Suatu sore terjadi perdebatan cukup sengit di keluarga saya. Nenek melawan bapak. Terkait keinginan nenek untuk melanjutkan aktivitas bekerja beliau di pasar. Sedangkan bapak bersikeras meminta nenek berhenti bekerja. Mengingat sehari sebelumnya terjadi insiden kecelakaan ketika nenek bersepeda pulang dari pasar. Menyebabkan beliau mendapat luka memar di beberapa bagian tubuh.

Dasarnya sama-sama tidak mau mengalah, tak ada titik terang akhir perdebatan. Sampai akhirnya ibu saya menengahi. Memberi pilihan jalan keluar yang akhirnya disepakati semua pihak. Perdebatan pun berakhir. Hasilnya, nenek tetap boleh bekerja tapi harus mau diantar jemput ke pasar.

Pernah pula ketika saya dan beberapa kawan memutuskan membuat organisasi sosial bagi lansia. Kami terlebih dahulu membuat mini riset tentang persepsi anak muda terhadap keberadaan lansia. Beragam pertanyaan kami ajukan untuk mencoba menggali pemahaman mereka akan sosok lansia. Jawaban pun beragam, muncul berbagai perspektif mulai dari yang pesimis sampai optimis.

Salah satu poin hasil riset terkait pandangan mereka terhadap lansia yang bekerja. Menariknya, hanya separuh responden menyatakan kesetujuannya kepada lansia bekerja. Sisanya yang tidak setuju memberikan berbagai argumen terkait jawabannya. Mayoritas memandang sisi kesehatan lansia sebagai faktor utama. Mereka berpendapat bahwa sudah saatnya lansia beristirahat. Karena kerentanan akan kondisi fisik yang berkurang.

Dua contoh pandangan dari dua generasi tersebut mewakili bagaimana mereka memposisikan lansia. Persepsi bapak saya dan sebagian anak muda dalam penelitian tersebut adalah wajar. Suatu bentuk ekspresi kepedulian berdasarkan pemikiran personal. Tapi sayangnya melupakan atau bahkan tidak tahu akan keberadaan hak bagi lansia, termasuk hak bekerja.

Sama seperti generasi lain, lansia pun memiliki hak yang sama. Bahkan negara menjamin hak para lansia ini yang dituangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Dalam pasal 5 ayat 2 dijelaskan tentang perlindungan terhadap beberapa hak dasar lansia, termasuk hak untuk bekerja. Karena dalam ranah hak, maka keputusan bekerja atau tidaknya seorang lansia boleh diputuskannya sendiri. Sebagai bentuk eksistensinya sebagai manusia merdeka.

Sayangnya, seperti kebanyakan negara berkembang. Di Indonesia orang-orang memandang usia sebagai batasan untuk bisa berada di zona produktif. Lowongan bekerja di perusahaan semisal, batasan umur sangat diperhatikan. Harus tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Usia tua dipandang sebagai penurunan fisik yang akan berpengaruh pada tingkat produktifitas perusahaan.

Bandingkan dengan negara maju, semisal di Belanda tempat saya bermukim. Kesempatan bekerja bagia lansia terbuka lebar. Banyak lapangan pekerjaan untuk mereka. Bahkan di tempat saya bekerja sebagai kurir makanan. Meski mayoritas anak muda, ada beberapa lansia yang juga berprofesi kurir. Bahkan digaji paling tinggi di antara lainnya, sesuai kapasitas usia. Sangat jauh kondisinya dengan di Indonesia.

Banyak hambatan bagi lansia untuk tetap bisa bekerja di suatu perusahaan di Indonesia. Ketika menginjak usia lansia maka sudah dipandang perusahaan sebagai pekerja yang habis masa berlakunya. Seperti kasus yang menimpa beberapa pekerja lansia pada industri garmen di pinggiran ibukota. Banyak dari mereka dipaksa mengundurkan diri atau diberhentikan dari pekerjaannya.

Beragam modus dilakukan pihak perusahaan, seperti memindahkan para pekerja lansia ke bagian yang tidak penting. Cleaning service misalnya, yang nantinya akan menimbulkan efek malu bagi si lansia. Karena merasa dipindahkan ke bagian yang dianggap sepele. Belum lagi karena pindah ke jenis pekerjaan baru, maka kesalahan akan sering terjadi. Celah yang kerap dimanfaatkan perusahan untuk memberi surat peringatan. Sebagian besar nantinya berakhir ke pemberhentian kerja.

Pun ketika sudah terlempar dari tempat bekerja, maka kondisi menjadi rumit. Sangat susah kembali mendapatkan pekerjaan baru dengan kondisi usia mereka. Kembali lagi, syarat diterima dalam suatu pekerjaan masih berpedoman pada rentang usia produktif. Jauh di bawah batas awal usia lansia. Padahal satu sisi masih banyak lansia yang memang membutuhkan pekerjaan karena motif ekonomi. Apalagi dalam kondisi pandemi yang tidak menentu.

Seharusnya dalam menangani permasalahan lansia bekerja ini harus ada sinergi dan kesamaan pandangan dari berbagai pihak. Pemerintah dan pengusaha harus mampu melindungi pekerja yang memasuki masa lansia. Alih-alih dipensiunkan dini, harusnya ada upaya memfasilitasi lansia agar terus bisa berkontribusi. Belum lagi upaya untuk memperbaiki persepsi masyarakat akan keberadaan lansia bekerja.

Seperti yang dilakukan kawan-kawan muda di Jogja terhadap keberadaan buruh gendong perempuan di Pasar Beringharjo. Alih-alih menyuarakan pendapat untuk meminta mereka berhenti bekerja. Sebaliknya, kumpulan anak muda ini malah sepenuhnya mendukung buruh gendong perempuan yang mayoritas lansia ini untuk terus bekerja. Caranya adalah dengan menggalang donasi guna mendirikan dapur umum. Nantinya akan membantu penyediaan makan gratis bagi para buruh gendong perempuan.

Suatu contoh bagaimana kita bisa menghormati pilihan lansia untuk bekerja. Tidak kemudian melarang mereka untuk tetap bekerja. Tapi bagaimana bisa memfasilitasi kebutuhan mereka saat bekerja. Karena kita tidak tahu pasti, apa sebenarnya latar belakang mereka untuk tetap bekerja. Bisa jadi memang karena faktor ekonomi, sebagai satu-satunya pekerjaan yang masih bisa dijangkau para lansia perempuan ini. Atau mungkin pasar memang satu-satunya tempat yang membuat mereka nyaman. Di tengah begitu cepatnya perkembangan kota, pasar tradisional masih menjadi tempat yang ramah bagi mereka.

Peringatan Hari Buruh Internasional yang tepat di awal bulan Mei ini bisa menjadi momentum. Upaya mengubah nasib pekerja lansia perlu terus diperjuangkan. Ada baiknya dalam setiap poin tuntutan juga memperjuangkan nasib kelompok rentan. Termasuk golongan lansia.

Terlepas dari itu semua, kadang kala kebutuhan bekerja adalah semata-mata menambah relasi. Sama seperti yang dirasakan generasi lain. Sekadar bertemu orang lain, melakukan kontak langsung dan berkomunikasi. Atau siapa tahu di lingkungan kerjalah mereka akan menemukan jodohnya. Lumrah saja kan bagi mereka para lansia yang sendiri. Karena kembali lagi, menjalin asmara pun adalah hak bagi lansia. Usia hanyalah angka, sedangkan cinta adalah baka.

Adityo Nugroho. Pegiat isu lansia di Elederly Rights Advocacy and Treatments (ERAT) Indonesia.