Apakah ada orang yang ingin terlahir miskin?, apakah ada orang yang ingin terlahir dari keluarga yang tak punya apa-apa?, lebih jauh lagi apakah ada orang yang ingin lahir dari keluarga yang tak bisa menjamin kebahagiaannya?.

Saya kira satu jawaban yang mewakili sebagian banyak manusia ketika mendengar pertanyaan ini adalah tidak. Tidak ada manusia yang ingin menjadi miskin atau bahkan terlahir miskin. Terlahir dengan keadaan tidak punya apa-apa di tengah gelombang yang mengharuskan kita untuk punya apa-apa.

Lebih dalamnya, mereka yang tak terlahir miskin pun berlomba-lomba untuk tidak menjadi miskin, padahal menjadi miskin pun mereka tidak pernah. Lalu apa yang harus ditakutkan dari hal yang tak pernah dirasakan.

Barangkali itu hanya sebuah pernyataan bodoh saya saja, faktanya seseorang yang tidak pernah digigit harimau tidak akan pernah mau digigit harimau kan, meskipun dia tidak tau bagaimana rasanya digigit harimau.

Dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh orang-orang miskin, maka muncullah suatu stigma atau pernyataan yang mengatakan bahwa tidak ada jaminan sukses bagi orang miskin, bahkan lebih kejam nya lagi mereka mengatakan bahwa orang miskin tidak perlu sukses seperti orang-orang berada.

Stigma ini mungkin tidak secara langsung dikatakan atau disampaikan, akan tetapi stigma ini nampaknya dimunculkan lewat rutinitas harian, contohnya seorang miskin yang melamar pekerjaan, tetapi pekerjaan yang dia dapat tidak jauh-jauh dari seorang pembantu, atau jikalau dia dapat kedudukan seperti kebanyakan orang berada, pasti ada pengucilan yang dilakukan oleh beberapa teman kerjanya.

Saya tidak mengatakan bahwa menjadi pembantu atau sejenisnya itu adalah hal yang hina, sama sekali tidak. Tapi marilah kita lihat berapa banyak orang yang mempunyai harta tetapi dia mau menjadi pembantu. Mungkin ada, tetapi persentasenya mungkin dua banding sepuluh.

Ini menandakan bahwa pekerjaan ini dinilai rendah bagi mereka orang-orang berada, hal ini mungkin terjadi karena mereka tidak melihat kesuksesan dalam pekerjaan ini, tetapi kenapa pekerjaan yang dipandang tidak bisa membawakan kesuksesan dalam diri, malah dipenuhi dengan orang-orang miskin.

Selebihnya, jikalau ada orang miskin yang bisa mendapatkan pekerjaan seperti layaknya orang berada, terkadang akan muncul beberapa orang yang datang untuk mengucilkannya. 

Pengucilan yang terjadi ini tentunya menjadi salah satu bahan untuk menghalangi kesuksesan dari orang miskin tersebut. Malangnya lagi ini tidak hanya terjadi pada satu lapangan kerja, tetapi ini terjadi pada beberapa dari lapangan kerja.

Dari beberapa fenomena tadi, satu hal yang menjadi pertanyaan kita, apakah orang miskin bisa menjadi sukses?, atau kesuksesan itu sebenarnya hanya layak bagi orang-orang kaya?.

Kita tahu bahwa banyak contoh yang bisa kita ambil untuk menjawab pertanyaan di atas, seperti Niccolo Tartaglia seorang matematikawan terkenal dari Italia, pada umur 6 tahun ayahnya dibunuh oleh seorang perampok, dan pada usia 12 tahun dia terkena serangan genosida, karena tidak punya uang dan pengetahuan, ibunya pun merawatnya seperti pengalaman ibunya merawat anjing yang sakit.

Atau kisah Alfred Nobel sang penemu dinamit. Dia terlahir dari keluarga miskin dan sakit-sakitan, tidak ada yang peduli kepadanya kecuali ibunya. Bahkan dia dididik di sekolahan miskin yang sering terjadi perkelahian dan kekerasan yang dilakukan guru pada muridnya.

Mereka berdua adalah orang yang terlahir miskin, tetapi mereka bisa membawa diri mereka pada kesuksesan. Tentunya hal ini dapat menjawab bahwa orang miskin sekalipun bisa saja menjadi sukses, tetapi tidak menjawab bagaimana cara menjadi sukses.

Setidaknya untuk menjadi sukses, harus ada perubahan yang kita lakukan pada pola pikir kita, jikalau orang miskin tidak ada jaminan untuk menjadi sukses, maka seorang kaya pun tidak ada jaminan untuk menjadi sukses bukan.

Apakah ketika aku bekerja aku pasti sukses?. Pola pikir seperti ini juga harus dibuang jauh dari dalam diri. Mempertanyakan hal ini sama saja mempertanyakan apakah ketika kita main bola pasti mencetak gol, jawabannya tidak ada yang tahu. Karena tugas kita adalah bermain dengan bagus sehingga pertanyaan diawal tadi bisa kita jawab dengan gol yang kita cetak.

Dan banyak lagi pola pikir yang harus kita perbaiki terlebih dahulu, karena bagi saya sesuatu hal itu dimulai dari pola pikir kita. Dengan pola pikir yang benar, itu tentu saja akan mendatangkan hal-hal atau sugesti yang baik untuk kita.

Setelah membenarkan pola pikir kita, maka satu hal yang harus kita yakini, bahwa segala rintangan yang datang kepada kita, itu adalah cara hidup mengajari kita betapa mustahil nya kesuksesan tanpa didahului dengan cobaan yang melimpah ruah.

Cobaan dan rintangan yang bermacam-macam itu harusnya kita hadapi dan lewati, bukan malah membuat kita berhenti dan akhirnya sedikit demi sedikit menepi dan hilang begitu saja.

Saya yakin tulisan ini tidak menjawab secara menyeluruh tentang konsep yang saya tanyakan di awal, tetapi setidaknya inilah hal yang mungkin saja terlintas dibenak saya untuk lebih memahami hakikat kehidupan, yaitu untuk memberikan kemanfaatan yang sebanyak-banyaknya bagi umat manusia.