Mahasiswa
1 tahun lalu · 94 view · 5 menit baca · Lingkungan 12339.jpg
Foto: c402277.ssl.cf1.rackcdn.com

Kembalikan Hutan untuk Orangutan

Garis Nasib yang Tak Sama

The Manlike Ape. Julukan yang diberikan pada satwa orangutan karena 96% susunan gen mereka yang mirip dengan manusia. Karena itu, bukan suatu kebetulan bila Charles Darwin dengan Teori Evolusinya mencetuskan bahwa manusia berasal dari kera. Meskipun sampai sekarang, teori itu masih menjadi misteri.

Mirip. Bukan berarti Sama. Kurang lebih, begitulah nasib orangutan jika dibandingkan dengan manusia, saudara jauhnya yang memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi. Nasib mereka tidak lebih beruntung dari manusia. Dan populasi mereka pun tidak lebih banyak dari manusia. Hemat saya, mereka ‘tertindas’. Tertindas oleh ketamakan segelintir manusia yang merambah habitat mereka demi memperkaya diri mereka sendiri.

Menurut data yang dipaparkan oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature), status spesies orangutan berada dalam daftar merah alias bahaya kritis (critivally endangered). Artinya, spesies orangutan berada di ambang kepunahan. Kabar buruk untuk anak cucu kita di masa depan. Tidak lama lagi, mereka hanya dapat menyaksikan jasad orangutan yang diawetkan di museum.

Setiap tahunnya, 1000 bayi satwa malang yang dilindungi ini ditangkap manusia. Pohon-pohon mereka ditebang untuk lahan konsesi industri sawit dan kertas. Tidak heran bila populasi satwa endemik Indonesia yang tersebar di Pulau Sumatera dan Kalimantan ini terus-menerus menurun drastis dan semakin langka di habitatnya.

Di Indonesia, orangutan secara resmi dilindungi oleh UU No. 5/1990. Perbuatan menangkap, membunuh, memelihara atau memperdagangkan orangutan termasuk dalam tindakan illegal. Meskipun demikian, semua bentuk pelanggaran itu masih terus berlanjut karena penegakan hukum yang belum memadai.

Populasi orangutan dalam 30 tahun terakhir ini terus-menerus menurun karena langkah untuk menghentikan laju kerusakan hutan sebagai habitat orangutan masih kurang efektif. Perlindungan orangutan di luar kawasan konservasi masih sangat rendah dan secara umum pengusahaan hutan (logging) belum memenuhi standar pengelolaan hutan yang baik.

Program reduce impact logging, high conservation value forest, ataupun restoring logged over land belum sepenuhnya diterapkan dalam pengusahaan hutan (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, 2006).

Kebanyakan manusia tidak tahu, bahwa secara biologis, orangutan memerlukan waktu yang lebih panjang untuk bertumbuh dewasa dan waktu yang lebih pendek untuk bereproduksi ketimbang hewan mamalia lainnya. Siklus menstruasi orangutan betina memakan waktu sekitar 29 hingga 32 hari (dalam jangka menstruasi, tiga sampai empat hari).

Selama masa reproduksi, orangutan pun hanya bisa melahirkan satu bayi dalam usia 8 atau 9 tahun dengan harapan hidup 50 hingga 60 tahun di alam liar. Sehingga, dalam periode tertentu, populasi orangutan sulit untuk melonjak tajam. Belum lagi, kondisi hutan Indonesia yang semakin tidak ramah. Hal ini pun semakin membuat orangutan sulit untuk bertahan hidup di alamnya.

Menunggu Mati di Hutan yang Terdegradasi

Hutan adalah jantung kehidupan orangutan. Hutan juga merupakan tempat bertumbuhnya berbagai jenis pohon. Baik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) maupun Sumatera (Pongo abelii), keduanya memiliki pola perilaku yang mirip lantaran kedua jenis kera ini merupakan jenis arboreal yang lebih banyak menghabiskan waktunya di atas pohon.

Beberapa peneliti menemukan bahwa spesies orangutan Sumatera lebih arboreal ketimbang spesies orangutan Kalimantan. Hal ini disebabkan karena faktor predator ganas yang terdapat di Sumatera, yaitu harimau (Panthera tigris Sumaterae).

Selain arboreal, orangutan juga termasuk dalam kategori hewan herbivora dikarenakan sebagian besar makanannya adalah tumbuhan, terutama buah-buahan. Dibandingkan dengan orangutan Kalimantan, orangutan Sumatera memiliki rata-rata persentase makan jenis buah yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan kondisi lahan hutan di Sumatera menyediakan sumber buah yang kaya dan berlimpah dibandingkan dengan Kalimantan.

