Consultant
2 tahun lalu · 2133 view · 5 menit baca · Politik trump.jpg
Donald J. Trump, Presiden Terpilih Amerika Serikat 2016-2020 (foto: Politicus USA)

Kemenangan Donald Trump Adalah Sebuah Kemunduran Peradaban

Full Disclosure, karena cukup confident dengan final polls yang ada kemarin, saya sudah menulis sebuah artikel mengenai kemenangan Hillary Clinton atas Donald Trump yang seharusnya akan saya publish tadi malam. Akan tetapi beberapa jam yang lalu adalah salah satu momen terburuk yang pernah ada dalam sejarah Amerika Serikat dan peradaban modern dunia barat. Dan dengan mata sembab dan nafas yang berat, saya justru harus menguntai kata menggambarkan arti kemenangan Trump atas Hillary.

Suka atau tidak, setuju atau tidak, bagi saya Amerika Serikat adalah kiblat terbaik peradaban dunia dalam berbagai hal. Mulai dari ekonomi, pendidikan dan teknologi, hingga sosial budaya. Amerika adalah pemimpin dalam hal perubahan, negara yang selalu menonjol dalam perkembangan sosial budaya yang progresif, inklusif, "the land of the free, and the home of the brave". Dan Presiden Trump adalah sebuah kemunduran nyata dari peradaban itu.

Donald Trump memulai kampanyenya tahun lalu dengan melemparkan propaganda rasial dan xenophobia yang luar biasa unprecedented, yakni dengan men-generalisasi imigran Meksiko sebagai kriminal, pemerkosa, dan pengedar NARKOBA. Ia juga berjanji untuk mendeportasi lebih dari 11 juta undocumented immigrants di Amerika—sesuatu yang belakangan kerap ia tarik ulur ketegasan dan kejelasannya.

Jika anda bertanya mengapa Trump kemudian bisa menang, maka jawaban saya adalah kemarahan warga kulit putih yang berpendidikan rendah, yang dikatalisasi oleh obsesi berlebihan media mengenai “kelemahan” Hillary Clinton. Kenyataan di lapangan adalah mayoritas warga AS puas dengan kinerja Presiden Obama. Bahkan beberapa hari lalu ia mencapai rekor tertinggi dalam Approval Ratings-nya.

Akan tetapi, Trump yang merupakan seorang con man dengan kitab sucinya “The Art of the Deal”, sangat lihai dalam menjual feelings kepada konstituennya, bahkan jika itu dengan kebohongan-kebohongan yang paling nyata. Di antara semua kandidat presiden AS sejak tahun 2008, Trump-lah yang paling banyak mengkampanyekan kebohongan dan false claims (silahkan cek politifact.com), dan Hillary justru yang paling rendah (bahkan lebih rendah dibandingkan Obama, dan bekas pesaingnya, Bernie Sanders).

Akan tetapi bagi pendukung Trump (lebih dari 2/3-nya adalah warga kulit putih dengan tingkat pendidikan paling tinggi SMA), mereka justru menilai Trump sebagai sosok yang jujur, karena mampu secara blak-blakan menarasikan kebencian mereka terhadap kaum imigran, warga kulit hitam, dan tentu saja warga muslim. Sejak Trump memprakarsai Birther Movement di tahun 2011, lebih dari separuh konstituen Partai Republik percaya bahwa Obama adalah seorang muslim yang tidak lahir di Amerika.

Ketidakmampuan kelompok warga kulit putih itu untuk membedakan fakta dan provokasi bohong, diperparah dengan obsesi media yang sangat annoyingly berlebihan terhadap “kelemahan” Hillary Clinton—adalah pondasi paling mendasar fenomena Trumpism. Ketika menjadi Ibu Negara, Senator, hingga Menteri Luar Negeri, Hillary merupakan sosok yang sangat populer di kedua spektrum politik AS dengan Approval Ratings yang sangat tinggi. Bahkan banyak pihak baik dari politisi, elit media, maupun warga AS menilai kinerjanya sangat efektif.

Namun ketika Hillary kembali mencalonkan diri sebagai presiden, lawan politiknya langsung kembali menjatuhkan image-nya dengan berbagai macam “skandal” yang sangat di-overblown oleh media. Mulai dari kasus Benghazi, kedekatannya dengan Wall Street, kasus Clinton Foundation, hingga tentu saja kasus email pribadinya. Bahkan Dewan Redaksi Washington Post sendiri mengakui bahwa pemberitaan mengenai “email Hillary” di media masa justru jauh melebihi proporsi pemberitaan mengenai proposal kebijakannya.

Kebodohan elit media tidak hanya sebatas obsesi mereka dengan “betapa tidak sempurnanya” Hillary. Pada saat yang bersamaan mereka justru memposisikan Trump sebagai kandidat yang serius (which HE IS NOT), dan seolah lupa bahwa betapa JAUH LEBIH TIDAK SEMPURNANYA Trump dibandingkan Hillary.

