Sumber: Blog Pribadi Alobatnic [lihat]

Aku orang yang sakit, bukan pecandu narkoba.”— Park Bom, 26 April 2018.

Park Bom kembali! Bom is Back! Belakangan ini, kabar mengenai Park Bom kembali marak meriak. Setelah buka suara perihal masalah amphetamine yang menghentak sejak akhir Juni 2014 silam melalui wawancara mendalam dalam program ‘PD Notebook’ milik MBC, Bom kian rajin menyapa penggemar melalui media sosialnya, baik Twitter maupun Instagram.

Buat para penggemar, tentu ini merupakan kabar bahagia yang membuat girang. Kejelasan mengenai sengkarut kabar angin amphetamine terasa terang. Setidaknya Bom melengkapi tuturan Yang Hyun-suk yang turut bercerita secara gamblang. Apalagi Bom tampak menunjukkan tanda bakal kembali mempersembahkan tembang. Laiknya hari kemenangan telah datang!

Tak sekadar membahagiakan penggemar, Bom pun kembali menyengat pembenci yang rajin mencecar. Para pembenci Bom tak kalah meriah dalam memanfaatkan kabar tersiar. Mereka menemukan saja kekurangan Bom, untuk menjadi bahan cacian yang disebar.

Bom memang luar biasa sebagai seorang manusia biasa. Dirinya sanggup mendapatkan sanjung puja sekaligus caci maki secara bersamaan. Satu hal yang sulit didapatkan oleh setiap manusia. Bom, dengan segala prestasi dan kontroversi, selalu saja menjadi pusat perhatian beragam kalangan.

Banyak khalayak yang memandang Bom “modal badan doang”. Tak dimungkiri bahwa kesintalan badan turut berperan dalam melambungkan nama Bom. Karena kesintalan badan pula Bom banyak mudah mendapatkan cibiran kelewat cemar. Cibiran yang nyaris membutakan hingga enggan mendengar, alih-alih mengapresiasi, kualitas vokal.

Wajar saja. Sah-sah saja. Mungkin penampilan Bom memantik amarah sebagian orang. Amarah yang muncul karena cemburu, dengki, atau jengkel. Sementara tak bisa dielakkan lagi bahwa, “Mata yang penuh amarah hanya memandang segala yang nista sepertihalnya mata yang cinta akan tumpul terhadap semua cela.”

Pertanyaannya, salahkah memanfaatkan modal badan, semisal menjual kecantikan? Sebagian orang mungkin akan menjawab iya. Naomi Wolf dalam buku The Beauty Myth menuturkan bahwa kecantikan adalah mitos yang diciptakan industri untuk mengeksploitasi perempuan secara ekonomi melalui produk-produk kosmetik.

Pandangan Naomi beserta pendukungnya boleh jadi tidak bisa disalahkan, namun kurang lengkap untuk menjadi genggaman. Pasalnya Naomi tak mementingkan paras cantik sebagai salah satu modal untuk perempuan, seperti diungkapkan oleh Catherine Hakim melalui konsep erotic capital.

Erotic capital merupakan kombinasi dari daya tarik fisik, estetik, visual, sosial, dan seksual yang dimiliki seseorang untuk menarik orang lain. Ada enam (atau tujuh) bagian dalam erotic capital. Erotic capital sama pentingnya dengan modal ekonomi, sosial, dan budaya.

Dari beberapa tuturan tentang Bom, salah satu bagian yang paling disorot adalah bagian payudara (breast). Bom tampak perlu memperhatikan dan diperhatikan salah satu pemberi visual pleasure buat lekaki tersebut.

Pertanyaannya, kenapa para lelaki selalu menyukai bagian payudara perempuan? Nggak peduli ukurannya besar atau kecil, seperti bola basket atau bola bekel, mereka pasti suka. Tak dimungkiri, ada juga lelaki yang lebih menyukai bagian tubuh perempuan lainnya, misalnya, paha, pantat, dan juga bibir. Tapi entah kenapa, payudara tetap menjadi bagian tubuh perempuan yang bisa menyuluh imajinasi lelaki.

Saking menjadi ikon kecintaan dan obsesi para lelaki, tak sedikit media, merek, brand, bahkan juga propaganda menggunakan payudara perempuan, seperti iklan Kopi Susu YA! dan Segar Sari Susu Soda.

Hal yang membuat saya merasa ialah faktor yang membuat lelaki menyukainya. Terkait hal ini, L. Monique Ward, Ann Merriwether, dan Allison Caruthers menyingkap istilah yang disebut Masculinity Ideology (Ideologi Kejantanan, selanjutnya MI).

