Pagi ini aku buru-buru ke kedai kopi. Memesan kopi sembari membuka sedikit catatan harian. Ketemu dengan beberapa nama tokoh serta hal-hal rumit yang ditanggungnya.

Anggaplah Helena di Troya, atau Romeo dengan Juliet. Lebih dekat Sartre dengan Beauvoir, adalah perjalanan sejarah asmara yang sangat inspiratif dan menghangatkan bila dibaca.

Sembari menyeruput kopi, aku sedikit menertawakan diri sendiri saat membayangkan Ibnu Qayyim kebingungan mencerahkan anak muda tentang cinta, lalu menyimpulkan bahwa cinta adalah cinta itu sendiri.

Entah ia ragu-ragu akan perspektifnya atau justru takut meluruskan perbedaan pendapat hanya demi mengakhiri perdebatan tentang cinta ini. Agar ia bisa lepas tangan dan tetap terlihat bertanggung-jawab.

Namun, sedikit cahaya menyinari imajinasi saat filsuf yang kerap dianggap lebay dan diminati kaum patah hati memberikan semangat, bahwa cinta adalah kebebasan.

Demikian dikatakan Kahlil Gibran yang hingga kini kalimat-kalimatnya masih banyak digunakan sebagai pembenaran atas tindakan-tindakan konyol orang yang jatuh cinta.

Sujiwo Tejo ada benarnya juga, bahwa menikah adalah nasib dan mencintai adalah takdir. Seseorang bisa berencana menikah dengan siapa tetapi tak pernah tahu jatuh cintanya untuk siapa.

Ayam akan tetap bertelur, beranak pinak hanya karena kawin dengan jantannya, tanpa harus tahu apa itu cinta. Hewan saling bertegur sapa dengan kawanannya mencari makan bersama, dan tak harus patah hati lalu mengutuk cinta sebagai penyebab semua kesialan.

Kursi-kursi berjejeran dengan pasangan meja unik yang diam, selalu menunggu tamu-tamu kesepian tanpa harus mengamuk bila tak ada yang datang.

Sungguh hewan dan benda seolah begitu paham dan benar-benar merealisasikan cinta mereka. Dibandingkan kita yang mengaku paling manusia, mengklaim sebagai pecinta yang baik tapi masih begitu naif memaknai semua.

Kursi dengan meja selalu terlihat sempurna, saling melengkapi satu sama lain. Kursi selalu tabah memunggungi beban walau begitu berat, meja juga tampak ikhlas menerima wejangan entah makanan apapun, bahkan racun yang ditumpahkan ke dadanya diterima dengan lapang.

Demikian secangkir kopi yang diabaikan lebih memilih dingin daripada menumpahkan dirinya sendiri ke lantai.

Mengajari manusia yang mengaku paling bijaksana bahwa ego tak pernah ada artinya untuk ketenangan. Ego hanya menghancurkan diri sendiri dan selalu layak ditertawai.

Lalu bagaimana manusia yang tak pernah merasa puas dengan semuanya. Bagaimana manusia memahami bahwa cinta tak perlu dipahami begitu dalam, hanya bisa dimaklumi adanya, dan dibiarkan membekas sisanya.

Tetapi kiranya manusia bukan hewan, bukan benda. Ia butuh kepuasan jiwa dan kekenyangan raga. Kehausan membuatnya mengaung, sementara lapar menjadikannya lebih menjerit.

Olehnya dihadirkan cinta oleh Tuhan untuk meredam seluruh gemuruh dari manusia. Walau kebiasaan manusia tak banyak berubah dari zaman batu ke milenial, di mana lebih gemar menghakimi daripada merenungkan. Mencaci-maki terlebih dahulu tanpa intropeksi diri dan merasa paling berjasa.

Cinta sebenarnya adalah jalan kedamaian jiwa, jalan suci menuju Tuhan. Tetapi masih saja ada yang mengutuk, dan menganggap cinta sekedar omong kosong belaka, gombal semata dan permulaan menuju binasa.

Padahal tafsir tentang keagungan cinta tak terhitung jumlahnya dalam ensiklopedi. Para pemikir belum berhenti mendefinisikan dari generasi ke-generasi.

Walau menjadi penyemangat setiap saat, kata cinta belum juga dipatenkan maknanya.

Hal itu tentu mengobsesi kaum muda untuk terus berdebat dan mencari esensi. Bahwa setiap kata akan bertambah, demikian makna senantiasa berubah.

Aku membayangkan suatu masa, di mana orang-orang saling mencintai dengan cara-cara mencerdaskan. Bukan menggunakan kecerdasan untuk meninggalkan.

Jika mencintai adalah pemberian maka ikhlas adalah jembatan ketenangan. Tetapi ikhlas adalah perilaku yang rumit dan mendalam, seyogyanya orang bisa melakukan hal tersebut dengan pengetahuan serta wawasan yang luas.

Namun, kekhawatiran akan akibat-akibat perbuatan tersebut membuat banyak kalangan justru mengabaikan karena merasa tak penting.

Belakangan saat terpuruk, barulah menyadari akan pengetahuan cinta itu, sembari mengutuk dan menganggap cinta tak lain adalah luka.

Seandainya hewan punya kemampuan bahasa seperti manusia, atau meja bisa berbicara layaknya remaja. Maka, mereka akan terlihat lebih romantis daripada sepasang manusia yang kehujanan dan terjebak di halte  berharap kereta terlambat sehingga bisa bercumbu -lama.

Kursi dengan meja akan saling berkirim surat, sepasang hewan saling tertawa romantis sembari membaca puisi setiap pagi. Dan manusia akan jadi penonton dengan segunung cemburu di dadanya.

Walau ini hanya angan-angan tapi tak ada salahnya membayangkan hal tersebut, bahwa benda-benda saja yang tak saling cinta bisa terlihat berbahagia penuh kedamaian, kenapa kita tidak?

Atau bisa jadi sebab kita terlalu fanatik dengan logika sehingga semua yang bersumber dari hati tak begitu berarti. Tetapi bagaimana dengan air mata yang menetes, walau dibendung dengan logika kuat-kuat, tetap saja menghujam.

Berhentilah menyalahkan cinta, mulailah dengan mencintai diri-sendiri bahwa cinta tak penting jenis apa. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling memahami dan bisa bahagia, layaknya meja dengan kursi yang diam tapi selalu terlihat harmonis.