Bulan Agustus adalah bulan yang identik dengan bulan kemerdekaan Indonesia. Pasalnya, dibulan Agustus Bung Karno dan founding feathers lainya telah mempersiapkan situasi menuju kemerdekkan. Hingga pada ahirnya 17 Agustus 1945 Bung Karno membacakan teks proklamasi kemerdekaan indonesia, yang artinya Indonesia telah merdeka.

Seyoginya terlebih dahulu mengetahui arti dari kemerdekaan itu sendiri. Dalam konteks sosio-politik Indonesia, kemerdekaan secara umum adalah kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia dari tangan penjajah. Dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945 yang berbunyi:

 “Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan hatinya Bangsa kita! Di dalam Indonesia itulah kita menyehatkan rakyat kita!”

Dengan kata lain, bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu memberikan kesejahteraan bagi setiap rakyatnya. Sehingga, dapat dipahami bahwa merdekan adalah manifestasi kondisi masyarakat yang sehat, dan sehajtera baik secara fisik, psikis, maupun ekonomi. Meskipun, Indonesia telah merdeka yang kemerdekaannya telah diakui secara defacto dan deyure. Namun, kemerdekaan Indonesia dewasa ini banyak tantangan dalam mengiplementasikan nilai-nilai berbangsa dan bernegara untuk kepentingan bersama.

Adanya pelbagai problematika secara mikro yakni, di dalam realitas kehidupan masyarakat, seperti terjadinya kemiskinan, kelaparan, dan kesengsaraan lainnya. Jika ditracking penyebab dari problematik ini berakhir pada didiadopsinya sistim di Indoneisa ini sendiri, sistim kapitalisme. Menurut Karl Max, kapitalisme merupakan sistim ekonomi yang dibuat dan digunakan dengan tujuan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari setiap proses produksi yang dimiliki oleh pemilik alat produksi. Sistim inilah yang kemudian (celakanya) dapat terjadinya problematika seperti konfilk antar kelas, yang berakhir pada kesengsaraan, karena tidak dipungkiri dengan sistim ekonomi inilah masyarakat dapat menjalani keberlangsungan hidupnya. 

Ada berbagai elemen yang terasa sekali dampak dari sistim ini.

1. Buruh

Buruh tidak hanya terjadi, tidak sesuai masusia dengan hakikatnya atau keterasingan pada diri sendiri kerena pekerjaannya. Namun, juga dapat mengalami penindasan oleh adanya kelas kapital. Pasalnya, kaum kapitalis adalah para majikan yang bermodal besar pemilik alat alat produksi, yang kemudian dapat menjadi pengendalian kekuasaan sewenangnya dan pada akhirnya terjadi penindasan pada kelas buruh.

Dengan adanya hal tersebut tentunya kaum buruh tidak bahagia dan sejahtera, apalagi merdeka. Meskipun masih diberi upah, gaji, tunjangan, bonus, dan iming-iming lainnya. Namun karena itulah hayalah secuil dari keuntungan pemilik modal. 

Walaupun, kegiatan produksi tersebut saling mebutuhkan, namun memiliki nilai tukar yang berbeda. Nilai tukar berbeda dalam arti: nilai guna yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Pemilik modal mendapatkan keuntungan apabila ada buruh yang bekerja padanya. Sedangkan buruh juga mendapatkan upah apabila pemilik moda menyediakan sarana produksi. 

Artiya bahwa pemilik modal akan bertahan hidup lebih lama jika dibandingkan dengan buruh. Karena dengan upah buruh yang tidak seberapa, dibandingan keuntungan pemilik modal. Sementara itu, kaum buruh menggantukkan kehidupannya dengan bekerja pada pemilik kapital. Dari sinilah penindasan dan dominasi yang terjadi di masyarakat kelas kapitalis melalui sistim ekonomi liberal yang dikenadliakan oleh pemilik modal.

2. Kaum Tani.

Tidak hanya perampasan sawah yang dilakukan masa kolonial atau oleh tuan tanah tradisional, namun juga pada kaum kapitalis. Contoh nyatanya adalah pada pemberangusan sawah yang mengakibatkan para petani mengalami kerugian besar, seperti di Kulon Progo misalnya. 

