Dear Parents, bulan Agustus ini tidak hanya dihormati sebagai momentum perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus.

Namun, juga bulan yang pada setiap pekan awalnya diperingati sebagai Pekan Menyusui Sedunia.

Akan tetapi, di masa pandemi corona ini, merupakan pilihan yang menantang bagi para ibu menyusui (busui) yang terkonfirmasi COVID-19, untuk tetap bisa menyusui anaknya dengan aman dan nyaman. 

Banyak pula, para busui yang memilih memisahkan dari anaknya, khawatir bayi/balitanya ikut terinfeksi. 

Memang, perkara menyusui sambil terinfeksi COVID-19, bukanlah sesuatu pilihan yang mudah dipilih dan dijalani. 

Badan kesehatan dunia, WHO, pada tanggal 23 Juni 2020, telah merilis resmi bahwa ibu-ibu masih dapat menyusui bayi/balita, meskipun positif COVID-19. 

Dengan mematuhi rambu-rambu protokol kesehatan, justru kegiatan menyusui tersebut, melalui ASI dapat membentuk antibodi sebagai benteng imunitas bayi/balita.

Tak ayal, saya pun menjadi bagian dari barisan busui  yang positif covid bergejala ringan pada bulan November 2020 dan terjadi klaster keluarga. 

Pada saat itu, saya masih menyusui si bungsu yang berusia 9 bulan, menjalani isolasi mandiri (isoman) bersama kedua kakaknya dan ART di rumah.

Sedangkan, suami harus dirawat di RS Darurat COVID Wisma Atlit, Kemayoran Jakarta.

Pada Juli 2021 lalu ini, hampir terjadi lagi klaster keluarga, karena suami reinfeksi COVID-19 lagi, alhamdulillah saya dan anggota keluarga lainnya negatif. 

Akan tetapi, suami yang bergejala ringan memutuskan hanya isoman di rumah dan kami pun turut serta mendampinginya di rumah kecil yang hanya memiliki 2 kamar.

Demi menjaga bonding dan  ASI yang sedikit jika diperah, terlebih si bungsu lebih suka menyusu langsung, saya memilih tetap menyusui sembari isoman.

Dear bunda, sedikit saya berbagi pengalaman kepada para bunda yang positif COVID-19 dan menjalani isoman, agar lancar menyusui.


1. Kelola kecemasan dan lakukan relaksasi

Dalam situasi yang kalut ini, biasanya kepanikan melanda, cemas, stres. Saat cemas tubuh akan melepaskan hormon kortisol. 

Hormon kortisol yang berlebihan bisa menyebabkan peradangan dan mematikan sistem kebelan tubuh yang melawan infeksi.

Selain itu, bila busui merasa cemas berlebihan, stres, dapat berdampak produksi ASI yang menurun dan efeknya juga bis mempengaruhi psikologis bayi sehingga cenderung lebih rewel.

 Maka, yang pertama kali perlu dilakukan adalah relaksasi pikiran dengan menarik napas dalam-dalam dan berdoa mohon diberi ketenangan dan kesabaran oleh Yang Maha Kuasa.

Berikutnya, afirmasi positif, katakan kepada diri sendiri bahwa kita bisa melalui ini semua, dan segera sehat, sehat, dan sehat. 

Tambahkan pula di dalam doa, jika ada anggota keluarga yang harus dirawat di RS ataupun mengungsikan yang sehat ketika terjadi klaster keluarga, agar bisa berkumpul dan bertemu kembali lagi.

Apabila kebosanan dan suntuk melanda, para busui yang sedang isoman jangan menyendiri dan upayakan selalu berkomunikasi dengan anggota keluarga lainnya maupun sahabat untuk berbagi cerita. 

Tak lupa juga, lakukan relaksasi fisik dengan olahraga ringan di dalam rumah atau teras, sambil berjemur pada pukul 8-9 pagi.


2. Manfaatkan layanan telemedicine

Bagi para busui yang sedang isoman, jangan segan-segan memanfaatkan pelayanan telemedicine yang disediakan pemerintah. 

Setelah diketahui hasil PCR Test, segera laporkan kepada Puskesmas juga RT setempat.

Selain itu, untuk memanfaatkan pelayanan telemedicine ini, sebelumnya anda perlu memeriksakan apakah klinik/laboratorium yang melakukan Covid Test tersebut, terafilisasi Kemenkes (bisa dicek: https://www.litbang.kemkes.go.id/laboratorium-pemeriksa-covid-19/).

Apabila terafiliasi, maka klinik/laboratorium akan memasukkan data pasien dan terhubung langsung dengan Kemenkes.

Dalam jarak waktu sekitar 1 hari, pasien akan menerima pesan Whatsapp dari Kemenkes yang memuat link untuk konsultasi online dan sebuah kode untuk mendapatkan obat gratis.

