Konsep surga hampir ada di setiap ajaran agama. Berpasangan secara antonim dengan neraka. Keduanya mendukung hegemoni pertarungan antara benar dan salah. Surga dan neraka adalah kandang terakhir peristirahatan veteran pejuang-pejuang pahala dan dosa.

Surga rata-rata diredaksikan sebagai sebuah taman yang indah. Tempat yang penuh kedamaian dan ketenangan hidup. Surga juga merupakan wilayah bebas konflik, karena semua penduduknya sudah mencapai taraf kesejahteraan yang tinggi. 

Namun, masih ada diskriminasi kelas surga, terbukti dengan adanya surga yang bertingkat-tingkat beserta nama-nama khasnya, sesuai besaran amal kebajikan yang kita kumpulkan. Dan tentunya sesuai hak prerogatif Tuhan.

Kemerdekaan di surga terbukti dengan adanya suasana demokrasi dan kerusuhan yang pernah terjadi dan alami oleh kedaulatan surga. 

Suksesi awal kekuasaan bumi dari nonhumanoid (Banul Jan) ke humanoid (Adam) dipertentangkan para majelis kehormatan surga. Ada malaikat, Iblis, manusia, dan Tuhan. Keempat komponen ini membuktikan sebuah kemerdekaan berpendapat dan berkumpul.

Tuhan Yang Maha Menentukan, ditentang oleh Iblis. Termasuk malaikat yang cerewet bertanya kepada Tuhan tentang kesangsian kemampuan Adam memimpin bumi. 

Waktu itu, surga benar-benar keos. Tempat yang seharusnya bebas konflik, kini menjadi ajang kebebasan bicara dan berpendapat. Bahkan berselisih paham hingga berlarut-larut menjadi permusuhan abadi antara manusia dan iblis.

Surga waktu itu tetaplah sebuah Taman sejuk nan hijau. Namun, taman tersebut lambat laun memberikan inspirasi-inspirasi penghuninya untuk berselisih paham tentang suksesi bumi. Pengeluaran Adam dan iblis dari kedaultan surga adalah bukti adanya kemerdekaan surga yang bebas melakukan eksekusi terhadap penduduknya.

Mari kita bertamasya ke taman lain, namanya Taman Adagium Legendaris von Feuerbach yang mempunyai papan plang berbunyi: nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali. Secara bebas, adagium tersebut dapat diartikan menjadi: tidak ada tindak pidana (delik), tidak ada hukuman tanpa (didasari) peraturan yang mendahuluinya.

Secara umum, von Feuerbach membagi adagium tersebut menjadi tiga bagian, yaitu:

1) tidak ada hukuman, kalau tak ada Undang-undang,

2) tidak ada hukuman, kalau tak ada kejahatan

3) tidak ada kejahatan, kalau tidak ada hukuman, yang berdasarkan Undang-undang.

Adagium tersebut merupakan dasar dari asas bahwa ketentuan pidana tidak dapat berlaku surut (asas non-retroaktif) karena suatu delik hanya dapat dianggap sebagai kejahatan apabila telah ada aturan sebelumnya yang melarang delik untuk dilakukan, bukan sesudah delik tersebut dilakukan.

Sama seperti Adam yang melanggar perundangan, mendekati buah Khuldi. Sederhana memang tingkat kejahatannya, namun berat hukumannya. Ekstraksi Adam ke bumi adalah sebuah kasus yang multitafsir. 

Yang pasti, alasan untuk menjabat dan bertugas sebagai pemimpin bumi, membuat Adam dikeluarkan dari surga. Pun, disamping itu kita juga tidak mengesampingkan kasus buah Khuldi. Boleh untuk dibahas dari sisi kemerdekaan ekuitasnya.

Kasus buah Khuldi adalah delik yang maha dahsyat hingga tercipta doa-doa pengampunan. Alat bukti kasus memang sesuai dengan sirkumferensi surga sebagai Taman, yaitu "buah". 

Dengan adanya larangan buah Khuldi, maka persentase pelarangan untuk mendekatinya juga cukup tinggi. Hak kebebasan Adam berontak.  Apalagi hasrat untuk memakannya. Entah hanya didekati atau sudah dimakan oleh Adam, yang pasti buah Khuldi adalah alat dan bahan ujian Adam terhadap ketaatan.

Kemerdekaan individu Adam sebagai penghuni Surga yang bebas, kini dibatasi dengan larangan buah Khuldi. 

Kemerdekaan Surga bukan kemerdekaan absolut. Kemerdekaan surga adalah pemberian Tuhan yang bersyarat. Adam harus patuh, iblis harus mengiyakan, malaikat harus tunduk.

Kemudian terjadi dinamika, Adam melanggar, iblis sewot, dan malaikat banyak tanya. Lengkap sudah alam demokrasi di surga.

Adam dihukum karena delik, pun Iblis dihukum karena delik. Hanya malaikat yang dianakemaskan walau cerewet bertanya. Karena delik, Adam dan Iblis harus membayar mahal, keluar surga. Mana yang lebih dulu, keluarnya Adam dari surga karena delik buah Khuldi atau rencana suksesi dan penunjukkan sepihak dari Tuhan? Hanya Tuhan yang tahu.

Sistem hukum yang berlaku di surga sama seperti sistem hukum Anglo-Saxon yang menganut aliran freie rechtslehre yang memperbolehkan hakim (Tuhan) untuk menciptakan hukum (judge made law). 

Sistem hukum di surga bukan menganut aliran rechtsvinding yang menegaskan hakim (Tuhan) harus mendasarkan putusannya kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ya, yang buat perundangan Tuhan sendiri, dan diputuskan sendiri.

Kepemilikan sumber daya dan kekayaan surga beserta kesenangannya, adalah sebuah ekuitas yang terbatas. Artinya penghuni tidak memiliki hak mutlak atas semua yang ada dan semua yang bisa dinikmati di surga. 

Adam di surga adalah seorang milyuner, dapat menggunakan seisi surga kecuali buah Khuldi. Ekuitas buah Khuldi dibatasi, jika dilanggar maka berarti hukuman. Buah Khuldi bukanlah ekuitas yang bersih. Artinya, Adam tidak bisa memasukkan buah Khuldi sebagai investasi peruntungan hasil usaha (beribadah/berbakti) kepada Tuhan. 

Dengan kata lain, buah Khuldi bukanlah hak residual hasil aktiva Adam, setelah dikurangi kewajiban (beribadah). Pemaksaan akuisisi ekuitas yang bersyarat, menyebabkan Adam mengalami "bankruptcy", terlempar dari surga tanpa pengadilan yang berarti.

Mungkin bagi Adam ini adalah berkah, bisa membuat ekuitas-ekuitas lainnya di bumi yang lebih merdeka. Hingga anak turunnya melanjutkan gaya akuisisi sebuah ekuitas. Mencari laba-laba bersih dari sebuah usaha. 

Entah bagaimana sumbernya, yang pasti buatlah ekuitas sebesar-besarnya walau hanya dengan kewajiban yang kecil. Tak peduli neraca kewajiban miring kesana-kemari, yang penting akuisisi ekuitas tinggi. 

Welcome to the jungle!