Upacara kematian selalu membosankan. Pakaian-pakaian dengan warna seragam: hitam atau warna dengan gradasi gelap. Musik yang serupa, diambil dari kitab-kitab suci yang diperdengarkan dari awal hingga akhir upacara, untuk membumbui kesyahduan para pelayat. 

Karangan bunga warna-warni yang dipajang di depan rumah, kursi-kursi warna merah atau hijau toska atau biru yang berjejer beraturan, makanan dan air mineral yang selalu hambar rasanya. Obrolan yang tak jauh-jauh dari pernyataan bela sungkawa, perasaan menyesal, ungkapan kekagetan, atau sedikit pujian tentang betapa baiknya manusia yang meninggal itu ketika hidup. 

Tapi yang paling membosankan adalah ritual-ritualnya. Mereka memanjatkan doa-doa yang tak mereka mengerti, gerakan-gerakan yang tidak paham tujuannya untuk apa. Mereka hanya melakukan saja, secara mekanik, seolah sudah terprogram di otak mereka. 

Katanya, jika tidak melakukannya, mereka akan menghadapi kutukan dari leluhur mereka, atau hukuman dari dewa-dewa yang mengawasi dari gunung, pohon, dan lautan, atau dosa dari zat yang tidak memiliki tempat atau zat yang berada di sebuah singgasana di langit ketujuh. 

Mungkin, beberapa manusia menyebutnya ketaatan, tapi sebenarnya bukan. Itu semua hanya ketakutan.  

Upacara kematian selalu merepotkan. Hampir semua yang datang berusaha memasang raut muka mengerut, wajah mereka dibuat sesedih-sedihnya. Diantaranya ingin menunjukkan gestur tubuh berempati, ada yang berhasil terlihat alami, sisanya gagal. 

Beberapa pelayat memaksa air mata mereka menetes, tak tahu pasti tujuannya, mungkin ingin menunjukkan ke khalayak kalau dirinya adalah manusia dengan hati yang tidak keras. Tangisan-tangisan agak keras kerap menggema, biasanya dari keluarga paling dekat manusia yang meninggal. 

Kata manusia pada umumnya itu adalah ekspresi kesedihan karna tidak akan menemui manusia yang meninggal selamanya. Kesedihan karna kehilangan adalah manifestasi cinta dan kasih sayang. Kadang aku percaya, tapi lebih banyak tidak. 

Mereka menangis bukan karna cinta atau kasih sayang. Mereka menangis karena kerapuhan diri mereka sendiri, mereka gentar menghadapi sepi, sunyi, dan suasana yang tiba-tiba menjadi kosong setelah keramaian bertahun-tahun. 

Mungkin, beberapa manusia menyebutnya cinta, tapi sebenarnya bukan. Itu semua hanya ketakutan.

4,5 miliar usia bumi dan kemunculan Homo sapiens pertama sekitar 150-300 ribu tahun yang lalu, sejak kapan upacara kematian menjadi begitu sentimentil bagi manusia? 

Dugaanku, setelah manusia bisa menggunakan api. Pemanfaatan api untuk mengolah makanan adalah batu loncatan evolusi manusia dan mungkin salah satu hal yang sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif otak manusia. Kenapa bisa begitu? 

Sebelum manusia memanfaatkan api terutama untuk mengolah bahan makanan, manusia harus menghabiskan waktu hampir seharian hanya untuk mengunyah daging dan tidak memungkinkan untuk memakan beberapa bahan makanan (karena sifat kimiawi dan biologisnya). 

Setelah manusia mengenal api dan sadar bahwa api bisa membuat daging lebih mudah dikoyak dan dikunyah, manusia menghemat waktu berjam-jam untuk mendapatkan asupan proteinnya dari daging. Bahan makanan lain, yang semula tidak bisa dimakan manusia dalam bentuk alaminya, seperti padi, gandum, kentang, dengan api bahan makanan tersebut dapat dikonsumsi. 

Lalu, apa yang dilakukan manusia di waktu luangnya? Aku membayangkan, mereka membuat api unggun lalu duduk melingkar atau tidak beraturan dan setelah lama melakukan itu, mereka mulai memberi isyarat-isyarat menggunakan suaranya, ekspresi wajahnya, gerakan-gerakan anggota tubuhnya. Semua itu dilakukan untuk menyampaikan dan mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan seorang manusia kepada manusia lainnya. 

