Advocate Assistant
2 tahun lalu · 83 view · 5 menit baca · Lingkungan 90048.jpg
careernews.id

Kemesraan Antara Kritis dan Pesimis yang Teraminkan

Di sebuah beranda bambu kuning yang atapnya tersusun atas beberapa daun kelapa kering, di tempat ini seringkali terjalin diskusi pemecah hening namun cenderung berujung pada bising. Meski seringkali mengerutkan kening karena pusing, namun suatu saat hikmah akan dipetik oleh diri masing-masing. 

Kala sore, terjadi diskusi yang cukup alot antar beberapa rekan. Pembahasannya cukup acak, mulai dari hal yang umum sampai pada hal yang bersifat pribadi. Mulai dari sejak kapan kau jomblo hingga sampai kapan kau ingin jomblo, tapi sudahlah itu tidak cukup penting. Di tengah perbincangan, ada yang tiba-tiba menyanggah dengan pertanyaan "kak, sebenarnya apa itu kritis ?".

Pertanyaan yang cukup sederhana. Ada yang menjawab kritis itu jeli melihat keadaan, penalaran yang mendalam dan kritis itu demonstrasi. Namun ada juga mengurainya dengan cara yang barangkali tidak sederhana untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kecenderungan dalam berpikir kritis adalah berusaha mengurai hal sederhana menjadi tidak sederhana namun akan kembali pada titik sederhana karena kesederhanaan adalah ketidaksederhanaan yang berganti nama. Baiklah, selamat menyederhanakan.

Barangkali kita cukup akrab dengan kata kritis, apalagi di kalangan mahasiswa. Sering juga dijumpai kalangan yang meng-klaim diri sebagai orang yang kritis, apalagi mahasiswa. ya, mahasiswa. Dalam dunia kemahasiswaan,doktrin tentang fungsi, ciri-ciri dan label mahasiswa telah menjadi hal yang "dogmatik". 

Itu tidak lepas dari sejarah panjang bangsa ini yang notabene mahasiswa turut menorehkan keterlibatan dalam beberapa momentum mulai dari pra- sampai pasca kemerdekaan. Sejarah tetaplah sejarah yang bakal menjadi pembelajaran besar, setiap peristiwa tentu punya konteks dan dari keadaan sosial akan berimplikasi pada kesadaran sosial (kalau sadar). Dalam menilai suatu peristiwa tentulah masing-masing orang punya sudut pandang, dari sudut pandang berbeda maka akan akan memunculkan kesadaran berbeda pula.

Jika pernah mengikuti proses perekrutan menuju perkaderan dalam dunia kemahasiswaan, maka akan cukup akrab dengan doktrin turunan tentang fungsi mahasiswa sebagai agen of change, social of control dan moral of force. Ciri-ciri mahasiswa dari generasi ke generasi akan diidentikkan dengan rasionalitasnya, analisisnya, kritis, universalitasnya, dan cara berpikir yang sistematis. dari fungsi dan ciri tersebut, maka terakumulasi pada label mahasiswa sebagai masyarakat ilmiah. Apakah sekarang masih ilmiah ataukah hanya mitos belaka. Sila direfleksikan sendiri :) .

Salah satu yang sering didengungkan adalah sifat kritis dari mahasiswa. Sebenarnya kritis itu seperti apa ? Sedangkal pemahaman saya dalam fase belajar ini, kritis merupakan sebuah kata untuk merepresentasi kecenderungan seseorang mempertanyakan sesuatu dengan dasar keraguan yang mengesampingkan kewajaran. Lebih sederhananya, kritis adalah seni bertanya. 

Sedangkal yang saya pahami lagi, kritis adalah cara kerja untuk mengurai sebuah realitas dengan pendekatan analisis dalam melahirkan sebuah gagasan, tanggapan serta penilaian terhadap suatu objek atau dengan kata lain meng-interupsi sebuah keadaan. Orang yang mengkritik atau lebih dikenal dengan kritikus/kritisi sejatinya hadir sebagai jembatan untuk menghubungkan antara persepsi satu dengan lainnya. 

Dalam konteks seni dan sastra misalnya, kritikus hadir sebagai penghubung antara persepsi seniman/penyair, karya dengan persepsi penikmat seni/sastra. Jadi dari hasil mengkritik tadi, itu melahirkan tanggapan atau ulasan tentang baik dan buruknya suatu karya. Makanya tingkat apresiasi dalam penilaian suatu karya seni/sastra sangatlah dipengaruhi oleh hasil kritik dari sang kritikus.

