6 hari lalu · 79 view · 8 min baca · Cerpen 42477_95759.jpg
Permata GBKP

Kemerdekaan Tidak Merdeka

Setelan baju berwarna khaki tua, sepatu dan topi mutz dengan emblem PP sudah terpasang di badan Andre. Dia sudah siap bertugas hari ini. Apel bersama teman-temanya yang dikomandoi oleh Pak Joko sebelum bertugas, dia simak dengan tubuh tegap, tidak peduli panas matahari yang menyengat di pelataran parkir markas besarnya.

“Siap, Pak,” jawaban serentak dari semua anggota Satpol PP termasuk Andre salah satunya.

“Ingat, kalau bisa semuanya harus sudah rapi sebelum 17 Agustus.”

Sesudah mendengar arahan tugas dari atasanya, semua anggota Satpol PP beranjak menuju mobil tugas yang sudah akrab mereka kendarai; mobil bak terbuka yang diberi penutup di bagian atasnya, dan tidak lupa ciri khas warna khaki tua seperti seragam para anggota Satpol PP tersebut.

“Sudah siap?” tanya Pak Joko kepada bawahanya, Andre, yang duduk di sebelahnya.

“Siap-tidak siap, harus siap, Pak,” jawab Andre tegas.

“Bagus itu baru anggota saya. nanti kamu rapihin bagian depan. Nah, sama jangan lupa bantu rapihin stan penjual yang ada di situ. Tenang saja jangan gerogi."

“Siap, Pak,” jawab Andre.

Mobil berjalan lambat menyusuri jalanan kota Surabaya yang mulai macet. Jam tangan Andre menunjukkan pukul 9 pagi. Salah satu jam yang cukup padat bagi jalanan di pusat kota Surabaya. 

Maklum kota Surabaya sudah menyandang kota metropolis dengan jumlah kelas menengah dan pekerja yang cukup banyak, jadi terbilang wajar jika jalanan terlihat padat dengan para pekerja dengan kendaraan pribadinya.

Keringat Andre bercucuran. Hawa panas kota Surabaya bukan menjadi penyebab utamanya, tapi karena rasa kurang percaya diri menjalankan hari pertamanya bertugas. Sapu tangan pemberian Ibunya sudah beberapa kali mengusap keningnya. 

Sapu tangan bermotif kotak-kotak berwarna biru itu sudah beberapa kali menemani Andre. Sapu tangan itu sudah seperti jimat dan penyemangat baginya. Setiap kali dia menggunakan sapu tangan itu, selalu teringatlah Dia dengan Ibunya yang selalu menunggunya di rumah.

Setelah menempuh perjalanan 15 menit, akhirnya mobil yang mengangkut personel Satpol PP tersebut terparkir di salah satu kawasan di pusat kota Surabaya. Mobil tersebut parkir tepat di depan deretan rumah, toko, dan stan pedagang yang akan ‘dirapikan’.

Lokasi tersebut rencananya akan ‘dirapikan’ untuk memperluas pembangunan jalan raya. Letak deretan rumah dan stan pedagang tersebut persis di area perempatan besar lampu merah di salah satu kawasan yang diapit gedung-gedung perkantoran. 

Yang ada di benak pemerintah, mungkin, kawasan ini harus ‘dirapikan’ agar bisa mengurangi kemacetan yang sering terjadi di jalan perempatan tersebut –atau mungkin pemerintah menganggap kawasan ini kurang sedapdipandang mata bila disejajarkan dengan gedung-gedung megah perkantoran yang mengapit kawasan yang akan digusur tersebut.

Dengan langkah berderap semua anggota Satpol PP menyebar dan mulai ‘merapikan’ bangunan-bangunan yang terindikasi sebagai sumber kemacetan. Awalnya Andre nampak linglung dengantindakan pertama apa yang akan dilakukanya. Semua temanya sudah mulai menyebar dan Andre masih terpaku dan menggenggam sapu tanganya. 

Hari pertama berdinas memang membuat bingung, meskipun sudah mendapat banyak pelatihan sebelumnya.

Langkah kaki Andre digelayuti rasa bimbang, berat dan serasa terseret. Tapi, mendadak Pak Joko memanggilnya dan menyuruhnya untuk ‘merapikan’ rumah kecil yang sekaligus digunakan sebagai stan untuk berdagang soto. Pak Joko tidak mengenal pemilik bangunan dan penjual soto itu. 

Yang diketahuinya tempat berjualan itu masuk daftarnya untuk segera ‘dirapikan’. Posisi bangunanya yang terletak di area terlarang dan harus segera disingkirkan, hanya itu yang ada di benak Pak Joko.

