Menarik menempatkan kecintaan dalam berorganisasi di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sehingga saya bisa meluangkan waktu dan pikiran dalam menulis ini, sebagai bentuk kejenuhan pergerakan selama berdiakletika di asas ideologi marhaenisme.

penulisan ini sebagai kritik autokritik terhadap kader kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Agar pergerakan tetap pada koridor dalam memperjuangkan nasib kaum marhaen di mana nasib kaum marhaen sekarang ditindas oleh sistem kapitalisme, feodalisme, imperaslisme dan oligarkhi yang menduduki kekuasaan.

Saya dikaderkan tahun 2017 oleh Dewan Pengurus Komisariat (DPK) STPMD‘‘APMD’’ GMNI di Cabang Yogyakarta sampai sekarang masih aktif berdiskusi dengan kawan-kawan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.

Sudah jelas GMNI memiliki asas adalah marhaenisme dan asas perjuangan untuk menyelamatkan nasib kaum marhaen dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat sehingga bisa mewujudkan cita-cita adalah keadilan dan kemakmuran.

Dalam mengembalikan marwah GMNI dalam perjuangan, supaya kader tetap konsisten dalam mempelopori pergerakan diberbagai persoalan yang menyangkut hajat kehidupan masyarakat sosial. Persoalan yang selalu terjadi seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, pengangguran, kesehatan dan pendidikan dan persoalan kemanusiaan lainya.

Ini sangat relevansi pemaparan yang disampaikan Mas Yos Soetiyoso selaku alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Yogyakarta di dalam ‘‘Indonesia Mengunggat lagi’’. Dengan mengatakan tiga aspek bahwa Indonesia telah mengalami gelombang globalisasi. Seperti pada fase pertama, dimulai pada saat pemerintah Hindia Belanda melalui VOC mengundang kapal-kapal dagang Eropa untuk datang ke Hindia Belanda.

Kebijakan kemudian dikenal sebagai politik pintu terbuka tersebut merupakan titik awal pengintegrasian Indonesia ke dalam perdagangan global.

Globalisasi fase pertama telah melahirkan kesadaran secara diakletis adanya hubungan sebab akibat antara kemelaratan dan kesengsaraan bangsa Indonesia dengan pengaruh kepentingan kolonialisme pada saat itu.  Salah satunya adalah soekarno yang kemudian hari melahirkan marhaenismenya sebagai ideologi GMNI.

Fase kedua dimulai pada saat rezim orde baru berkuasa, dimulai dengan lahirnya Undang-undang No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PAM). Kebijakan itu lebih telah mengkondisikan Indonesia sebagai lalu lintas yang bebas bagi barang, pasar modal dan tenaga kerja. Dan fase ketiga dimulai dan ditandai dengan gerakan reformis oleh mahasiswa.

Ketika melihat kenyataan itu, globalisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi kehidupan bangsa. Sangat berat sebuah kehidupan bangsa untuk menolak kemelaratan, lalu pertanyaan yang muncul mengenai hal apa yang semestinya dilakukan untuk menyikapi fenomena tersebut? hal apa yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam hal ini.

 Karena GMNI sebagai pilar kekuatan nasionalis dan sumber rekruitmen politik di masa depan. Jika menelisik marhaenisme yang menjadi ideologi perjuangan GMNI merupakan lawan tradisional dari kapitalisme, feodalisme, kolonialisme dan imperalisme. Dan menjadi nyawa setiap kader GMNI dalam pergerakan.

Kini lebih banyak melahirkan pertanyaan daripada solusi atas fenomena kemelaratan dan kesengsaraan yang terjadi. Kader GMNI yang memiliki jiwa nasionalis dan watak kerakyatan dapat proaktif dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia.

Seperti Ir Soekarno pernah mengatakan;

Jangan sekali lagi engkau terimah marhaenisme itu sekedar teori,

tidak Guide to action, dan engkau harus action

Engkau harus berjuang dan bertindak. saudara-saudara tujuannya sudah jelas, tujuan kita sudah jelas yaitu masyarakat adil dan makmur

Di dalam Indonesia merdeka yang merdeka betul. Indonesia merdeka berbentuk negara republik Indonesia, kesatuan berwilayah kekuasaan dari sabang sampai merauke.

Itu harus kita laksanakan dengan action, dengan action, dengan perbuatann,

Dengan amal masyarakat yang adil dan makmur, masyarakat sosialisme Indonesia, aku selalu Berkata tanpa exploitation del’homme parl’homme.

Pentingnya menjaga persatuan nasional dalam lingkup perjuangan, sehingga aktualisasi yang terencana tersebut menjadi satu gerakan nasional dan dilakukan secara masif oleh GMNI diseluruh Indonesia dengan sepenuh hati dan mengsampingkan ego dan kepentingan politik internal.

Menelisik pelaksanaan Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ke-XXI yang akan digelar di Ambon, pada 28 November mendatang. Saya mempunyai harapan besar dalam pembacaan GMNI terhadap situasi dan kondisi negara dan kebijakan pemerintah agar bersikap kritis

Dimana bangsa Indonesia sekarang sudah kehilangan arah perjuangan karena telah melupakan dan meninggalkan nilai-nilai pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara kesatuan republik Indonesia. Sehingga seluruh Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia mampu mengkaji, membahas dan merumuskan kembali peta jalan bangsa Indonesia agar terwujud cita-cita masyarakat.

Subtansial pancasila sebagai filosofi yang dipidatokan Bung Karno pada 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI melalui politik Trisakti adalah yakni berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian yang berbudayaan Indonesia.

GMNI dapat memposisikan diri sebagai pergerakan yang objektif dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat sosial. Dengan asas marhaenisme tetap dipegang dalam meneruskan perjuangan Ir Soekarno sebaga pelopor yang selalu mengecam penindasan manusia atas manusia dan eksploitasi bangsa atas bangsa.