Nah, dalam konteks lain kritik hanyalah dipandang sebagai aksi protes atau ketidaksetujuan semata terhadap suatu objek. Kritik hanyalah sebuah konsepsi yang pusarannya hanya berkutat di wilayah masalah. Seringkali pemikiran kritis hanya terhenti pada titik masalah dan sangat pesimis untuk memulai langkah menuju solusi yang konkret. 

Masalah ibarat medan magnet beda kutub yang sifatnya tarik menarik jadi jika hanya memunculkan masalah maka euforia dalam hegemoni masalahlah yang nampak. Seperti masalah, solusi pun sifatnya tarik menarik namun bagaimana mungkin menentukan solusi jika tidak memahami substansi dari masalah. Lebih parahnya lagi jika ingin memahami masalah sementara dudukan masalahnya pun masih bermasalah.

Dalam dunia kampus sering terjadi dikotomi antara mahasiswa organisatoris dan mahasiswa akademis. Yang mengklaim diri sebagai organisatoris akan melayangkan "kritikya" pada mahasiswa akademis begitupun sebaliknya. Seringkali label yang melekat bagi mahasiswa yang tidak tergabung dalam organisasi adalah akademis dan label yang melekat pada mahasiswa yang tergabung dalam organisasi itu kritis. 

Ada juga kecenderungan tuduhan mahasiswa organisatoris pada mahasiswa akademis bahwa yang akademis itu tidak kritis apalagi menuduh sampai pada tingkat apatis. Perlu diketahui mahasiswa yang tidak berorganisasi belum tentu dia akademis, mahasiswa akademis belum tentu tidak kritis dan mahasiswa yang berorganisasi belum tentu pula dia kritis.

 Semoga saja kita tidak over-generalisir. Dalam paparan silogisme Aristoteles, ia mengklasifikasi over-generalisasi adalah sebuah kecelakaan berpikir. Jalaluddin Rahmat pun mengangkat kembali dalam tuangan tulisannya dalam buku "Rekayasa Sosial" mengenai Fallacy of Dramatic Instance yaitu menarik kesimpulan mengenai hal yang besar dengan mengambil sample yang kecil. 

Sejatinya mahasiswa yang notabene adalah masyarakat ilmiah mesti kritis namun tidak pesimis. Memulai dari hal kecil saja terkadang kita malas untuk menginisiasi. Jangankan melakukan hal yang konkret, diskusi saja enggan untuk mengisi. Kampus yang notabene sebagai ruang intelektual namun yang ada kecendrungannya hanya sebagai tempat membual. 

Hasrat yang besar untuk melanjutkan cita-cita para pejuang untuk bangsa namun dalam dinamikanya hanya saling memangsa. Mungkinkah melanjutkan cita-cita bangsa jika cita-cita bangsa beserta tokohnya saja dianggap hal biasa ? Sungguh itu hanya akan berbuah nelangsa.

Ingin memperbaiki bangsa yang dianggap tersiksa oleh asing namun dengan cara saling mengasingkan. Ingin membesarkan namun kerap kali saling menggulingkan. Meneriakkan persatuan namun pada kenyataannya saling mematahkan. Meneriakkan pembelaan terhadap rakyat yang termarjinalkan namun di lapangan kerap tergiur untuk dinominalkan. Tan Malaka pernah bersabda, Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda, namun seringkali terabaikan ibarat sebuah canda. 

Inilah kehidupan kampus dengan segala dinamikanya yang indah (indahkan saja). Kita berangkat dari perspektif berbeda yang masing-masing dianggap benar adanya. Silakan mengampanyekan hal yang dianggap sebagai kebenaran menurut kita. Dari kritik terhadap suatu peristiwa berdasarkan sudut pandang akan melahirkan kesadaran yang mungkin saja sama atau sangat mungkin pula berbeda. Dalam dunia yang semakin modern ini ada banyak panggung berekspresi untuk menilai peristiwa. Gerakan mahasiswa tidak boleh mati namun gerakan tidak melulu mesti sama. Keterbukaan dan kreativitas mestilah selaras dalam dinamika. 

Berusaha menutup diri dari globalisasi hanya akan melahirkan hipokrisi. Namun dalam menyikapi modernisasi harus ditopang oleh nilai tradisi. Untuk mendapatkan prestisi mestilah dengan sebuah prestasi. Dalam mencapai prestasi tentulah harus membuka diri dengan dunia literasi. Meneriakkan Revolusi mesti dibarengi dengan Resolusi karena meneriakkan Revolusi tanpa dibarengi Resolusi maka hanya akan melahirkan Ilusi. 

Terima kasih, salam tradisi dan salam literasi.


*Dipaparkan dalam diskusi hangat di Beranda Sekretariat KOMPAK SC FH UMI | Tanggal 28 Maret 2017