MI berperan pada kepercayaan dan cara pandang lelaki mengenai badan perempuan, yang juga berkaitan dengan banyaknya media yang dikonsumsi oleh lelaki. Sayangnya, meski paparan tersebut memberi pengetahuan, belum bisa memberi kepuasan. Apalagi memberi kepuasaan yang sama seperti saat menikmati payudara perempuan, jelas ini!

Terdapat sebagian orang yang mengungkapkan bahwa lelaki menyukai payudara perempuan karena sejak lahir lelaki memiliki hubungan intim dengan payudara ibu. Ada rasa kasih sayang yang diberi pada buah hati tatkala ibu menyusui. Cuma, ungkapan tersebut agak gimana gitu. Soalnya ada pula lelaki yang tak banyak mengonsumsi air susu ibu (ASI) saat bayi, namun tetap tertarik menikmati payudara perempuan.

Terdapat pula pandangan yang menyebut bahwa dari tahun ke tahun manusia memang mengembangkan payudara perempuan untuk keperluan seks (sex). Hanya saja pandangan ini di-counter dengan pandangan yang mengungkapkan bahwa hal ini kurang tepat lantaran untuk keperluan seks, zakar lelaki juga dibutuhkan.

Brian Alexander, yang mendalami dasar neurologis dari perilaku sosial, menyingkap soal payudara ini dengan menyebut bahwa evolusi manusia telah mengubah sirkuit saraf kuno. Pada awalnya, fungsi utama payudara adalah untuk menguatkan ikatan kasih sayang antara bayi dan ibu, dengan cara menyusui.

Tapi sekarang, sirkuit otak ini telah berubah penggunaannya. Selain untuk menguatkan ikatan ibu dan bayi, juga digunakan untuk meningkatkan ikatan antar pasangan. Hasilnya, kebanyakan lelaki menyukai payudara perempuan.

Penuturan Brian lebih make sense buat saya dibandingkan pandangan lainnya. Pasalnya kalau ditelisik lebih lanjut, otak para ibu akan dibanjiri dengan neurochemical oxytocin yang juga dikenal dengan love drug.

Neurochemical oxytocin ini membantu ibu untuk fokus pada anak dan memberi rasa kasih sayang melalui ASI. Hormon tersebut juga membanjiri otak perempuan ketika terangsang oleh pasangan saat berhubungan seks.

Sirkuit pada otak yang tadinya digunakan untuk bayi, pada saatnya juga digunakan untuk orang dewasa. Dari sini, dapat diungkapkan bahwa payudara perempuan merupakan sarana untuk mewujudkan kasih sayang, yang membuat orang lain merasa senang.

Kalau ada sebagian perempuan yang payudaranya begitu digilai lelaki, mungkin karena mereka berusaha menyenangkan orang lain melalui payudaranya. Usahanya antara lain dengan rajin merawat keindahannya agar bisa memberi kesenangan saat lelaki menyaksikannya, apalagi bisa merasakan sentuhannya.

Sah-sah saja kalau Bom rajin merawat ‘bagian favorit’ atau ‘aset’ atau apalah sebutannya pokoknya di situlah letaknya. Payudara perempuan termasuk salah satu bagian yang memiliki daya pikat kuat dalam merangsang gairah seks lelaki.

Seks terbilang nafsu yang paling sosial. Tanpa memperhitungkan moral, secara naluriah kita bisa turut bergembira menyaksikan orang lain yang sedang memenuhi nafsu seksnya. Kita punya hasrat kesenangan walaupun sekadar untuk menontonnya. Itulah kenapa ada pornografi, yang melahirkan industri seperti blue film (BF) dan majalah dewasa dengan omzet besar.

Seks berbeda dengan nafsu lain, misalnya nafsu makan. Adakah orang, terutama lelaki, yang sanggup suntuk berjam-jam menyaksikan tayangan dengan sajian berupa adegan-adegan orang sedang makan bakwan biarpun orang itu adalah Via Vallen? Adakah media pendulang iklan yang menjebak pengunjung dengan gambar Grace Natalie sedang mangap ngemplok cilok?

Saking sosialnya nafsu yang satu itu, ia jadi begitu canggih buat menyedot perhatian. Ia jadi empuk sebagai bahan berita dengan judul-judul menggemaskan. Ia juga legit buat stok pengalihan isu, yang bisa dengan gampang ditembakkan sewaktu-waktu. Sebab, kabar terkait seks tidak cuma memberikan informasi, walakin memberdayakan imajinasi.

Bom menyadari sisi ini, mengerti hal ini. Tak risau dengan segala caci-maki maupun puja-puji, dirinya berusaha memanfaatkannya memenuhi kebutuhan diri.