61928_77322.jpg
https://www.instagram.com/p/8lCQd6PLK2/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1a7x4u538oklw
Cerpen · 5 menit baca

Kembalinya Kotaku

Debu aspal membuat sesak pernafasanku. Material-material kecil tersebut masuk melalui setiap lubang di kepalaku. Saat aku bernafas, debu akan berdesakan masuk, dan aku merasa  dadaku seolah dipenuhi olehnya. Saat aku berbicara, debu juga akan berebut memasuki mulutku. Mereka seakan berlomba dengan ucapan yang aku lontarkan. Seketika itu juga, aku akan terbatuk-batuk dan mataku berair.

Debu-debu ini semakin hari semakin tebal saja. Bahkan, rumahku harus aku bersihkan sekurang-kurangnya tiga kali sehari. Kalau tidak, aku tidak akan berhenti bersin dan menggaruki sekujur tubuhku. Akibatnya, tubuhku dipenuhi bekas-bekas luka akibat garukan yang sangat kuat. Bahkan, di beberapa tempat, lukaku telah bernanah akibat terinfeksi.

Inilah kotaku. Di mana-mana hanya ada asap dan polusi. Pepohonan yang dulu memenuhi bukit di belakang rumahku sekarang berganti dengan tebing-tebing putih , timah, yang setiap hari selalu dikeruk untuk memenuhi kebutuhan ekspor pemerintah, menambah kas negara, dan memberi makan dompet-dompet kurus beberapa petinggi. Pertambangan timah itu kini hanya menyisakan debu dan melenyapkan hijau yang suatu saat akan dirindukan jutaan manusia.

Aku begitu heran dengan manusia. Bagaimana mungkin mereka mau saja menggantikan pepohonan hijau demi sedikit uang hasil pertambangan timah. Padahal, mereka sama sekali bukan orang miskin. Dahulu, mereka bekerja di sawah. Hanya ada beberapa keluarga yang menambang, tapi tak sebanyak sekarang. Dulu, mereka menambang pakai tenaga manusia, dan yang membeli adalah mandor dari perusahaan lokal. Berbeda dengan sekarang. Tenaga manusia sedikit tergeserkan oleh tenaga mesin. Perusahaan lokal tak ada lagi yang berjaya. Gulung tikar akibat suatu alasan yang tidak jelas. Perusahaan asing dan pemerintah menggantikan kedudukan mereka.

Aku tahu persis, hal apa yang tengah menimpa kotaku. Hanya ada kemiskinan, penderitaan, dan ratusan orang yang merelakan diri jadi buruh kasar pengangkut timah. Tak ada lagi warga yang bisa menambang timah itu sendiri. Semua sudah diatur oleh manajemen kapitalis perusahaan asing. Hanya bangku buruh angkut yang tersisa untuk para penambang. Tapi mereka hanya diam.

Aku bukannya tak mau tahu persoalan kotaku. Hanya saja, perkataan dan tindakanku tak pernah dilihat oleh mereka. Seakan telinga mereka sudah tuli untuk mendengar kebenaran. “Kau tak usah ikut campur perihal dapur kami, Raja. Urus saja ternak kelincimu yang akan mati itu.” Mereka hanya menanggapi nasehatku dengan sinis. Benar saja, beberapa saat kemudian kelinci-kelinciku mati. Aku bukan tak tahu siapa yang berbuat. Tapi, aku tak bisa protes. Aku tak memiliki bukti apapun.

Bukannya tak mungkin untuk menyadarkan penduduk. Hanya saja tuntutan hidup dan kemiskinan yang menjerat membuat mereka enggan peduli. Padahal, mereka hanya digaji kecil untuk usaha yang mereka lakukan. Bahkan, gaji itu tak cukup untuk menutupi perut anak-anak yang mernengek setiap malam.

Aku tahu persis, harga timah di pasaran. Tentunya tak semurah yang mereka bicarakan. Hanya saja kebodohan dan ketidakpedulian penduduk membuat mereka terjebak. Mereka tak pernah menonton berita di televisi ataupun membaca koran. Padahal, mereka bisa protes jika mereka mendengarnya. Aku tak pernah diam dan selalu mengingatkan mereka. Namun seperti biasa, tak ada yang berubah dari sikap mereka.

Aku begitu kecewa. Kekecewaanku bertambah manakala mendapati taman kecil kotaku tiba-tiba mati. Pepohonan yang menjadi satu-satunya sumber paru-paru  kotaku, sekarang hilang.

“Bagaimana mereka bisa mati pak?” Ujarku pada Pak Lurah.

“Kau sendiri tahu, bagaimana kondisi kota kita. Bukan hal yang aneh jika pepohonan itu mendadak mati.”

“Tapi, mereka tidak akan mati secara mendadak seperti itu.”

“Mereka ingin membangun hotel.”

“Hotel? Di bekas taman itu?”

“Iya.”

“Apa yang mau mereka lihat di kota kita yang sudah seperti ini?”

“Kita masih punya laut yang indah, nak Raja.”

“Tak mungkin hanya itu alasannya.”