Mereka membuat sebuah false equivalence antara Hillary dan Trump. Padahal Donald Trump tidak tahu apa-apa tentang basic policy di AS, terlebih lagi foreign policy. Ia bahkan tidak bisa menjabarkan proposal kebijakannya sendiri. Intinya by knowledge alone, Trump bukanlah sosok yang bisa efektif menjadi seorang presiden. Akan tetapi media justru sibuk membuat false narrative yang memang diinginkan Trump—bahwa ia jujur dan apa adanya.

Anyway jika anda ingin tahu betapa tidak qualified-nya seorang Trump untuk menjadi presiden, terlebih dibandingkan dengan sosok cerdas dan tangguh seperti Hillary, anda bisa meng-google-nya, atau silahkan ke halaman hillaryclinton.com, atau politifact.com, untuk mempelajarinya dengan objektif. Kenyataannya adalah tidak ada yang lebih qualified dibandingkan Hillary, by any measure, namun itu tertutupi oleh obsesi media mengenai Hillary dan emailnya dan semua skandal partisan yang sudah menghantuinya sejak ia menjadi Ibu Negara.

Selain itu, tidak hanya media yang menjadi the biggest loser dalam musim pemilu yang paling panjang dan melelahkan ini. Para pollsters adalah pecundang terparah yang seharusnya malu dengan ketidakberesan data dan analisis yang selama ini mereka lakukan.

Semua major polls yang dipublikasikan sejak primary elections hingga kemarin, relatif cukup konsisten menunjukan keunggulan Hillary dibandingkan Trump, baik secara nasional maupun di beberapa key swing states (negara-negara bagian yang tidak selalu Democrat atau Republican). Bahkan sebagian besar top pollsters yang membuat Nate Silver memberi 71% peluang kemenangan Hillary, pun cukup selalu konsisten.

Kembali ke soal kemenangan Trump, kenyataan ini benar-benar sangat memukul kaum progressive dan moderate conservative, tidak hanya di Amerika tetapi di seluruh dunia. Bagaimana tidak, sentimen anti imigrasi misalnya yang populer dikampanyekan oleh Trump telah mewabah ke Eropa dan berujung pada Brexit, lalu kekalahan Angela Merkel di Jerman, hingga semakin populernya kelompok far-right penentang imigran di Perancis.

Belum lagi persoalan Hak Asasi Manusia, hak-hak perempuan, kaum LGBT, hingga kebebasan pers yang terancam dengan berkuasanya Trump di Oval Office. Pelarangan muslim memasuki AS misalnya, tidak hanya unconstitutional tetapi juga melanggar HAM.

Lalu Mike Pence, yang merupakan Wakil Presiden terpilih, adalah salah satu penentang hak-hak perempuan dan kaum LGBT, yang paling radikal di Washington. Dan Trump sendiri sudah berjanji akan memperlakukan media seperti sang idolanya, Vladimir Putin, yakni akan memboikot dan menuntut (secara hukum) awak media yang suka mengkritisinya dengan pemberitaan miring.

And yet at the end of the day, semua “ketidaknormalan” yang ada pada diri Trump yang membuatnya benar-benar—by any objective measure—sangat tidak fit untuk menjadi presiden, sama sekali tidak penting di mata para pendukungnya. Kebencian mereka terhadap Hillary yang merupakan buah dari “obsesi media” telah membutakan mata mereka dari apa yang disebut sebagai fakta. Kemarahan mereka menjadi jauh lebih penting.

Dan unfortunately semua itu harus berujung pada apa yang terjadi tadi malam, Amerika memilih seorang racistmisogynistxenophobic dan sexual abuser seperti Trump sebagai pemimpin baru mereka—arguably, pemimpin dunia. Lebih ironisnya lagi hal itu terjadi ketika Amerika mempunyai kesempatan yang sangat langka untuk bisa memilih perempuan pertama—yang overwhelmingly qualified—untuk menjadi presiden mereka.

Tidak hanya sebagai kemunduran yang akan mereka sesalkan, hal itu adalah sebuah pukulan paling menyakitkan bagi kaum perempuan dan penggerak feminisme di Amerika dan seluruh dunia. Dan jika para teroris radikal selalu meramalkan kejatuhan Amerika suatu hari—saya berharap itu tidak pernah terjadi—maka terpilihnya Trump bisa menjadi tanda awal bahwa itu mungkin akan segera terjadi.

Terakhir, tidak ada yang lebih ironis dari kenyataan bahwa, Barack Obama—Presiden Kulit Hitam pertama AS, harus menyambut dan meneruskan tongkat estafetnya kepada kandidat yang justru sangat diagung-agungkan oleh kelompok White Supremacist seperti Ku Klux Klan. Dan hal itu adalah bukti paling nyata betapa terpilihnya Trump adalah sebuah kemunduran peradaban paling parah yang pernah dialami oleh Amerika Serikat, dan dunia barat.