Dikutip dari laman kumparan.com, Jumat (17/4/2020) di Kulon Progo terjadinya pergusuran lahan subur yang disebabkan karena akan dibangun bandara baru Yogyakarta yang kita kenal sekarang dengan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Meskipun, dengan dalih pembangunan infrastruktur masyarakat, yang dilakukan PT.Angkasa Pura I (persero) milik negara, namun tidak dipungkiri bahwa negara telah mengadopsi sistim kapitalisme yang lebih mementingkan sepihak saja. Sementara itu, para petani tidak mendapatkan kedaulatan atas buminya sendiri.

2. Kaum miskin Kota

Seyoginya kita mengetahui indikator dari kemiskinan itu sendiri. Bedasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan bahwa indikator kemiskinan adalah bedasarkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach. Jadi kaum miskin kota adalah seorang yang "tidak adanya kemampuan" dari segi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar, baik makanan atau bukan makanan.

Kaum miskin kota ini umumya merujuk pada pelaku usaha kecil atau menengah di sektor informal, seperti pedagang kaki lima (PKL). Sebab, para PKL menggantungkan kebutuhan kehidupan dasarnya hasil dari penjualannya. Dengan beralasan tidak memiliki izin usaha, kemudian akan dididrikan supermarket, mall dan lain sebagainya.  Dari sinilah rentan terjadinya penindasan dengan penggusuran tempat perdangan para PKL.

3. Pemuda-Mahasiswa

Bahkan dari generasi yang diidamkan negara sebagai generasi perubahan atau yang disebut generasi emas, pemuda-mahaiswa dapat tertindas. Filsuf Brazil Paulo Freire melalui bukunya pendidikan kaum tertindas, ia mengemukakan bawha pendidikan sebagai bentuk wadah untuk penghilangkan hakikat manusia itu sendiri secara terstruktur atau dehumanisasi. Dalam bukunya tersebut mefokuskan dehumanisasi, manusia sering mengalami ketidakbebasan diskriminasi bahkan ketertindasan dalam pendidikan. Pasalnya, bermula pada realitas dikotomi antara guru dengan murudnya yang dikonsepkan seperti banking of education.

Di indonesia sangat terlihat bahwa adanya kebijakan baru terkait dengan pendidikan. Kebijakan sedang digalangkan oleh pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan Kebudayaan Nadiem Makarim, yakni kampus merdeka. Kampus merdeka merupakan kebijakan perguruan tinggi yang bertujuan adalah mahasiswa nantinya dapat memperoleh ilmu diluar pendidikan formalnya, seperti magang. Meskipun hasilya mahasiswa akan memperoleh pengalaman setelah belajar melalui magang. 

Namun pada ahkirnya, semua tak lebih dari retorika belaka yang berdalih reformasi pendidikan dari komerilialisasi dan liberialisasi penddikan. Sebab, yang semula perguruan tinggi merupakan sebagai badan layanan umun (PTN BLU), namun dengan adanya kebijakan ini tergantikan menjadi perguruan tinggi badan hukum(PTN BH). Perguruan tinggi berststus otonom atau lepasnya tanggung jawab negara. 

Sehingga, dengan kata lain pendidikan perguruan tinggi hanya sebatas komoditas saja. Dengan memproduksi tenaga kerja mahasiswa yang kemudian menjadi pendukung utama globlalisasi dan modernisasi melalui terjun ke industri. Hal inilah yang mendistorsi makna dari pendididkan, yang rentan terjadinya penindasan dengan membunuh daya pikir kritis karena hanya sebatas budak pasar. Kapitalisme pendidikan.

Itulah gamaran umum problematika dari elemen elemen yang terjadi di realitas kehidupan kita hingga kini. Sehingga bagaimana cara merefleksikan makna kemerdekaan yang tidak bisa lepas dari kekangan penindas kapitalisme ini? Tentu ejakulasi dini yang kita peringati setahun sekali di bulan Agustus masih saja dalam determinisme. Sebab, kemerdekaan hanyalah mitos pada materialisme dialektika historis yang tidak meralitas secara nyata.