72 tahun sudah negara Indonesia merdeka. Memerdekakan diri dari belenggu penjajahan dan memilih mengatur negaranya sendiri secara mandiri. Umur kemerdekaan sekian menjadikan Indonesia masih dalam kategori negara  muda, jika dibandingkan dengan negara Amerika Serikat yang telah merdeka selama ke-241 tahun (liputan6.com) serta wilayahnya yang cukup luas  dan penduduknya yang beragam, usia tersebut sudah dapat diacungi jempol.

Mengapa demikian? Indonesia adalah negara multikultur, yang  kental akan perbedaan dari Sabang sampai Merauke Indonesia bahkan memiliki jumlah kebudayaan, suku, bahasa, adat istiadat yang berbeda-beda. Wilayah Indonesia yang cukup luas, dengan pulau berjumlah 16.056 (GNFI, 2017) sehingga disebut dengan negara kepulauan hingga saat ini masih tetap utuh dan bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia .

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tetap bersatu tidak terbentuk dalam waktu yang singkat. Dalam sejarah Indonesia berbagai fenomena-fenomena yang mengancam kesatuan dan keamanan NKRI tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, bahkan berkali-kali. Masih lekat dalam ingatan bangsa Indonesia, tindakan separatisme Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mengancam akan melepaskan diri dari negara Indonesia dan membentuk negaranya sendiri. Kemudian kasus terorisme, Bom Bali I & II, Bom J.W Marriott dan Ritz Carlton, dan Bom Sarinah yang menghebohkan pada awal Januari 2016. Fenomena lain, yaitu terbentuknya gerakan dan organisasi radikal diantarnya ISIS dan HTI.

Memilih merdeka, mengatur tata negaranya secara mandiri dan menjadi negara kesatuan adalah sebuah pilihan. Kemudian lahirlah ideologi Pancasila. Pancasila menjadi jawaban atas kegelisahan mengenai gonjang ganjing awal kemerdekaan keberpihakan Indonesia pada ideologi  blok barat (liberalis) atau blok timur (komunis). Para pemimpin bangsa Indonesia secara lugas mengilhami bahwa Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang lahir dari bangsanya sendiri pula. Kemudian Indonesia menjadi salah satu pemrakarsa Gerakan Non-Blok.

Pancasila dilahirkan dari kepribadian dan karakteristik seluruh bangsa Indonesia, tidak dalam keberpihakan dalam suatu agama, ras, adat atau golongan tertentu. Semua dibingkai secara apik dalam sila-sila Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa, mencerminkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama dan mengakui adanya Tuhan, agama adalah dasar yang mengilhami sila-sila selanjutnya pada Pancasila. Manusia Pancasila adalah manusia yang beragama dan memiliki agama.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang berarti manusia Indonesia sejatinya adalah manusia yang mampu memanusiakan manusia, secara adil sesuai dengan proporsinya. Manusia lahir dengan dianugerahi akal pikiran, maka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seharusnya tidak terjadi saling menyudutkan atas perbedaan, tidak melakukan adanya diskriminasi dan rasis. Menghargai manusia lainnya, sesuai dengan adab dan adat yang berlaku, sesuai norma dalam masyarakat.

Selanjutnya Persatuan Indonesia, berfilosofi bahwa meski benar-benar berbeda antar berbagai hal, baik letak geografis, logat bahasa, kepercayaan yang dianut, namun bangsa Indonesia masih tetap utuh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, sebenarnya setiap permasalahan seyogyanya diselesaikan melalui jalan kekeluargaan. Pada sila ke-4 Pancasila ini menjadi sebuah pedoman dasar untuk penyelesaian suatu masalah yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Hal itu dilakukan dengan dimusyawarahkan secara bersama-sama, memutuskan keputusan yang sebijak-bijaknya sehingga dapat diterima seluruh pihak secara lapang dada.

Pada sila terakhir, Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjelaskan keadilan pada berbagai sektor baik ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan. Tidak pada daerah pusat pemerintahan, daerah tertentu, atau daerah khusus saja, melainkan pemerataan pada seluruh daerah di Indonesia. Pancasila lahir dengan isi yang sedemikian rupa tentu membutuhkan suatu proses yang panjang. Proses yang merangkum segala tentang bangsa Indonesia, baik kepribadian, sifat, karakter yang melekat secara khas yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Pancasila bukan ideologi yang tertutup, melainkan ideologi terbuka. Indonesia secara lugas memberikan keterbukaan jika negara-negara lain ingin mengadopsi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mampu menampung dinamisnya perubahan zaman, tetap kokoh dan menjadi acuan dasar dalam berbangsa dan bernegara. Pada pidato Bung Karno di PBB pada tahun 1960, beliau menawarkan PBB yang pada saat itu kehilangan kenetralannya dalam menjaga perdamaian dunia, secara tegas menawarkan untuk mengadopsi nilai-nilai Pancasila sebagai solusi untuk organisasi PBB tersebut.

Pembacaan butir-butir Pancasila oleh Bung Karno disambut dengan apresiasi yang sangat antusias. Dalam penyampaian tersebut Bung Karno menyampaikan sila kedua adalah persatuan. Banyak perkiraan bahwa hal itu adalah kesalahan penyampaian yang seharusnya persatuan diucapkan pada sila ketiga. Namun hal tersebut dipatahkan dengan penjelasan Bung Karno, pada perkuliahan di Jakarta pada tahun 1960. Beliau adalah seorang yang nasionalis, sehingga penekanan yang dilakukan dari adanya kemajemukan adalah persatuan. Dengan persatuan, maka sebuah negara atau bahkan PBB akan menjadi lebih kuat. (Kuliah Tamu Partisipasi Guru PPKn dalam Pendidikan Politik Masyarakat Sebagai Upaya Pembangunan Republik, Universitas Negeri Malang, 30 Agustus 2017)

Kedamaian adalah sebuah anugerah, persatuan dan tidak terpecah belah adalah cita-cita bersama bangsa Indoneisa. Pada pembukaan UUD 1945, tercantum kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Indonesia mendukung secara penuh negara yang merdeka dan melawan penjajah. Selama 72 tahun pula, eksistensi Pancasila tetap terjaga dalam membingkai keutuhan NKRI. Maka sebagai generasi penerus dan sebagai bangsa yang patriotisme sudah seharusnya berkewajiban menjaga Pancasila. Melalui pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan berbangsa serta bernegara.

Membahas seputar Indonesia maka tidak akan ada habisnya, Salam Merdeka!