Berbekal ketelitian dan kehati-hatian serta keyakinan yang teguh, pada 26 November 2008, sepuluh orang pemuda dari Pakistan berhasil menyeberangi lautan menuju Mumbai, India, dengan perahu karet dan sebuah ransel besar menggantung di punggung masing-masing.

Tak ada kecurigaan apa pun kepada mereka, sebagaimana tak ada tanda-tanda kesepuluh orang ini merupakan boneka dari sebuah jaringan teroris di Pakistan, selain bahwa mereka sama dengan penduduk lain atau tetamu dari luar Mumbai.

Beginilah yang terjadi setelahnya: Mumbai lumpuh di beberapa tempat dan terutama Hotel Mumbai. Di sana-sini gumpalan asap hitam melayang tak tahu arah mengabarkan bau kematian dan aroma yang mencekam.

Seperti diketahui selalu terjadi, pasukan antiteror baru tiba setelah korban demi korban berjatuhan, sekitar sepuluh jam sejak pengepungan di Hotel Mumbai. Masalahnya adalah jarak yang membentang antara Mumbai dan Delhi sebagai pusat kemiliteran India itu membutuhkan waktu yang panjang, tidak sejarak sepelamparan batu. Walau begitu, para jihadis berhasil dilumpuhkan kemudian.

Mengagumkan bagaimana sang sutradara, Anthony Maras, membungkus tragedi nyata ini dalam bentuk visual atau film berjudul Hotel Mumbai. Kita tahu pada tahun 2008 terjadi aksi teror di Mumbai dengan korban lebih dari 170 jiwa, dan itu belum termasuk kerugian ekonomi dan, tentu saja ketakutan kolektif––yang barangkali masih ada dalam bayang-bayang traumatis.

Di Indonesia sendiri, peristiwa penyerangan teroris beberapa kali pernah terjadi. Kita tentu masih ingat peristiwa Bom Bali I dan II. Atau yang paling baru terjadi di sebuah kantor kepolisian Medan. Sebuah ironi, memang. Namun demikianlah faktanya.

Ada narasi berkembang mengenai motivasi para jihadis ini melakukannya. Kita barangkali akrab dengan istilah pemurnian agama. Menjaga suatu keyakinan tertentu dengan “menghilangkan” keyakinan yang lain. Barangkali menghalau agar tak tercemar hingga kemurnian itu tetap terjaga.

Pemurnian semacam ini sebetulnya tidak saja terjadi dalam lingkup keyakinan, dalam soal ini agama. Jika Anda sekilas pernah membaca bagaimana kekejaman Hitler dalam pembantaiannya terhadap orang-orang Yahudi dan lainnya, maka kesamaan itu akan Anda dapatkan.

Persis yang diyakini para jihadis, Hitler bertahun-tahun silam pernah melakukannya. Ia berasal dari suku Arya. Dan meyakini suku Arya merupakan darah suci yang mesti dijaga. Paling maju ketimbang suku-suku lainnya. Dalam buku Sapiens, buah tangan Harari, ia menyebut pemurnian semacam ini merupakan bentuk lain dari humanisme, kelak disebut sebagai humanisme evolusioner.

Tentu saja berbeda definisi humanisme yang digunakan Nazi dengan kebanyakan sekte lainnya. Kelak kita tahu definisi ini berpijak pada teori evolusi, bahwa umat manusia bukanlah sesuatu yang universal atau kekal, melainkan spesies yang dapat berubah. Bisa menjadi yang adikuasa atau justru yang terbelakang. Maka, atas dasar peranti inilah ambisi pemurnian terhadap suku Arya melalui pembantaian terjadi. Tentu saja, demi menjaga kemurnian Arya dalam mencapai  evolusi adikuasa.

Sampai di sini, benarkah pemurnian agama menjadi satu-satunya jawaban yang tersedia mengenai alasan aksi teror terjadi? Dalam film Hotel Mumbai, kita bisa menjawabnya tidak, setidaknya ada beberapa potongan yang menghubungkan bahwa itu juga datang dari kemiskinan, atau ketidakadilan.

Di menit-menit pertama dalam film ini, ketika sepuluh pemuda berada di atas perahu menuju Mumbai, kita disuguhkan dengan suara “aneh”, semacam khotbah, atau katakanlah hipnotis yang belakangan kita tahu suara itu bersumber dari tokoh intelektual di belakang mereka bernama Bull, yang memandu dan memerintahkan ini itu lewat telepon genggam, “Kalian merasa kuat. Kalian merasa tenang. Tiada rasa takut di hati kalian […] Kalian kuanggap anak sendiri. Aku bersama kalian. Allah menyertai kalian.”

Pada menit berikutnya, “Lihat di sekitar kalian, saudaraku. Lihat yang mereka curi. Dari ayah-ayah kalian. Dari kakek-kakek kalian.” Pada momen lain justru lebih terang bagaimana film ini hendak menyampaikan ada kemiskinan di sana lewat salah satu dari sepuluh pemuda itu, Imran. “Kau percaya Bull akan beri uang ke keluarga kita?” tanyanya kepada sahabatnya di sela waktu.

Dalam film ini, kita bisa menangkap bagaimana kemiskinan itu dapat terbeli, menghilangkan rasionalitas dan tentu saja nurani, sekalipun konsekuensinya adalah menghilangkan nyawa. Sejujurnya, kita mengalami dilematis mengenai realitas terorisme. Di sisi lain kita menolak kemiskinan dan ketidakadilan, di hal yang lain kita juga menolak kekerasan yang ditimbulkan oleh sisi yang pertama.

Tentang terorisme yang menghubungkan kemiskinan, perhatikan apa yang disampaikan Menteri Sosial RI, Juliari Peter (28/11/2019) dalam satu kesempatan, “Selama masih ada kemiskinan di Indonesia, maka selama itu pula paham radikalisme dan terorisme akan tetap tumbuh subur.”

Persis yang dimaksud beliau, beberapa waktu sebelumnya kita dihebohkan dengan peristiwa penusukan yang dialami Wiranto. Pihak berwajib segera mengucapkan keterangan bahwa pelaku penusukan itu datang dari seorang yang berpaham radikalisme. Belakangan kita tahu ia salah satu korban yang pernah tergusur oleh proyek jalan tol. Siapa yang harus bertanggung jawab jika terorisme juga terjadi akibat ketidakadilan dari pemerintah?  

Bagaimanapun, Imran barangkali hanyalah tokoh fiksi dalam Hotel Mumbai, tentu saja untuk memudahkan pesan kemiskinan ini tersampaikan. Namun, jika tetap menutup mata sebab menganggap kemiskinan bukan variabel terorisme, sesungguhnya kita sedang menggali kuburan kita sendiri.