1 bulan lalu · 103 view · 3 min baca menit baca · Politik 56593_67372.jpg
pinterest

Kembali ke Persatuan Indonesia Setelah Pemilu

Tanggal 22 Mei lalu, pengumuman presiden terpilih Indonesia telah diumumkan. Ada pihak yang pro, ada juga yang kontra. Tak terkecuali teman-teman saya yang sekarang juga sudah mulai ikut-ikutan berkomentar dan menunjukan antusiasme pada dunia politik. 

Pemilu kemarin, merupakan pemilu presiden pertama yang saya ikuti, instatory saya juga dipenuhi oleh teman-teman saya yang memamerkan jari kelingking berwarna ungu. Instagram, twitter, facebook dan berbagai media lainya baik online maupun media cetak juga sangat ramai dengan perbincangan politik.

Suasana politik juga masih terasa hingga saat ini, dan masyarakat juga diharapakan tidak terpengaruh oleh banyaknya berita hoax yang beredar.  Jujur saja, awalnya saya masih bingung untuk menentukan pilihan, karena semua paslon baik 01 maupun 02 mempunyai keunggulannya masing-masing. Orang tua saya sangat pro ke paslon 02. Sementara teman dekat saya pro ke 01. Baik orang tua, maupun teman saya selalu mengingatkan untuk memilih paslon jagoannya.

Ya, saya masih bingung karena setelah saya menonton beberapa debat capres dan cawapres, baik Jokowi-Amin maupun Prabowo-Sandi mempunyai visi dan misi yang mengesankan untuk memajukan negara Indonesia. Mereka sama-sama sosok yang hebat dan meyakinkan untuk memimpin Indonesia. 

Jokowi, merupakan seorang peserta pemilu yang selalu terpilih yang mempunyai pengalaman menjadi walikota Solo tahun 2005 dan 2010, juga menjadi gubernur DKI Jakarta, serta tentunya menjadi Presiden terpilih RI tahun 2014. Sementara Ma'aruf Amin merupakan seorang ulama yang disegani oleh banyak masyarakat terutama umat Muslim dan terlebih lagi golongan NU. 


Adapun Prabowo, merupakan seorang perwira tinggi militer Indonesia, Ia menempuh pendidikan dan jenjang karier militer selama 28 tahun sebelum berkecimpung dalam dunia bisnis dan politik. Sementara Sandiaga merupakan seorang pengusaha yang sukses, dan ia sebelumnya juga terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta bersama Anies Baswedan. Terlebih lagi ia mempunyai paras yang tampan yang memikat hati ‘emak-emak’dan kaum perempuan lainnya.

Fitnah, hate speech, hingga berita hoax kian merebak menjelang dekatnya pemilihan umum. Terlebih lagi, munculnya film dokumenter sexy killers yang katanya membuat orang yang telah menonton nya ingin menjadi golput. Ya, tidak sepenuhnya film itu salah sih, melalui film itu penonton jadi tau, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan implementasi sila ke 5 pancasila itu.  

Indonesia memang luas, tetapi pemerintah harus tetap berusaha mengupayakan pemerataan di setiap daerah di Indonesia khususnya daerah-daerah yang terpencil. Dan pemerintah juga harus segera memberantas oknum-oknum yang memakan uang rakyat yang seharusnya di distribusikan untuk pembangunan daerah. 

Tidak heran, memang korupsi merupakan salah satu masalah besar yang menjadi PR untuk calon presiden berikutnya dan calon presiden seterusnya. Hampir semua caleg, cagub, maupun capres memberikan janji untuk memberantas korupsi di kursi pemerintahan, dan kita bisa menilai sendiri kinerja siapa yang paling baik dalam meberantas korupsi.

Kembali lagi ke fanatisme paslon, jujur saja saya sedih melihat anggota keluarga saya berselisih, beberapa teman saya tidak tegur sapa lagi hanya karena berbeda pilihan. Menurut saya, sah-sah saja jika ingin menggunggulkan paslon jagoannya, memposting segala prestasi dan keunggulan paslon jagoannya,  ataupun menunjukan eksistensi dirinya sebagai pendukung sejati paslon tersebut. Toh, itu juga merupakan salah satu bentuk hak kita sebagai warga negara untuk berdemokrasi dan menyuarakan pendapat kita.

Tetapi jangan sekali-kali melupakan kalau kita adalah satu bangsa, bangsa Indonesia. Para pendahulu kita, leluhur kita yang dulu bersatu dan berjuang dengan penuh tumpah darah untuk melawan penjajah, sementara para penerus bangsa mereka kini berselisih melawan bangsanya sendiri. Apakah kita tidak malu, lupa dengan perjuangan para pahlawan kita dulu, dan merasa paling benar sendiri?.

Boleh saja mengkritisi Jokowi-Amin, maupun Prabowo-Sandi. Toh, semua manusia juga pasti memiliki kekurangan dan perlu ada saran atau masukan untuk memperbaiki kesalahnnya. Karena tanpa kritikan, kita tidak akan bisa maju dan berkembang dan tidak tahu mana yang benar atau salah, serta merasa benar atas segala perbuatan yang telah dilakukan. Kritikan yang baik dapat memotivasi seseorang untuk berbuat lebih baik lagi kedepannya.


Tetapi yang harus diperhatikan adalah jangan berkomentar atau berbicara yang dapat memprovokasi, sehingga dapat menyebabkan pertikaian antar sesama. Gunakanlah bahasa yang baik dan sopan, berikan alasan yang logis jika mengkritik jangan berikan alasan fitnah atau asal-asalan karena emosi. Sampaikan kritik di tempat dan waktu yang tepat, siap menerima segala saran dan masukan dan berani mengakui kesalahan.

Maka dari itu, setelah pengumuman pemilu, marilah kita terima dengan lapang dada keputusan KPU, dan bersama-sama kita membangun bangsa. Marilah kita merajut kembali silaturahmi yang telah terputus sebelumnya. Kembali bertegur sapa dengan kawan, kembali tertawa bersama dan membicarakan persatuan Indonesia, bukan lagi membicarakan 01 atau 02, tapi marilah kita membicarakan 03 yaitu persatuan Indonesia.

Artikel Terkait