial memang sangat potensial dan strategis dalam menangani masalah sosial di Indonesia.

Back to the point, siapa pekerja sosial itu? 

Di dalam UU tersebut dijelaskan bahwa, 

"Pekerja Sosial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai praktik pekerjaan sosial serta telah mendapatkan sertifikat kompetensi" - Pasal 1(1)

So, jadi bisa kita highlight di sini bahwa pekerja sosial adalah mereka yang bersertifikasi kompetensi sebagai pekerja sosial. Adapun syarat sertifikasi ini secara akademik harus lulusan sarjana atau diploma program studi tertentu. 

Next, kenapa harus punya sertifikasi, memang apa sih yang pekerja sosial kerjakan? 

Seperti Apa pelayanan yang dilakukan Pekerja Sosial?

Untuk menjawab hal ini kita dasarkan kembali pada UU Pekos, dijelaskan bahwa,

"Praktik Pekerjaan Sosial adalah penyelenggaraan pertolongan profesional yang terencana, terpadu, berkesinambungan dan tersupervisi untuk mencegah disfungsi sosial, serta memulihkan dan meningkatkan keberfungsian sosial individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat." - Pasal 1(2)

Inilah yang membedakan pekerja sosial dengan relawan. Pekerja sosial memberikan pelayanan yang penuh prosedur, antar setiap treatment saling terintegrasi dalam mempengaruhi perkembangan kondisi klien/penerima manfaat, dan goalsnya yang terpenting, mencapai keberfungsian sosial.

Mudahnya, keberfungsian sosial itu adalah suatu kondisi di mana si 'klien/penerima manfaat' dapat menjalankan fungsi sosialnya dimasyarakat secara normal. 

Misalnya dalam konteks trauma akibat kekerasan di tempat kerja, yang mengakibatkan klien/penerima manfaat ini tidak percaya diri dan takut bekerja alias potensial akan menganggur. Karena dia tidak bisa bekerja, akibatnya dia tidak memiliki pendapatan, dan ini akan melahirkan masalah sosial yang lebih kompleks lagi seperti depresi, tindak kriminal, dsb. Dalam kondisi ini, klien/penerima manfaat dikatakan tidak berfungsi secara sosial.

Pada kondisi itulah pekerja sosial memberikan treatment, untuk membangun motivasi dan kepercayaan diri klien/penerima manfaat melalui program-program pendampingan seperti (1) konseling, di mana pekerja sosial dan klien berinteraksi secara intens membicarakan masalahnya, atau (2) kelompok belajar, menggunakan kelompok untuk saling bertukar pikiran dan solusi tentang masalah mereka, dsb.

Kegiatan tersebut bukan sekedar berjalan, pekerja sosial dilengkapi kemampuan supervisi dan assesment untuk menilai seberapa jauh perkembangan klien/PM ini selama mengikuti program-program yang telah berjalan.

Ini baru praktik di level individu, lho. Menurut Prof. Isbandi dalam bukunya, pekerja sosial menangani masalah sosial dari 3 dimensi yakni, Mikro (level individu & keluarga), Mezzo ( level komunitas) dan Makro ( level negara, kebijakan sosial). 

Sedangkan dalam pasal 4 UU Pekerja sosial, praktik pekerja sosial meliputi 5 aspek yakni: Pencegahan disfungsi sosial, perlindungan sosial, Rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial, dan pengembangan sosial. Nah, dari semua aspek itu, didalamnya memuat 3 dimensi baik mikro, mezzo dan makro.

Jadi, kurang tepat jika Pekerja Sosial di asosiasikan dengan relawan. kenapa? karena praktik pekerja sosial dilakukan secara profesional dan komprehensif meliputi standar akademik, administratif, maupun etik. Kendati dalam praktik dilapangannya terkesan sama, tetap ada ruang-ruang strategis dimana hanya bisa dimasuki oleh pekerja sosial. 

Di Indonesia sendiri, profesi pekerja sosial juga memiliki organisasi profesi yang menaungi ribuan pekerja sosial di Indonesia, yaitu Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI).

Itu kiranya yang dapat saya bagikan tentang Pekerja Sosial dalam tulisan ini. Tentu ada banyak hal penting yang mungkin tidak terakomodir untuk dimasukan dalam tulisan ini. 

Karena itu, akan baik kiranya teman-teman saya, mahasiswa dari prodi terkait untuk mengkoreksi maupun melengkapi tulisan ini dengan mengirim tulisan-tulisan tentang pekerja sosial. Mari kita bumikan pekerja sosial di platform Qureta.

Terima Kasih.