Mendengar instruksi langsung dari Pak Joko, kaki Andre terasa lebih ringan. Jalanan berdebu karena banyaknya mobil dan motor yang berseliweran, diperparah dengan langkah sepatu lars para petugas berseragam cokelat tersebut. Beberapa kali Andre terbatuk dan matanya sedikit terasa perih akibat debu-debu yang beterbangan. 

Beberapa meter letak stan pedagang soto itu dari Andre. Tampak sedikit ragu, Andre akhirnya berani menghampiri pemilik stan soto sekaligus pemilik bangunan tersebut, seorang Ibu-ibu paruh baya bertubuh gemuk dengan daster kuning bercorak bunga.

“Permisi Bu, saya dari petugas Satpol PP. saya bermaksud...” Ujar Andre yang belum menyelesaikan kalimatnya namun Ibu tersebut menyuruh Andre untuk duduk sejenak di lokasi dagangan sotonya.

“Iya. Saya sudah tahu kok. Kelihatanya adek lelah sekali. Keringat sudah sebesar jagung. Duduk dulu Ibu buatkan teh hangat dulu,” ucap Ibu tersebut ramah.

Andre sempat curiga. Mungkin Ibu ini bermaksud menyogoknya karena sepengetahuanya dari teman-temanya yang sudah lama bekerja, biasanya para pedagang selalu memberontak ketika diadakan pembersihan. 

Andre juga sempat merasa pendekatanya kepada ibu tersebut, dengan cara menyampaikan maksudnya sebelum bertindak, merupakan tindakan keliru. Karena bisa saja ibu ini menganggap Andre terlalu baik dan ada kemungkinan dia bisa diajak ‘berdamai’ agar kiosnya tidak digusur.

Sapu tangan pemberian Ibunya kembali menyapu kening Andre yang kembali berkeringat. Melihat sapu tangan tersebut tekad Andre sudah bulat: “Aku tidak bisa kau sogok hanya dengan segelas teh hangat. Camkan itu,” ujar Andre dalam hati.

Berselang sekitar sepuluh menit, Ibu pemilik bangunan tadi muncul dengan segelas teh panas. Andre yang duduk di bangku mulai memperlihatkan wajah tegasnya. Awalnya Andre ingin menolak segelas teh yang masih mengepul itu dan segera ingin membersihkan bangunan itu, tapi ketika melihat air muka Ibu tersebut Andre merasa tidak tega. 

Wajah polos tanpa riasan ditambah kantung mata yang mulai membesar di wajah ibu tersebut sedikit menggentarkan niat Andre.

“Sudah lama bekerja sebagai Satpol PP?” ujar Ibu itu dengan nada pelan.

“Ehh, sudah sebenarnya, tapi baru sekarang turun lapangan, Bu,” jawaban Andre terdengar grogi dan tidak konsisten.

“Oh. Begini Dek, eh Pak, saya sebenarnya sudah tahu kalau tempat ini mau digusur. Jauh-jauh hari malah. Saya paham lokasi kampung ini letaknya di kawasan tengah kota dipepet gedung-gedung besar. Pasti cepat atau lambat tempat ini juga akan kena gusur. Kalau saya sih sudah ikhlas kalau digusur.”

Mendengar perkataan itu kecurigaan Andre yang dirinya akan disogok terbantah, dan justru dia penasaran kenapa dia ikhlas rumah dan tempat usahanya digusur.

“Kalau saya memang sudah tidak ada pandangan lagi kedepanya mau bagaimana. Suami saya sudah meninggal, dan anak laki-laki semata wayang saya sudah pindah, ikut istrinya di Solo. Usaha soto ini awalnya suami saya yang menjalankan, terus sepeninggalanya saya yang nerusin.

Kalau memang jadi digusur mungkin saya akan ikut anak saya di Solo,” ujar ibu tersebut. Nampak oleh Andre mata Ibu tersebut mulai berkaca-kaca. Tangisnya berusaha ditahan tapi Andre tahu bahwa ibu pemilik stan ini begitu sedih.

“Sebenarnya banyak kenangan di tempat ini, Pak. Banyak sekali. Saya membesarkan anak laki-laki saya ya di rumah ini; terus usaha soto yang dirintis bersama suami saya sejak dulu ya di tempat sini, dan Alhamdulillah langgananya cukup banyak meskipun rata-rata yang makan juga warga sini sendiri." 

"Sekarang semuanya semakin sepi, apalagi sejak kepergian anak laki-laki saya ke Solo, dan suami saya yang sudah meninggal.  Dulu kampung ini ramai. Waktu anak saya masih kecil dulu, apalagi mendekati acara tujuh belasan seperti sekarang. Warga di sini guyub. Kerja bakti tiap hari minggu pasti ada."

