"Wah, kamu keren banget sih, selamat ya!"

"Terima kasih ya sudah banyak membantuku dalam masa sulitku ini." 

"Besok aku mau traktir kalian kalau aku bisa juara."

Sering banget, kan, kita mengucapkan kata-kata itu kepada teman kita, seperti memberi selamat ketika mereka mendapatkan juara atau memberi mereka gift sebagai ucapan terima kasih kita kepadanya.

Kira-kira menurut kalian apakah kata-kata itu salah? Bahasanya salah? Tidak! Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kata-kata itu. Sangat bagus apabila kita mau untuk berterima kasih kepada orang lain karena pertolongan kecil apa pun yang telah diberikannya kepada kita atau memberikan gift kepadanya sebagai ucapan terima kasih kita.

Dalam perjalanan hidup, kita pasti membutuhkan orang lain dalam berbagai macam hal. Bahkan, sejak lahir pun kita sangat membutuhkan bantuan orang lain. Tidak hanya seorang bayi saja yang sangat membutuhkan orang lain, seperti ibu. Kita sekarang yang sudah dewasa bahkan tua juga sangat membutuhkan orang lain.

Semakin dewasa kita, pasti semakin banyak masalah yang kita hadapi dan semakin sering juga kita membutuhkan orang lain. Hal yang biasanya orang lakukan adalah sambat atau mengeluh kepada orang lain atas masalah yang dialami, entah masalah kecil hingga masalah besar. Kemudian sering juga curhat tentang masalah percintaan, sekolah, atau hal apapun.

Tahu nggak sih? Di umur 20-30an tahun sering juga terjadi yang namanya Quarter Life Crisis atau fase pencarian jati diri, yaitu masa ketika kita, seorang individu mulai merasa ragu/insecure (nggak yakin), dan akhirnya hilang arah terhadap masa depan. Biasanya mengenai karir, finansial, dan relationship. 

Sebenarnya tanpa kita sadari terkadang kita mengalami bagian dari Quarter Life Crisis yang disebut “Overwhelmed by Choice”, yaitu menjadi kebingungan karena banyaknya pilihan dalam kehidupan yang sekarang, seperti pilihan mau lanjut kuliah dimana, kerja dimana, dan banyak pilihan lainnya yang terlihat menggoda.

Banyak juga pemikiran dari kita untuk bisa menyenangkan semua orang yang terkadang kita terpaksa melakukan itu, sehingga ini membuat kita merasa tidak bisa melakukan apa yang seharusnya kita lakukan untuk mencapai hidup yang benar-benar kita inginkan. Inilah yang membuat kita terombang-ambing antara hal yang kita inginkan.

Hal-hal yang sebenarnya juga malah membuat toxic dan merasa insecure adalah sosial media, misalnya instagram. Di instagram, kita melihat teman-teman kita kulitnya putih, body goals, selalu jalan-jalan keluar negeri, atau bekerja di tempat yang ternama. Lalu kita merasa hanya remahan rengginang, menjadi insecure, dan sebagainya.

Jelas banget itu salah dan malah merugikan diri kita sendiri, kita tidak tahu real life mereka seperti apa karena kita hanya melihat sosial media yang tampak indahnya saja. Pernah nggak sih kalian berpikir kalau nggak mungkin juga mereka meng-upload foto mereka yang jelek? Pasti mereka memilih foto yang terbaik.

Dari hal-hal tersebut kita malah menjadi tertekan dan berpikir, ”Nanti gimana kata orang lain?” Kalau kita begitu terus, lama-lama kita akan capek dan muak sendiri, lalu malah menyalahkan diri sendiri, mengutuki diri sendiri, bahkan memandang diri kita tidak berguna hingga sampai pada frustasi dan depresi.

Jelas hal itu adalah salah, seharusnya kalau kita bisa mengucapkan terima kasih sekecil apa pun kepada orang lain, mengapa kita tidak bisa atau bahkan lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri? Tidak ada orang yang bisa kita andalkan selain diri kita sendiri karena suatu saat orang pasti akan berubah karena berbagai faktor hidup yang dialaminya.

Kita sering melupakan diri kita dan malah membanding-bandingkan diri kita terhadap kelebihan orang lain. Kita lupa untuk mengapresiasi hal kecil yang telah kita lakukan, segala kerja keras, dan usaha atas impian-impian kita. Coba katakan ini sambil menyilangkan tangan kita di depan dada dan menepuk-nepuknya, “Terima kasih diriku, kamu hebat, kamu kuat.”

Di drama Korea yang berjudul ’It’s Okay to Not Be Okay’, metode ini sering disebut Butterfly Hug atau pelukan kupu-kupu, yaitu metode yang bisa dilakukan untuk menstabilkan emosi dan pikiran negatif. Caranya dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menepuk-nepuk pundak seperti kepakan kupu-kupu.

Atau bisa juga katakan ini sambil bercermin, “Aku sayang diriku.” Selain itu jangan lupa mengapresiasi diri setelah berjuang dan merasa lelah, misalnya dengan hal sederhana, yaitu membeli makanan yang disukai, berlibur bersama teman, atau melakukan hobi. Kita sangat butuh hal-hal kecil itu untuk diri kita, tetapi sering banget kita lupakan.

Coba ingat lirik lagu Hindia dan Ran yang berjudul “Si Lemah” berikut:

Tarik nafas yang dalam
Dan dengarkan ini
Apa pun yang kau idap atau menghantui
Bukan halanganmu untuk kalahkan hari
Kamu berarti (kamu berarti)

Wah, menyentuh banget, kan? Apa saja yang membuat kita down, insecure, dan merasa diri tidak berguna, ingat bahwa diri kita itu sangat berarti dan jika memang diri kita berbeda dengan yang lain jangan membenci diri kita, tetapi buatlah semesta menerima diri kita apa adanya karena dalam keadaan apapun hanya diri kita yang bisa kita andalkan untuk selalu kuat hari esok.

Nikmati dan jalani waktu yang ada, tarik nafas yang panjang dan jangan lupa untuk berterima kasih kepada diri sendiri atas pencapaian hingga saat ini. Selalu apresiasi juga untuk semua perjuangan yang sudah dilewati. Esok pasti lebih baik, terlebih untuk hatimu. Mari bergandengan tangan bersama. Kita pasti bisa melaluinya! Cheers!