Lama-kelamaan, mereka membuat semacam permufakatan bersama tentang nama-nama hewan, tumbuhan, benda, dan diri mereka sendiri. Manusia melahirkan bahasa. Waktu berjalan, dan waktu adalah denyut nadi evolusi. Bersama waktu, kecerdasan -melalui gen- memungkinkan untuk dialirkan ke generasi berikutnya. 

Bahasa semakin berkembang, lebih rumit dan kompleks. Bahasa tidak hanya berfungsi untuk menamai benda-benda, tetapi juga berperan sebagai alat ungkap imajinasi. Komunikasi bukan lagi satu arah, tidak lagi tanpa substansi, ia hadir dalam dialog-dialog di lingkungan manusia zaman itu. Manusia membicarakan apapun, juga mempertanyakan segalanya. Akibatnya, dua pertanyaan paling tua sepanjang sejarah peradaban umat manusia muncul. “Dari mana asal kita?” dan “Kemana kita akan pergi?”.

Dua pertanyaan itu begitu menghantui. Dialog sehari-hari hampir selalu diselipi dengan diskusi tentang dua pertanyaan itu, selain pembicaraan mengenai perburuan hewan, ancaman hewan buas, ketersediaan sumber air, dan hal-hal yang terkait kelangsungan hidup spesies ini. Tentu, jawabannya beragam dan bersifat spekulatif. Namun, manusia benci keragaman. 

Beberapa manusia yang lebih tua atau lebih kuat menyusun konsensus dengan imajinasi yang bersumber dari tangkapan indranya. Mereka membuat kisah tentang dewa-dewa maha segalanya yang bersemayam di pohon besar, di dalam hewan yang dianggap suci, di sambaran petir, di tingginya langit, pada hangatnya sinar matahari, dan seterusnya, sesuai dengan teritori manusia tersebut. 

Setelahnya, untuk memberi jawaban yang lebih jelas, mereka membuat kisah-kisah penciptaan (tentang asal muasal manusia dan alam semesta), lalu kisah kematian (tentang kehidupan setelah kematian). Manusia menciptakan fiksi paling tua: Tuhan dan agama.

Dalam agama-agama (terutama agama samawi), secara umum, kisah penciptaan manusia selalu diikuti dengan tujuan suci, dan alam semesta khusus diciptakan agar manusia dapat melaksanakan tujuan suci tersebut. Tangan kanan kekuasaan Tuhan di dunia, menjadi rahmat bagi semesta alam, mengalahkan kejahatan dan keburukan, menerapkan hukum Tuhan di dunia, dan seterusnya. 

Agama membuat manusia berpikir dirinya istimewa. Maka dari itu, kematiannya menjadi sesuatu yang “penting”. Manusia lahir ke dunia karena takdir Tuhan untuk melaksanakan segala perintah Tuhan dan mati untuk bertemu kembali Tuhan untuk menerima keputusan Tuhan. 

Karenanya, pada kematian tiap manusia yang percaya Tuhan harus diiringi dengan upacara dan ritual, demi keselamatannya mengarungi kehidupan setelah kematian, juga sebagai bentuk kepasrahan terakhir seorang manusia yang akan menghadap penciptanya. Bukankah di sana manusia gelisah menunggu keputusan Hakim? Dihukum selamanya dalam neraka yang panas atau dipersilakan masuk ke surga yang sejuk? 

Tapi, sebentar, benarkah demikian?

Upacara kematian memang membosankan dan merepotkan. Mungkin, juga menyeramkan. Tapi, sungguh, sebenarnya, kematian selalu menyenangkan. Kematian adalah jalan satu-satunya terlepas dari rantai-rantai belenggu hidup. Ia adalah pembuka sangkar, pelepas menuju lega dan lengang, setelah kesesakan yang bahkan tak seorang pun memintanya. 

Ia adalah mata air bagi dahaga karena kemarau yang tidak habis-habis.  Ia adalah penyembuh luka dalam yang bahkan, Tuhan pun tak mampu -atau enggan?- menyembuhkan. “Death was a benignant angel, not a phantom full of dread. Kematian adalah malaikat yang ramah, bukan setan yang mengerikan.”, tulis Louisa May Alcott dalam novelnya, Little Women

Kematian selalu menyenangkan, dan kita semestinya tak berduka. Tapi, ada yang lebih menyenangkan dari kematian. Apa itu? Tak pernah merasakan kematian. Artinya? Iya, benar, tidak pernah dilahirkan.