Indonesia sebagai sebuah Negara agraris saat ini sedang berada pada fase bonus demografi, berdasarkan data Hasil Sensus Penduduk Tahun 2020 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 270,20 Juta jiwa. Dimana sebanyak 27,94 % merupakan generasi Z yaitu mereka yang lahir pada tahun 1997-2012, serta 25,87 % generasi milenial, yaitu mereka yang lahir pada tahun 1981-1996.

Bahkan berdasarkan rilis data BPS, terlihat bahwa Indonesia saat sekarang memiliki usia produktif yang sangat besar, mencapai 70,72 %. Inilah yang dimaksud dengan bonus demografi, dimana angka usia produktif sangat tinggi, yang jika di manfaatkan secara maksimal maka bonus demografi tersebut akan menjadi pemicu bagi bertumbuhnya akselerasi ekonomi masyarakat.

Bonus demografi ini seperti pedang bermata dua, bisa sangat menguntungkan namun pada saat yang sama akan dapat sangat merugikan, semua sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia serta komitmen yang kuat dari Negara untuk menyusun rencana strategis dan aksi optimalisasi bonus demografi tersebut.

Lalu bagaimana sebaiknya menghadapi bonus demografi agar tidak menjadi masalah dikemudian hari, yang salah satunya mengatasi meningkatnya angka pengganguran di kalangan pemuda.

Cerita dari Pelosok Kalimantan Timur

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan menyampaikan cerita 2 orang pemuda yang berasal dari Kaliorang sebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Sekerat Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur.

Zainal dan Cucun nama ke 2 pemuda tersebut, dalam urusan mengenyam pendidikan mereka sama-sama berasal dari perguruan tinggi pertanian yang sama, bahkan ketika masih mahasiswa mereka sama-sama aktif berorganisasi, Zainal aktif ber-HMI sementara Cucun bahkan merupakan mantan Ketua DPC GMNI di Kota tempatnya menempuh pendidikan.

Tidak seperti kebanyakan ex. Aktivis yang kerap enggan pulang ke kampung, karena tergiur oleh gemerlapnya kehidupan kota hingga akhirnya lupa jalan pulang, ke 2 pemuda tersebut justru mengambil jalan sunyi, untuk pulang membangun Desa yang menghidupi mereka selama ini.

Keduanya memilih jalan masing-masing dalam laku hidup di desa, berbekal pengalaman organisasi, jaringan dan tekad yang kuat serta kesamaan untuk bergerak bermanfaat di kampung halaman, ketimbang harus menjadi beban hidup dikota.

Zainal mengambil jalan menjadi pejuang pangan, petani milenial, dengan mengusahakan berbagai produk pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan pendekatan mekanisasi pertanian, sementara Cucun menjadi Kepala Desa dengan segudang harapan masyarakat yang dibebankan kepadanya untuk membangun kampung halamannya menjadi desa yang maju dan mandiri. Dan keduanya adalah Pemuda.

Dari 2 cerita tersebut, terlihat bagaimana bonus demografi dapat berkontribusi bagi pembangunan desa. Sebagai Negara yang kaya sumber daya alam dan sebagian besar penduduknya berada di pedesaan, Indonesia justru sangat membutuhkan banyak pemuda untuk pulang membangun desa. Sikap pemuda yang merupakan sosok dinamis, kreatif dan idealis bisa menjadi modal dasar pembangunan.

Pemuda Membangun Desa

Setelah kurang lebih setahun Pandemi Covid 19 menjangkiti dunia, terlihat banyak pemuda yang akhirnya pulang ke desa, hal ini terjadi sebagai dampak pemutusan hubungan kerja ditempat mereka selama ini menggantungkan hidup.

Bonus demografi yang menumpuk di desa ini perlu untuk segera diantisipasi, dengan harapan tidak menjadi beban lagi di Desa, Pemerintah dari pusat sampai ke desa diharapkan dapat berkolaborasi menyusun rencana aksi bagi pemuda di Desa.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dapat menerima manfaat bagi tingginya angka usia produktif di desa. 

Yaitu Sumber Daya Manusia

Pemerintah perlu memastikan agar pemuda yang berada di desa dibekali dengan berbagai macam pengetahuan dan peningkatan keahlian, yang diharapkan dapat mendukung pada bertumbuhnya ekonomi yang berkelanjutan.

Ekonomi berkelanjutan yang dimaksud dapat berupa mengembangkan produk-produk ketahanan pangan yang dapat diusahakan untuk mendorong desa mandiri pangan atau bahkan juga dapat memenuhi kebutuhan pangan di kota, dimana pangan orang kota saat ini sangat bergantung pada pasokan pangan dari petani atau nelayan di desa.

Yang kedua, Pemetaan Potensi Desa

Pemetaan ini berfungsi untuk mengidentifikasi sumberdaya alam, profil pemberdayaan masyarakat, dan permasalahan yang tersebar di wilayah desa. Yang bisa menjadi acuan menyusun rencana kerja bagi seluruh entitas masyarakat untuk membangun desa termasuk pemuda.

Terakhir Kelembagaan Sistem Sosial di Desa

Pembangunan di Desa tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah desa ansich, perlu optimalisasi peran kelembagaan sosial, kelembagaan tersebut diharapakan menjadi bagian penting bagi proses demokrasi di desa.

Melalui kelembagaan ini masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan, melalui sistem kelembagaan sosial ini pula pemuda perlu diberikan porsi untuk dapat ikut berkontribusi bagi pembangunan di desa.

Keunggulan demografi yang dimiliki Indonesia saat ini perlu untuk dimaksimalkan secara serius, dibutuhkan peta jalan yang jelas, terstruktur dan terukur untuk memastikan bahwa bonus demografi tersebut justru tidak akan malah menjadi persoalan di kemudian hari.

Pondasinya adalah penguatan sumberdaya manusia bagi pemuda, akses kepada modal dan berbagai insentif lainnya yang bisa dimanfaatkan pemuda untuk terlibat aktif membangun desa.

Indonesia seharusnya belajar dari salah urus tata kelola bonus demografi yang telah dilakukan berbagai Negara di dunia, jika tidak ingin jatuh pada kegagalan yang sama.

Ayo pemuda pulang ke desa.