Untuk urusan seks, orangutan juga butuh ruang di tengah-tengah belantara hutan. Seperti proses kopulasi orangutan di kawasan suaka Tanjung Puting. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Biruté Mary Galdikas, kopulasi orangutan disana ini selalu dilaksanakan di pohon dan dapat terjadi pada setiap saat; lebih kurang setengahnya berlangsung pada pagi hari dan separuhnya lagi pada waktu siang hari. Bila terjadi kopulasi, peristiwa itu mudah dilihat.

Lantas, apa jadinya jika hutan tempat orangutan tinggal ini beralih fungsi? Pertanyaan itu kurang lebih sama dengan, “Bagaimana jika rumah Anda digusur?”

Mungkin, Anda akan menjawab, “Saya akan mencari tempat baru untuk tinggal; atau protes bakar ban untuk menggagalkan aksi penggusuran.”

Bagaimana dengan orangutan? Mereka hanya bisa lari menyelamatkan diri ketika rumahnya dibakar atau ditebang satu-persatu. Yang lebih sedihnya, ketika mereka pulang ke ‘rumah asalnya’, mereka mendapati tempat itu kini telah berubah. Berubah menjadi tempat yang mengerikan. Seperti perkebunan kelapa sawit, misalnya.

Seperti yang telah kita ketahui, Indonesia adalah salah satu penghasil minyak kelapa sawit yang cukup besar. 85% produksi dan ekspor minyak kelapa sawit dunia berasal dari Indonesia dan tetangganya, Malaysia. Dan seperti yang kita ketahui juga, sejauh ini tidak ada yang salah dengan tanaman khas Afrika yang dapat tumbuh di iklim tropis ini, sejauh tanaman ini dapat memberikan keuntungan yang besar bagi negara kita. Lagi pula, tanaman itu boleh ditanam bebas di sini.

Artinya, wajar bila kita memanfaatkan tanaman penghasil minyak untuk meningkatkan taraf kehidupan kita. Namun, apakah kita pernah memikirkan nasib hutan orangutan yang akan kita babat untuk ditanami tunas kelapa sawit? Apakah kita pernah menyediakan ganti rugi atas hutan yang kita renggut dari mereka? Atau paling tidak, sebuah relokasi?

Menurut OFI (Orangutan Foundation International), diperkirakan, 1000-5000 orangutan terbunuh setiap tahunnya karena ekspansi kelapa sawit. Bahkan, populasinya dapat menurun sebanyak 50% pada waktu yang sama ketika penggunaan lahan bertambah dua kali lipat. Hingga sampai detik ini, orangutan telah kehilangan 90% habitat hutan hujan tropis mereka. Beberapa populasi liar di antaranya terisolasi secara genetik dan reproduksi.

Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, dikhawatirkan di masa mendatang akan menimbulkan inbreeding atau kawin antarkerabat dekat, yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas gen yang dimiliki orangutan, dan akibat lebih jauh adalah orangutan mudah terserang berbagai penyakit, tidak memiliki daya kebal terhadap lingkungan atau perubahan iklim, steril atau akibat lainnya dan akan berujung pada kepunahan jenis ini (Yeager, 1999).

Bagaimana dengan wacana ‘suistainable palm oil’ yang didukung dengan label/sertifikasi dari RSPO (Roundtable On Suistanable Palm Oil)? Faktanya, nyaris tidak ada kelapa sawit yang dapat tumbuh dengan tanpa menciderai lingkungan. Cadangan air bawah tanah bisa berkurang sehingga menyebabkan tanah menjadi kering dan pohon-pohon mati.

Kalaupun pohonnya hidup, pohon itu hanya menghasilkan sedikit buah untuk orangutan. Ditambah lagi, angka biodiversitas akan menurun drastis jika habitat hutan hujan tropis yang perawan sampai tersentuh oleh kelapa sawit. Dan yang lebih mirisnya lagi, ketika kita baru saja mulai untuk menyelamatkan orangutan, kita justru sudah 'terlanjur' menderita ketergantungan akut terhadap konsumsi produk kelapa sawit.

Coba Anda bayangkan, 10% dari benda-benda supermarket seperti shampoo, sabun, pasta gigi, deterjen, minyak goreng, biskuit, selai kacang, lotion, dan make-up yang Anda gunakan ternyata mengandung minyak kelapa sawit. Sisanya, bahan bakar seperti biosolar. Bukankah secara tidak langsung, Anda telah ikut berkontribusi dalam merusak habitat orangutan?

Kita mungkin boleh berdalih dengan melakukan berbagai aksi penyelamatan orangutan seperti konservasi, rehabilitasi, reintroduksi dan adopsi sementara hutan tempat mereka bermukim terus tergerus. Apakah langkah itu cukup menjanjikan? Saran saya, kembalikan hutan untuk orangutan. Tanpa hutan, mereka bukan siapa-siapa. Hanya sejenis spesies yang menunggu untuk terasing dan dipunahkan.