Beberapa tahun yang lalu, sempat ada kerumunan di pinggir jalan raya. Rupanya, orang-orang yang berkumpul sedang melihat seorang tukang obat memperagakan ‘kekhasiatan’ jualannya. Seekor kucing mati dimasukkan ke dalam kotak kayu kecil dan kemudian dioleskan sebuah minyak ramuan oleh sang tukang obat.

“Perhatikanlah, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Ini obat bukan sembarang obat! Obat ini ampuh dan bahkan bisa menghidupkan kucing mati ini! Jika kucing mati saja bisa hidup lagi, bayangkan bagaimana ini ampuh untuk tubuh Anda!” seru si tukang obat.

Dijampi-jampinya terus si kucing itu. Ya, tentu si kucing tidak bisa bangkit lagi. Tapi, yang membuat orang bertahan bukan apakah si kucing itu hidup kembali atau tidak. Mereka tertarik dengan jampi-jampi, keris-keris atau ajimat-ajimat yang dipakai untuk menghidupkan kucing itu setelah obatnya dioleskan. Sampai akhir, tentu saja si kucing tetap mati dan si tukang obat tetap penipu.

Kemudian tanggal 6 Juli lalu, Kementerian Pertanian meluncurkan sebuah produk-produk berbasis eucalyptus, berupa kalung, inhaler, balsem, dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, di kalung yang berisi aromaterapi itu bertulisan “Anti Virus Corona”. Klaim Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) bahwa eucalyptus “mampu membunuh 80-100 virus mulai dari avian influenza hingga virus corona”, seperti dikutip dari CNBC Indonesia (6/7/2020).

Apa yang Kementerian ini lakukan dan nyatakan tersebut baik secara pemasaran atau dari pernyataan Balitbangtan seakan mendeklarasikan bahwa mereka telah memenangkan perang melawan pandemi ini dengan ditemukan suatu “obat maha sakti”. Obat racikan ini adalah solusi dari semua kegetiran dan frustrasi masyarakat yang terus-menerus berhadapan dengan pandemi yang tidak kunjung mereda ini.

Permasalahannya, ini semua hanya klaim, pembaca yang budiman. Di mana artikel ilmiah tentang riset yang dilakukan Balitbangtan? Jika ada, di mana rilisnya? Kapan rilisnya? Siapa yang melakukan peer-review atas riset itu? Jika tidak ada, maka klaim yang dikeluarkan Kementerian cuma isapan jempol belaka.

"Ini bukan jimat, bukan sihir, itu hanya semacam aksesori aroma terapi," ujar Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian (Kementan), Indi Dharmayanti, seperti dikutip CNBC Indonesia. Namun, walau menegaskan itu hanya aksesori, periset tetap yakin bahwa produk mereka berpotensi sebagai antivirus.

Pernyataan di atas tersebut terasa familiar. Ada kesamaan dengan bagaimana tukang-tukang obat menegaskan kemanjuran jualan mereka. Cukup mengejutkan penulis. Tukang-tukang obat memang sudah agak jarang melakukan pertunjukan mereka di masyarakat modern seperti sekarang. Apakah mereka kini sudah berhenti dengan pekerjaannya dan memilih jadi peneliti atau aparatur sipil negara? Menyebalkan.

Penulis jujur bukan seseorang yang sangat garis keras menentang dengan pengobatan yang bersifat alternatif. Sebagai seseorang yang hidup di Banua Banjar, penulis tidak bisa menafikan adanya budaya jampi atau tukang tamba pada masyarakat Banjar dan Dayak. Penulis tumbuh bersama budaya, dalam keluarga yang meyakini tetamba (pengobatan tradisional Banjar) dan cukup sering bertemu dengan orang-orang yang disebut tukang tamba tadi karena hubungan kekeluargaan yang penulis miliki.

Tapi, seperti namanya, pengobatan alternatif tidak seharusnya menjadi metode utama dalam mencapai kesembuhan. Ia adalah pilihan ketika pengobatan modern sebagai yang utama dirasa tidak ampuh. Aromaterapi adalah obat alternatif, ia tidak akan mampu menggantikan keampuhan obat oral atau vaksin dalam melawan epidemi. Mengurangi gejala mungkin. Menghilangkan penyakit? Penulis ragu.