"Bapaknya juga aktif, ikut ngecat gapura dan sesekali anak saya yang masih kecil ikut-ikutan. Katanya sih pingin bantu. Pas acara tujuh belasan lomba buat anak-anak rutin, tapi ada juga lomba buat yang dewasa seperti lomba sepak bola pakai sarung. Biasanya suami saya ikut, dan lucunya kalau pesertanya jatuh. Hahaha. Eh maaf Pak. Saya malah jadi curhat. Jujur Pak saya kangen banget suasana dulu."

"Tapi sekarang sudah sepi. Semua warganya yang tua-tua sudah banyak yang meninggal, sisanya pindah karena gusuran ini. oh, iya tehnya diminum.”

Andre hanya terdiam mendengar rentetan omongan Ibu tersebut. Sesekali sembari mendengar, Dia hanya meminum sedikit demi sedikit teh yang diberikan padanya. tidak ada tanggapan apapun dari Andre.

Melihat tidak ada tanggapan dari Andre, Ibu itu merasa bahwa yang diomongkan sudah cukup.

Setidaknya, untuk beberapa saat, dia punya telinga untuk mendegarkan kisahnya sebelum pergi dari tempat tersebut.

“Oh, ya ini kan rencanaya tempat ini harus bersih pas, tanggal 17. Dan sekarang kan, masih

tanggal tiga belas. Saya sudah baca surat edaran yang sudah dikasih. Jadi masih ada waktu beberapa hari, toh?”

“Iya, Bu. Tapi kalau bisa secepatnya tempat ini harus segera ‘dibersihkan’,” ujar andre sok tegas.

“Oh, kalau gitu nggak apa-apa, Mas. Eh maaf, Pak. Silahkan angkat saja gerobak saya dan rapihin apa yang bisa diangkat atau dibersihkan dulu. Tapi kalau sekiranya hari ini masih belum selesai dibereskan, saya boleh minta tolong sebentar.”

“Tolong apa, Bu?”

Ibu pemilik stan soto dan bangunan tersebut beranjak masuk, dan beberapa saat kemudian dia keluar.

“Tolong pasangkan ini di depan rumah saya. Tenang saja secepatnya saya juga pindah. Barang-barang sudah saya kemasi, kok,” Benda yang dibawa dan berharap dipasangkan itu ternyata Bendera Merah Putih. 

Warna merahnya sudah sedikit memudar dan putihnya sudah tidak terlihat cerah, mungkin bendera ini bendera yang sama setiap tahunya yang dipasang di depan rumah Ibu tersebut.

“Loh tapi kan, Ibu mau pindah dan tempat ini mau digusur?" 

"Iya mas saya tahu. Tapi tolong, sekali lagi tolong pasangkan. Saya kepingin melihat bendera itu berkibar di depan rumah saya untuk terakhir kalinya di depan rumah ini. Soalnya yang biasanya masang bendera suami saya, saya tidak bisa." 

"Saya kangen dengan suasana dulu kalau mendekati tujuh belasan di kampung ini yang di depan rumah warganya pasti berkibar Bendera Merah Putih. Tolong ya mas.” Mata ibu itu sudah tidak bisa menahan air matanya. Semuanya tumpah.

Tidak tega rasanya menolak permintaan ibu tersebut. Ibarat kata seperti terpidana mati yang ditanyai keinginanya. Perbedaanya yang satu kehilangan nyawanya, sedangkan ibu ini akan kehilangan rumah sekaligus kenanganya.

Tangan Andre dengan cekatan memasang bendera pada tiang yang sudah disiapkan pula oleh Ibu pemilik bangunan itu ketika Andre mengiyakan permintaanya. Tatakan yang terbuat dari corcoran semen yang sudah retak di berbagai sisinya sudah siap menampung tiang bendera yang akan ditancapkan Andre. 

Dan akhirnya Bendera Merah Putih berkibar, Ibu itupun terlihat puas memandanginya. Melihat hal tersebut, tanpa sepengetahuan Ibu tersebut, Andre sedikit menjauh dan menyalakan walkie talkienya.

“Pak, bangunan ini sudah siap dieksekusi. Gerobaknya akan segera saya pindahkan. Tolong alat beratnya segera dibawa kemari.”

“Ok,” jawaban singkat dari seberang walkie talkie.

Andre beranjak menjauh, dan sekali lagi sapu tangan pemberian ibunya mengelap muka Andre yang sudah mengeluarkan banyak bulir-bulir keringat sekaligus mengelap setitik air mata yang menetes di pipinya. 

Tugas pertama sudah ditunaikanya dan sejenak Andre bisa sedikit merasa tenang sebelum tugas-tugas lain menantinya.

Artikel Terkait