Layan telemedicine isoman ini merupakan kerja sama Kemenkes dengan 11 platform layanan telemedicine dan terus bertambah dengan beberapa platform lainnya, untuk memantau para pasien yang sedang isoalasi mandiri.

Hal ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasien terhadap konsultasi dan pemantauan oleh tenaga kesehatan serta mendapatkan pengobatan yang benar sesuai gejala yang diderita secara gratis.

Saat ini, layanan sudah menjangkau pula Jawa dan Bali. Platform telemedicine tersebut antara lain Alodokter, GetWell, Good Doctor dan GrabHealth, Halodoc, KlikDokter, dan KlinikGo. Kemudian Link Sehat, Milvik Dokter, ProSehat, SehatQ, dan YesDok.

Selain itu, pemerintah juga telah menyediakan akses langsung untuk yang menjalani isoman melalui situs: www.isoman.kemkes.go.id.


3. Self monitoring kondisi kesehatan diri dan keluarga yang isoman

Selama menjalani isoman bersama anggota keluarga, pantau selalu kondisi kesehatan diri sendiri dan anggota keluarga.

Perhatikan apakah ada yang mengalami deman, batuk, pilek, anosmia/hilangnya penciuman, ruam kulit, dan lain-lain. Dengan varian baru yang terus bermutasi, kewaspadaan harus terus ditingkatkan, apalagi jika bergejala.

Sediakan alat kesehatan pemantau suhu tubuh (termometer), pengukur saturasi oksigen (oxymeter), dan bahkan tensimeter, pengukur tekanan darah, khawatir stress ataupun tidak disadari ternyata hipertensi/hipotensi. 

Selain itu, sebisa mungkin di rumah selalu terdapat obat-obatan yang mudah dibeli secara bebas di warung, minimarket, maupun online

Apalagi kondisi pandemi seperti ini, obat untuk demam, flu, diare, maag, bedak gatal, harus menjadi stok sehari-hari dan perhatikan pula tanggal kadaluwarsanya.


4. Terapkan protokol kesehatan secara ketat

Menurut pakar kedokteran komunitas dan peneliti utama Health Collaborative Center (HCC), Ray Wagiu Basrowi, pada konferensi pers virtual Pekan Asi Sedunia, Rabu (4/8), apabila ibu dan anak mengidap COVID-19, maka pemberian ASI bisa dilakukan seperti biasa.

Ray juga menyarankan agar ibu menyusui bayi sambil memakai alat pelindung diri seperti masker dan face shield, juga baju berlengan panjang. 

Pastikan membersihkan payudara ibu sebelum dan sesudah menyusui dan tidak melakukan simulasi verbal kepada bayi supaya mencegah penyebaran droplet.

Namun, pengalaman saya sendiri bahwa penggunaan face shield ini merupakan tantangan tersendiri. 

Hal itu dikarenakan, rasa penasaran bayi yang mulai aktif bergerak dan menarik-narik/memainkan APD yang dipakai bundanya.

Paling tidak, gunakan masker medis selama 24 jam dan sering menggantinya jika masker kotor/basah. 

Selain itu, rajin mencuci tangan menggunakan hand sanitizer/sabun dengan air mengalir sebelum/setelah menyusui.

Ray mengingatkan bahwa ASI yang diberikan aman bagi bayi. "Tidak ada penelitian yang mengatakan bahwa ada virus SARS-CoV-2 dalam ASI dari ibu yang terkonfirmasi positif COVID-19," ujarnya.


5. Konsumsi makanan yang bergizi seimbang dan istirahat yang cukup

Melawan corona ini, para busui perlu memperhatikan asupan makanan dan minumannya. 

Asupan gizi seimbang bagi busui yang sedang isoman seringkali terabaikan dengan stres dan cemas yang dirasakan.

Kecemasan bisa memicu peningkatan kortisol yang menganggu sistem pencernaan.

Selain itu, hormon adrenalin juga bisa mengurangi aliran darah dan memelaskan otot perut. 

Akibatnya, kita bisa mengalami mual, muntah, dan diare, bahkan kehilangan nafsu makan (sumber: kompas.com). 

Menu sederhana yang dapat mengurangi rasa mual seperti nasi, sayur bayam, tempe, dan ikan goreng, dapat menjadi salah satu pilihan para busui

Jangan lupakan pula buah-buahan yang memiliki kandungan vitamin C yang tinggi, namun tidak meningkatkan asam lambung seperti semangka bisa dijadikan alternatif makanan selingan. 

Para ibu menyusui dapat pula mengonsumsi multivitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh. Dan, berkomunikasi sambil bercanda dengan anak bisa menjadi ASI booster.

Para bunda tersayang, apabila 3 bulan setelah selesai masa isoman atau dinyatakan sembuh, segeralah lakukan vaksinasi COVID-19. Vaksinasi ini sudah aman dan bisa untuk busui dan ibu hamil loh.