“Ah, kau seakan tak tahu saja sifat orang kota. Mereka sudah begitu terbiasa bermesraan dengan debu dan polusi. Dengan sedikit polesan dari pemerintah, tentu saja mereka akan segera berduyun-duyun ke sini. Kau sendiri tahu, bagaimana jadinya jika otak kapital itu dipakai. Tak ada yang akan menghalangi. Berpikir pragmatis saja Raja, kaupun tahu penduduk akan senang. Mereka akan mendapatkan lapangan pekerjaan. Mereka tak perlu lagi menggantungkan diri dari hasil tambang itu.”

Sialan pak tua ini, umpatku. Otaknya benar-benar sudah dicuci. Dia pasti sudah menerima bagiannya. Dasar licik. Aku meninggalkan pak lurah tanpa permisi. Sementara aku mengumpat dalam hati, dia menatap punggungku dengan senyum licik.

Aku tak tinggal diam dengan segala kekacauan ini. Aku segera menyebar selebaran menolak pembangunan hotel, mengirim opini ke koran-koran dan melayangkan surat terbuka pada pak presiden. Tapi tak satupun ditanggapi. Aku hanya mendapat ejekan dari anak-anak kecil dan lemparan batu dari ibu-ibu rumah tangga yang merasa terganggu dengan orasiku. Aku sendiri heran. Kemana perginya surat-surat itu? Seakan pak pos lupa pekerjaannya. Begitu juga dengan email-emailku. Seolah mereka tersangkut di udara dan terperangkap dalam pusaran waktu, sehingga emailku tak pernah sampai ke dapur redaksi.

**

Aku pikir, aku mendapat partisipasi dari warga. Subuh belum beranjak dan aku baru menyelesaikan doaku manakala aku mendengar suara ribut-ribut di luar. Aku segera membuka pintu dan mendapati warga lelaki sudah mengerumuni rumahku.

“Ada apa ini bapak-bapak?” 

“Raja, segera hentikan usahamu itu atau kami akan membakarmu hidup-hidup.” Garong, preman yang selalu menetek di ketiak para penjabat yang datang berbicara dengan nada mengancam. Aku sudah tahu maksud kedatangan mereka.

“Ya sudah kalau kalian tak ingin mendengarku. Aku akan berhenti.”

“Kau akan menyerah semudah itu? Apa yang kau rencanakan?”

“Aku tak merencanakan apa-apa. Aku hanya merasa tak memiliki urusan lagi dengan kalian. Hati kalian sudah tertutupi oleh kebodohan.”

“Kau menghina kami?” Salah seorang warga meradang mendengar ucapanku.

“Aku tidak menghina kalian. Jika kalian merasa, berarti kalian mengakui kebodohan kalian.”

“Kurang ajar.” Laki-laki itu sudah bersiap untuk mengeroyokku. Tapi Garong melerai.

“Mari tinggalkan laki-laki gila ini. Yang penting dia tak pernah lagi mengganggu urusan kita.” Warga mengangguk dan mulai meninggalkan rumahku. Aku mencelos, aku mulai membenahi pakaian dan barangku yang tidak seberapa. Aku memilih menjadi pengecut untuk kali ini.

**

Aku menatap kotaku yang perlahan mulai mengecil untuk terakir kalinya. Aku akan pergi dri pulau kecil yang bahkan tak tercatat di peta itu. Bahkan pemerintah mungkin tak mengetahui keberadaannya. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan dalam jajaran pemerintah yang tahu.

Aku tahu persis apa yang akan terjadi dengan kotaku. Perlahan tapi pasti mereka akan hancur. Menyisakan para kapital yang berkuasa.

**

Aku melihat koran siang itu dari beranda rumahku yang sejuk. Kotaku yang dulu, kini telah masuk koran. Bukan karena hotel dan tambangnya atau karena lingkungan yang telah rusak. Tapi karena hijaunya.

Kotaku sekarang sudah hijau. Bahkan lebih hijau dari potret yang pernah ku ingat saat kecil dulu. Tatanan kotanya sudah diatur sedemikian rupa. Hotel berlantai sepuluh yang dulu masih ada, tapi sekarang digunakan sebagai pusat perbelanjaan ramah lingkungan dan  restoran. Sedangkan lima lantai di atas masih dipertahankan sebagai hotel. Para petani mulai kembali menggarap sawah yang terbengkalai. Semua kembali normal. Hanya taman kecil itu saja yang tak akan pernah kembali ke tempatnya.

**

Aku tak benar-benar menyerah saat itu. Aku pergi ke ibu kota, menemui presiden. Tentu saja perjuangan yang tidak mudah untukku menemui orang nomor satu di negara ini. Tapi aku berhasil, setelah beberapa kali sempat ditahan di penjara.

Tim khusus dari presiden segera menyusut kejadian di kotaku. Para pelaku dan penjabat korup yang terlibat dalam pencucian uang di kotaku akhirnya ditangkap dan diadili seadil-adilnya. Aku bangga. Ternyata, masih ada yang bisa aku percaya.

Perusahaan timah kembali ke tangan penduduk. Para investor asing itu juga ditangkap dan diadili. Sekarang aku bisa menatap kembali bukit belakang rumahku dengan nyaman setelah hampir sepuluh tahun aku tinggalkan untuk berjuang di Ibu kota.