Pandemi Covid-19 yang ngeri ini sedang sangat menggila dan ganasnya menyerang Indonesia. Membikin Indonesia yang telah suram menjadi tambah suram, suram, suram. 

Ah, jahat sekali Covid-19 ini. Situasi yang membikin ekonomi dan sosial bergerak dalam kebimbangan, dan gamang sejadi-jadinya.

Covid-19 yang jahat ini tidak hanya membikin Indonesia tambah suram, namun juga membuat kita bergerak dalam ketidakpastian, seperti dia yang tak kunjung memberi kejelasan pada hubungan kalian (yang ini tidak).

Bencana kesehatan ini juga membuat ketakutan dan kecemasan acap kali bersarang dalam diri. Namun takut dan cemas juga ada baiknya—tentu dengan porsi yang pas—supaya kita tetap waswas, dan tidak menganggap remeh pandemi ini.

Di saat kondisi seperti ini, kita diharuskan untuk melakukan segala kegiatan dari rumah—walau tak semua mempunyai rumah. Mulai dari bekerja dari rumah (tidak untuk para pekerja dengan penghasilan harian); belajar dari rumah; ibadah di rumah, dan seterusnya dan seterusnya.

Per 18 April 2020 tercatat sudah 6,248 kasus positif, dan 535 kematian. Dari hari ke hari, total kasus positif dan kematian akibat Covid-19 di Indonesia terus melonjak naik. Hal tersebut tidak terlepas akibat pengabaian anjuran untuk mengurangi bahkan menghindari keramaian, serta untuk tetap di rumah saja, demi memutus penyebaran pandemi covid-19 ini—tentu, terlepas dari kondisi ketimpangan sosial.

Kini, menyepi sejenak dari keramaian adalah kebaikan bagi kita semua. Kita telah melakukan ‘ibadah’, dan telah teramat sangat berkontribusi terhadap kemanusiaan. Hitung-hitung menolong negara dari kita yang ‘padi hampa’ ini.

Dengan tetap di rumah memberi kita kesempatan untuk ‘bernapas’ dari hiruk-pikuk kesibukan yang teramat sangat. Menuntut kita untuk sejenak menurunkan ego liar kita, serta memberi kita kesempatan melakukan kegiatan-kegiatan di rumah yang (mungkin) terlupakan dan dicuri oleh ambisi-ambisi gila kita. 

Ambisi-ambisi yang membikin lupa akan diri sendiri dan keluarga. Ambisi-ambisi yang membikin lupa jalan ‘pulang’.

Pertama-tama, luangkan waktu berdiri di depan cermin. Menatap-melihat diri, mungkin saja kita sudah lupa dengan bentuk tubuh serta wajah. Dan memeriksa bagian-bagian tubuh, apakah masih lengkap atau tidak. 

Juga berbincang-bincang dengan diri sendiri. Mungkin saja kita telah lupa atau dibikin tidak peduli pada diri sendiri oleh ambisi-ambisi yang amat menggila.

Berada di rumah saja tidak hanya rebahan dan berleha-leha saja. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan saat di rumah. Memanfaatkan waktu dan energi untuk hal-hal baik nan keren dan asyik. Melakukan kegiatan yang selama ini ‘dirampok’ oleh kesibukan. Juga mencoba melakukan hal-hal baru.

Saat ini, hari-hari selalu ‘ditemani’ berita mengenai perkembangan situasi Covid-19, termasuk berita bohong (hoaks) yang berseliweran di media sosial, seperti di WhatsApp Group (WAG) keluarga yang sering kali terpapar berita-berita hoaks. 

Melihat hal tersebut, kita— khususnya para milenial—bisa mengisi waktu dengan membantu menangkal penyebaran hoaks di WAG keluarga. Dan membagikan informasi-informasi valid  kepada sesama melalui media sosial. Setidaknya, kita menjadi agen informasi.

Keadaan yang tidak nyaman ini, jangan menjadi halangan untuk tetap produktif dan makin kreatif. Kita mempunyai waktu untuk membaca dan menyelesaikan bacaan-bacaan yang terlupakan. 

Atau menonton film yang acap kali terjeda oleh kesibukan. Dan tetap berkarya sembari mengekspresikan diri dengan berbagai hal baru. Juga berkolaborasi dan melakukan aktivitas bersama-sama secara daring.

Dengan tetap #dirumahaja, sempatkan untuk memungut kenangan-kenangan yang berserakan di tiap ruang-ruang rumah, pada sudut-sudut rumah. Merapikan kamar yang berantakan, sambil melepas kangen dengan mendengar lagu-lagu yang kita suka. Atau berbagi kabar dengan orang-orang yang di sayang. Waktu yang selama ini terselap hiruk pikuk kesibukan.

Namun, yang teramat penting dari segala macam kegiatan yang dilakukan saat #dirumahaja adalah kegiatan dan waktu untuk keluarga. meluangkan waktu dengan sekedar bercerita, menanyakan kabar keluarga yang jauh, atau membuka kembali album-album foto lama, album-album yang membikin senang-haru-kangen sendiri.

Sederhana bukan? Hal-hal yang tidak membutuhkan banyak biaya. Hal-hal sederhana yang selama ini terlupakan-terpinggirkan karena ambisi-ambisi yang amat sangat menggila, oleh bunyi klakson yang dikejar waktu sepanjang jalan, akibat tumpukan-tumpukan kertas, dan...

Beda orang, beda pula keadaan, dan beda pula kegiatan yang dilakukan. Dan tentu  masih banyak kegiatan-kegiatan lain untuk menemani diri di rumah. Asalkan jangan melakukan kegiatan yang melemahkan imun tubuh, seperti meratapi kekasih yang telah berpaling hati, misalnya...

Tampaknya, tidak ada alasan untuk bosan dan sepi saat di rumah saja. Mungkin mereka yang merasa bosan dan sepi adalah mereka yang tidak memanfaatkan kesempatan dan waktu sebaik-baiknya. Padahal banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan. 

Jangan sampai kebosanan dan kesepian lebih ‘membunuh’ dari pada pandemi Covid-19 ini.

Terakhir, jika setelah pandemi ini selesai, dan kita masih begitu-begitu saja; tanpa pengetahuan baru, kepandaian baru, serta hal-hal baik lainnya. Maka selama ini kita bukan tidak memiliki kesempatan dan waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang asyik dan keren. Namun kita hanya tidak menghargai kesempatan dan waktu.

Omong-omong, Covid-19 kurang ajar sekali, ya. Semoga keadaan lekas membaik, dan rindu lekas terobati.