Karena tidak adanya artikel ilmiah mengenai riset produk eucalyptus ini, maka kita tidak mengetahui bagaimana proses pengujiannya. Jika hanya mengandalkan penelitian-penelitian lama untuk studi literatur, tentu tidak cukup pantas. Balitbangtan harus mengujikan kebenaran klaim mereka dengan adanya bukti.

Harus ada kelompok uji coba dan kelompok kontrol dalam situasi penelitian yang terkontrol untuk dapat menyimpulkan keampuhan produk-produk yang dikeluarkan Kementerian tadi. Kelompok uji coba harus diberikan produk dari Kementerian, sementara kelompok kontrol bisa diberikan produk yang tidak mengandung eucalyptus. Atau, mungkin juga kelompok kontrol diberikan minyak kayu putih biasa, ya karena eucalyptus lumrah ditemukan di situ.

Reaksi yang dirasakan dan diamati dari kedua kelompok kemudian harus dibandingkan, sehingga bisa menentukan khasiat produk tersebut. Jika kedua kelompok merasakan perasaan sembuh yang sama, bahkan dari minyak kayu putih biasa yang dapat diklaim periset sebagai produk yang sama dengan khasiat yang sama pula dengan produk Kementerian, maka itu efek placebo!

Efek placebo yang dirasakan pengguna aromaterapi muncul karena adanya keyakinan si penggunanya. Jika pengguna yakin ia akan merasa lebih baik ketika menggunakan suatu produk kesehatan, ia akan benar-benar merasa lebih baik nantinya. Tapi, perasaan ini tidak sama dengan keadaan yang sebenarnya. Bisa saja ia masih sakit meski secara psikologis ia merasa lebih baik.

Untuk itu, riset yang dilaksanakan dalam laboratorium diperlukan. Reaksi antara senyawa dalam “produk-produk ajaib” tadi dengan virus COVID-19 harus diamati secara waktu-nyata (real-time).

Apabila ternyata percobaan yang diulangi dalam kondisi yang sama menemukan bahwa produk-produk itu memang dapat membunuh virus COVID-19, maka klaim bahwa produk itu manjur itu bersifat reliabel. Reliabilitas inilah fondasi dari sains modern yang menjamin adanya hubungan sebab-akibat yang pasti.

Selama tidak ada riset yang menunjukkan bahwa kemanjuran produk tersebut lepas dari efek placebo dan bersifat reliabel, maka tidak boleh Kementerian kita yang terhormat untuk mengklaim dengan seenak perut mereka. Apalagi dikutip dari Tirto (6/7/2020), Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Suwijiyo Pramono, menyatakan belum ada riset yang menemukan keampuhan eucalyptus dalam membunuh COVID-19 karena ini virus varian yang baru.

Penulis menyayangkan adanya mentalitas pseudo-sains yang menjalar dalam pemerintahan kita. Anggaran nasional harus dibuang-buang dalam klaim tidak berarti dan membantu seperti ini. Kesalahan yang amat fatal ini harus dikoreksi dan mental pseudo-sains harus dibabat dalam perang kita atas pandemi ini.

Seberapa pun usaha yang dilakukan Kementerian untuk mengelak bahwa mereka sedang memasarkan pseudo-sains tetap tidak berarti. Memang rakyat biasa yang tidak mafhum dengan riset obat-obatan bisa saja manut-manut. Tapi, komunitas ilmiah Indonesia tidak akan membiarkan itu. Terlebih dengan tindakan yang sangat tidak etis dari Kementerian, yakni dengan mencari keuntungan dengan menipu rakyat dalam keadaan bangsa yang amat pelik seperti ini.

Penulis merasa kita tidak perlu kompromi dengan sikap pseudo-sains Kementerian kita ini. Hentikan pemasaran produk dan lakukan riset yang disipliner secara keilmuan. Anggaran banyak jangan dihambur untuk menipu orang awam! 

Dari kejadian ini, izinkan penulis mengutip sebuah lirik dari lagu “Lathi” dari Weird Genius untuk Kementerian kita beserta jajarannya: “Kowe ra iso mlayu saka kesalahan. Ajining diri ana ing lathi” (Kamu tidak bisa lari dari kesalahan. Harga diri seseorang ada pada lidahnya).